Pemuda Lintas Iman Menjembatani Perbedaan

Ponticity

Editor Angga Haksoro Dibaca : 341

Pemuda Lintas Iman Menjembatani Perbedaan
Pontianak, SP - Persatuan lahir dari keberagaman. Perbedaan tidak harus memisahkan. Semangat itu disampaikan Modesta Roma Mutiara Lumban Gaol salah seorang peserta Temu Pemuda Lintas Iman (Tapelima) Kalimantan Barat.  

Modesta sangat menikmati perjalanan yang dilakukan ke beberapa rumah ibadah di Pontianak. Beberapa rumah ibadah yang dikunjungi adalah Mesjid Raya Mujahidin, Gereja Santo Yoseph, Vihara Budha Matrea, Pura Diripati Mulawarman, dan Klenteng Kwan Tie Bio, Selasa (20/11).  

Saat berkunjung ke Mesjid Raya Mujahidin, Modesta mengaku tercerahkan dengan penjelasan yang disampaikan pemuka agama Islam. Penjelasan itu memberinya jawaban atas pertanyaan yang selama ini ada dibenaknya.  

“Cadar itu bukan teroris. Mereka menjalankan ajaran agama (Islam) untuk menutup aurat,” kata Modesta  

Pengalaman yang didapatkan mahasiswi Pertanian Universitas Tanjungpura (Untan) ini juga soal perbedaan cara pandang dalam Islam. Bahwa dalam melihat sesuatu pasti memiliki tuntunan dan ajaran masing-masing.  

“Saya baru tahu kalau di Islam sendiri ada 73 aliran, dan yang satu itu yang benar,” kata Modesta.  

Mahasiswi beragama Katholik ini mengaku bukan penganut Katholik yang taat. Pada saat berkunjung ke Gereja Katedral Santo Yoseph, Modesta sempat berdiskusi ringan dengan pemuka agama Katholik.  

Peserta lainnya, Syarifah Desy juga mengatakan hal senada. Prasangka yang selama ini hadir dipikirannya terjawab dengan perjalanan religi ke beberapa tempat ibadah umat beragama lain.  

“Selama ini saya hanya menilai dari segelintir orang yang saya temui,” kata Syarifah Desy.  

Perbedaan menurutnya tidak harus diperuncing. Kerena di forum ini dia mendapatkan sebuah pandangan yang berbeda tentang arti perbedaan. Dia merasa menemukan keluarga baru dalam forum Tepelima.  

“Kehangatan yang diciptakan teman-teman menghilangkan sekat yang ada,” ucap Syarifah  

Pastor Rekan Gereja Katedral Pontianak, Yosep Mawardi menyampaikan generasi milenial sangat cepat mendapatkan informasi. Kecepatan itu harusnya bisa di imbangi dengan filter yang tepat. Penyaring yang sangat ampuh menurutnya adalah iman.  

“Kalau kita sudah paham dengan iman masing-masing, harusnya kita bisa mendapatkan persatuan,” ucap Pastor  

Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Kalbar, Sutadi menganggap kegiatan ini adalah hal yang baik. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk saling mengenal agar kesalahpahaman yang selama ini diisukan bisa terjawab dengan benar.  

“Walaupun kita berbeda tapi kita bisa bekerjasama dengan baik,”  

Ketua Panitia Tepelima Kalbar, Muhammad Hotip mengatakanbanyak pemuda khususnya di Kalimantan Barat ini yang minim merawat Kebhinekaan. Konflik yang ditimbulkan dari sebuah perbedaan masih dimanfaatkan segelintir orang untuk keuntungan pribadi dan kelompok.  

“Khususnya ditahun politik ini, konflik kecil pun akan terasa besar,”  

Dia berharap para pemuda dan pemudi yang menjadi peserta kegiatan Tapelima bisa menyebarkan paham persatuan ke seluruh masyarakat mulai dari lingkungan keluarga sampai masyarakat.(din)