Senin, 23 September 2019


Saprahan, Acara Makan Bersama Sarat Filosofi

Editor:

Angga Haksoro

    |     Pembaca: 538
Saprahan, Acara Makan Bersama Sarat Filosofi

Pontianak, SP  -  Pemerintah Kota Pontianak menggelar Festival Saprahan tim penggerak PKK di Pontianak Convention Center, Rabu (17/10). Festival ini dalam rangka memperingati hari jadi Kota Pontianak ke-247.  

Festival yang dibuka oleh Gubernur Kalbar itu, diikuti 30 peserta dari 29 kelurahan di Pontianak. Plt Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengaku, Festival Saprahan tahun ini lebih meriah.  

“Pacri sudah masuk dalam warisan budaya tak benda. Nanti kami akan usulkan lagi tambahannya, misalnya sambal H Dolah,” ujarnya usai makan saprahan bersama para undangan.  

Gubernur Kalbar, Sutarmidji menyerahkan 5 sertifikat warisan budaya tak benda pada Edi. Warisan budaya tak benda itu berupa saprahan ala Melayu, arakan pengantin, tenun corak insang, pacri nenas dan sayur keladi.

Edi berharap, Festival Saprahan bisa memberi edukasi pada masyarakat, terutama generasi muda agar melestarikan budaya.  

Edi menambahkan, saat ini Pemkot sedang mematok SOP agar ada standar pada tampilan dan jenis makan saprahan. Standar yang dimaksudkan adalah tampilan cara menyajikan saprahan dan jenis makanan yang wajib ada.  

Beda saprahan di tempat lain dengan saprahan di Kota Pontianak, kata Edi adalah jenis makanannya. Saprahan atau adat makan bersama di Pontianak wajib menyajikan pacri nenas dan nasi kebuli. “Cara menghidangkannya yang berbeda, disusun berdasarkan jumlah yang akan kita hidangkan,” ujar Edi.  

Yanieta Arbiastutie, Plt Ketua timpenggerak PKK Kota Pontianak menambahkan, ada beberapa perbedaan antara Festival Saprahan tahun ini dengan tahun sebelumnya.  

Pada tahun kelima ini, maksimal usia peserta saprahan adalah 40 tahun. Hal itu dimaksudkan agar generasi yang lebih muda paham dan mengenal, serta melestarikan nilai-nilai budaya makan saprahan ala Melayu Kota Pontianak.  

Kriteria penilaian terletak pada rasa, kekompakan, dan penampilan yang ditetapkan oleh dewan juri.  

“Harapannya masyarakat Kota Pontianak, khususnya generasi muda tetap bisa melestarikan nilai budaya makan saprahan ala Melayu Kota Pontianak yang banyak bernilai filosofi,” ujarnya. (lha/)