Senin, 23 September 2019


Bocah Empat Tahun Dibunuh Ayah Angkat, Kapolda: Hukum Seberat-beratnya

Editor:

Indra W

    |     Pembaca: 561
Bocah Empat Tahun Dibunuh Ayah Angkat, Kapolda: Hukum Seberat-beratnya

Polisi menunjukan barang bukti bantal yang digunakan untuk memukul korban. (SP/Rah)

PONTIANAK - Sungguh malang nasib yang dialami Ainun Maya, bocah perempuan berusia empat tahun. Dia tewas dibunuh oleh ayah angkatnya sendiri, Ibrahim Taufik alias Taufik Abdul Jaul, hanya gara-gara tidak mau disuruh tidur.

Balita malang itu meregang nyawa di ruang ICU Rumah Sakit Umum Antonius Pontianak, Minggu (5/8), setelah sempat dirawat intensif selama tiga hari karena penganiayaan berat yang dilakukan ayah angkatnya.

Ainun mengalami luka yang sangat parah pada bagian kepala, sehingga mengakibatkan penggumpalan darah di bagian otak.

Kepala Kepolisian Daerah Kalbar, Inspektur Jenderal Polisi Drs Didi Haryono SH MH, mengutuk keras tindakan pelaku dan mesti dihukum seberat-beratnya.

"Orang seperti ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Harus diproses hukum dengan sanksi hukuman yang seberat-beratnya. Psikologinya, rencananya nanti kita tes seperti apa," tegas Kapolda.

Berdasarkan kronologi, korban mengalami penganiayaan berat oleh ayah angkatnya pada Kamis (2/8) sekitar pukul 10:10 WIB di rumah mereka di Jalan Sungai Durian Laut, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar.

Perbuatan keji itu bermula saat tersangka menyuruh korban untuk tidur. Sejurus kemudian dia keluar rumah untuk memasukan burung peliharaan. Saat kembali ke rumah, korban dilihatnya pura-pura tidur karena matanya berkedip-kedip, sehingga membuatnya marah.

Ayah keji ini menyuruh anak angkatnya bangun dan duduk di tempat tidur. Kemudian bertanya "kenapa membohongkan ayah?" Akan tetapi, korban hanya diam. Hal itulah yang membuat tersangka naik pitam.

Tersangka spontan langsung mengambil bantal guling yang ada di dekat korban dan memukulkannya ke arah wajah sebelah kanan.

 Akibat dari pukulan bantal guling tersebut, kepala korban membentur ke lantai, tetapi bocah lugu itu bangun dan duduk lagi.
Tak puas sampai di situ, tersangka kembali memukulkan bantal guling ke arah kiri wajah Ainun. Kerasnya pukulan membuat kepala Ainun kembali membentur ke lantai. Tetapi Ainun bangun dan duduk Iagi di lantai.

Lagi dan lagi, kali ini tersangka memukulkan bantal guling ke arah kepala belakang. Akibatnya Ainun tersungkur dan kepala bagian depannya menghantam lantai. Ainun pun bangun dan duduk lagi.

Bantal guling selanjutnya dihantamkan ke wajah Ainun sehingga membuatnya jatuh terlentang dan kepala bagian belakang menghantam lantai.

Ibrahim, lelaki kelahiran Batu Ampar tahun 1988 ini bak kerasukan setan. Tak puas, dia kemudian mengangkat Ainun dan membantingnya ke lantai. Diinjaknya perut dan dada Ainun. Mencekik lehernya seraya mengangkat ke atas dan kembali membanting tubuh mungil itu ke lantai hingga kepala Ainun membentur kayu.

Ainun terkapar tak sadarkan diri. Dia pingsan hingga akhirnya Agus Kartini, ibu kandungnya datang dan bergegas membawanya ke Rumah Sakit AURI. Dari RS AURI, Ainun dirujuk ke RSU St Antonius untuk mendapatkan perawatan intensif dan akhirnya meninggal dunia pada Minggu (5/8) pukul 10.00 WIB.

Perlakuan keji yang dialami Ainun akhirnya sampai ke telinga Yanto, ayah kandung Ainun. Yanto membuat laporan polisi ke Polresta Pontianak dengan nomor: LP/1514/VIII/RES.1.6/2018/Kalbar/Resta Ptk Kota, tanggal 4 Agustus 2018.

Berbekal laporan itu, anggota unit Jatanras Satreskrim Polresta Pontianak kemudian menangkap tersangka dan melakukan olah TKP di lokasi kejadian.

Polisi menjerat tersangka dengan pasal 80 ayat 3 UU RI No 35 Tahun 2014 atas perubahan UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Motif penganiayaan berat yang diperbuat tersangka kepada anak angkat yakni karena emosi. (hms/ind)