Sabtu, 21 September 2019


Pemkot Siapkan Teleskop di Festival Kulminasi

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 341
Pemkot Siapkan Teleskop di Festival Kulminasi

TELUR BERDIRI - Salah satu cara untuk melihat Hari Tanpa Bayangan dalam agenda Titik Kulminasi di Tugu Khatulistiwa Pontianak adalah dengan telur berdiri. (SP/Balasa)

PONTIANAK, SP - Pemerintah Kota Pontianak, melalui Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Pontianak, akan menyiapkan dua teleskop luar angkasa untuk para pengunjung dalam mengamati peristiwa Kulminasi, 21-23 September 2018.

"Tahun ini, para tamu dan wisatawan, baik lokal, nasional serta mancanegara akan kami sediakan dua teleskop untuk menyaksikan peristiawa alam, berupa titik kulminasi matahari di kawasan Tugu Khatulistiwa Pontianak, 21-23 September mendatang," kata Kepala Seksi (Kasi) Promosi dan Pariwisata, Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Pontianak, Hendra Fellani di Pontianak, Selasa (24/7).

Selain menyiapkan teleskop luar angkasa tersebut, pihaknya juga akan menghibur para pengunjung dengan berbagai atraksi kesenian dan budaya masyarakat Kota Pontianak dan Kalbar umumnya. 

"Sehingga nantinya, masyarakat tidak hanya dihibur seperti sebelum-sebelumnya, seperti menegakkan telur ayam, menancapkan kayu yang menjadi tanpa bayang dan lainnya," kata Hendra.

Dalam kesempatan itu, dia mengajak semua lapisan masyarakat agar ikut turut serta dalam memeriahkan peristiwa kulminasi tersebut, sehingga lebih menarik lagi untuk dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Pontianak.

Sebelumnya, tahun lalu, pihaknya juga menghadirkan Planetarium Mini, guna memberikan edukasi bagi setiap pengunjung dalam menyaksikan peristiwa kulminasi matahari di Tugu Khatulistiwa Pontianak.

Hendra menambahkan, ada peristiwa unik yang hanya bisa disaksikan di Tugu Khatulistiwa Pontianak, yakni peristiwa kulminasi matahari yang terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan September. 

"Peristiwa alam itu menjadi kegiatan tahunan Kota Pontianak, guna menarik kedatangan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Pontianak," katanya.

Kulminasi matahari berada tegak lurus di atas kepala manusia, yakni pada tanggal 21-23 Maret pukul 11.50 WIB, dan tanggal 21-23 September jam pukul 11.38 WIB di Tugu Khatulistiwa Pontianak.

Kulminasi matahari merupakan peristiwa alam yang hanya terjadi di lima negara, antara lain di Indonesia, tepatnya di Pontianak. Ke-4 negara lain, masing-masing Afrika, yaitu Gabon, Zaire, Uganda, Kenya dan Somalia.

Di Amerika Latin, garis itu juga melintasi empat negara yaitu, Equador, Peru, Columbia dan Brazil. Dari semua kota atau negara yang dilewati tersebut, hanya ada satu di dunia ini yang dibelah atau dilintasi secara persis oleh garis khatulistiwa, yaitu Kota Pontianak.

Sebelumnya, agenda Titik Kulminasi Matahari 2018 di Tugu Khatulistiwa, Pontianak Utara, pada bulan Maret lalu, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Pontianak menggandeng Lembaga Antariksa dan Penerbangan (Lapan), bersama Badan Promosi Pariwisata Daerah (BP2D) Pontianak akan menghadirkan planetarium dari Bandung, Jawa Barat. Planetarium merupakan ruang teater untuk memperagakan simulasi susunan bintang dan benda-benda langit.

Kepala Disporapar Pontianak, Syarif Saleh mengungkapkan saat ini planetarium tersebut tengah dalam perjalanan menuju Pontianak. Ruang teater benda-benda atas langit itu diharapkan bisa jadi sarana edukasi masyarakat, khususnya pelajar.

"Jadi mereka bisa tahu fenomena apa yang terjadi dalam kulminasi, jadi bisa menambah wawasan," katanya, beberapa waktu lalu.

Selain planetarium, Saleh menerangkan akan ada pula peluncuran pesawat tanpa awak berbahan bakar matahari pertama Indonesia, pertunjukan robot kuntilanak, penampilan band SMA, barongsai, permainan air dan sejumlah olahraga tradisional. Pihaknya juga menggandeng banyak komunitas untuk ikut meramaikan.

"Target kita terus pengunjung meningkat. Selama ini sudah ramai, grafiknya pun selalu naik," katanya tanpa memberi angka pasti.

Sementara itu, Kepala Lapan Pontianak, Muzirwan menyebutkan di Pontianak belum pernah ada planetarium. Planetarium yang dibawa untuk edukasi selama tiga hari penuh itu jadi yang perdana. Sebenarnya, planetarium itu merupakan planetarium mini yang berbentuk planet dan muat 15-20 orang. Dalam sekali tampilan diorama antariksa, akan memakan waktu 15-20 menit.

"Kita bisa melihat yang ada di antariksa seakan-akan ikut terbang. Itu bergantian, 15-20 menit selesai. Planetorium ini didatangkan hanya untuk kulminasi," katanya.

Dia berharap kedatangan planetarium ke Pontianak bisa jadi pemancing agar ke depan Pontianak punya planetarium sendiri. Dengan demikian, edukasi soal antariksa ke masyarakat bakal jauh lebih luas. Selain planetarium, dalam peristiwa kulminasi nanti, pihaknya juga telah menyiapkan teleskop untuk pengamatan.

"Nanti akan diberikan juga edukasi untuk masyarakat, apa itu kulminasi, pengaruh dan dampaknya. Kami juga akan mendatangkan teleskop untuk melihat detik-detik kulminasi. Kami juga akan menampilkan roket air," pungkasnya. (ant/bls/bob)