Body Shaming, Antara Kritik dan Justifikasi Fisik

Ponticity

Editor Angga Haksoro Dibaca : 349

Body Shaming, Antara Kritik dan Justifikasi Fisik
Ilustrasi
Pontianak, SP - Dilema body shaming, mendapat tanggapan dari psikolog, Maria Nafaola. Mengkritik atau mengomentari secara negatif fisik atau tubuh sesorang di sosial media dapat diancam pidana.  

Menurut Maria Nafaola, body shaming sebenarnya menarik karena terkait perilaku mengkritik fisik orang lain. Alasan orang melakukan body shaming, harus dilihat dulu apakah berupa kritikan dan itu hal nyata.
 

“Ketika kita membicarakan tubuh orang lain, tidak ada maksud untuk menghinanya misalnya kita bilang ‘orangnya cantik tapi sayang ya badannya gendut’, atau misalnya ‘cowoknya cakep tapi sayang ceweknya jelek’, ‘kulitnya item’. Ini kan proses mengkritik, proses menilai,” paparnya.

Menilai merupakan hal yang sangat subjektif. Ketika seseorang menilai sesuatu itu berdasarkan baik, buruk, cantik, jelek, hitam, putih, sebenarnya tidak salah.  

Tetapi harus dilihat, apakah pemberian penilaian itu langsung kepada orangnya dan harus memperhatikan etika-etika. Peka terhadap perasaan orang yang bersangkutan.  

Maria mencontohkan, seorang juri memberikan penilaian terhadap kontestan. “Pasti ada proses menilainya. Tidak ada yang salah dengan proses menilai,” tuturnya.

Maria menyebutkan alasan orang melakukan body shaming dalam artian mengkritik orang lain. Kadang-kadang, body shaming bisa jadi merupakan kebiasaan, seseorang tidak menyadari ketika dirinya mengkritik orang lain.  

Bisa juga, pelaku body shaming tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya akan merugikan orang lain dan efeknya bisa menyebabkan mental orang lain terganggu.  

“Yang perlu diketahui adalah saat ini kita bicara dengan siapa, apakah secara tertulis di medsos? Kita perlu memperhatikan apakah orang yang dinilai itu membacanya atau tidak,” ujarnya.

Dari penelitian yang dibacanya, Maria mendefinisikan body shaming sebagai kritikan negatif yang tentu memiliki pengaruh negatif pula. Kritikan yang negatif mempengaruhi mental seseorang, namun belum tentu kritikan selalu memberikan efek negatif, bergantung bagaimana bentuk kritikan. Ketika seseorang mengatakan, ‘cantik sih tapi sayang badannya gendut’.  

Secara kesehatan, memang tubuhnya gemuk, tidak begitu menarik untuk kondisi tertentu, dan cenderung tidak sehat.

“Jika orang itu merasa hal itu perlu diperbaiki, dan akhirnya dia memperbaiki pola makannya, menurunkan berat badannya. Nah, efeknya kan jadi postif untuk orang itu. Dia jadi lebih memperhatikan kesehatannya dan penampilannya,” kata Maria.

Body shaming juga belum tentu menyebabkan depresi. Jika menyebut depresi berarti sudah masuk kondisi tertentu. Jadi, body shaming tidak selalu menyebabkan depresi, bergantung mental orang yang menerima body shaming itu dan bergantung pula pada bentuk kritikan yang didapatnya.  

Ada orang mendapat body shaming, tapi orang itu justru termotivasi untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Tapi ada juga orang yang mendapat body shaming, menjadi kehilangan rasa percaya diri dan kehilangan konsep diri.
 

Orang yang awalnya sudah percaya diri, membuat konsep diri bahwa dirinya cantik, namun ketika orang-orang mengatakan dia jelek akhirnya konsep dirinya berubah jadi negatif.

“Ketika seseorang sering mendapatkan body shaming, dalam banyak hal dia selalu dikritik tentang fisiknya. Itu bisa saja menyebabkan orang depresi, sampai tidak mau makan, nangis terus-menerus, dan susah tidur,” ungkap Maria.

Selanjutnya, Maria memberikan tips bagaimana seseorang menyikapi ketika menjadi korban body shaming. Maria menilai, ketika mendapat body shaming, sebaiknya refleksikan dahulu apa tujuan orang mengkritik. Jika berpikir positif, kritikan itu pasti ada manfaatnya, membuat seseorang menjadi lebih baik.
 

Ketika mendapat kritikan yang berhubungan dengan fisik, konsepnya sama: refleksikan terlebih dahulu, ‘kita bisa kok mengubah tubuh kita ini’.  

Kecuali untuk hal-hal yang tidak bisa diubah seperti warna kulit cokelat di antara orang-orang yang berkulit putih. Untuk hal itu, seseorang harus menyadari bahwa cokelat bukan berarti jelek. Seseorang harus memperbaiki konsep diri dengan berpikir lebih bijak dan lebih positif.

“Ada saatnya kita menerima kritikan dan mengubah hidup kita untuk hal-hal yang bisa diubah. Kritikan tidak semuanya berakibat buruk. Tergantung kita, apakah kita mau meningkatkan potensi diri yang lain atau kita hanya menerima kritikan yang buruk sebagai sesuatu yang negatif buat kita?” pungkas Maria.


Mita (21 tahun) mengaku sering menjadi korban body shaming di media sosial. Dia mengaku sering gelisah dengan komentar-komentar yang terlalu fokus pada bagian tubuh tertentu.
  “Aku sih risau, terus membalas dengan kata-kata pedas. Kadang, langsung kuhapus komentar orang-orang tersebut,” ungkapnya.  

Menurut Mita, komentar-komentar body shaming di media sosial begitu mengganggu bahkan cenderung merusak nama baik. Sebab, jika menggunggah foto, ada saja akun-akun yang berkomentar mengenai bentuk fisik bagian tertentu dari perempuan.


“Padahal tidak ada niat pamer body. Namanya juga gaya hidup. Tapi maklumlah, kadang-kadang oang tidak mengerti.” (lha/)