Oesman Sapta Kecil Terkenal Nakal, Namun Banyak Akal

Ponticity

Editor K Balasa Dibaca : 1602

Oesman Sapta Kecil Terkenal Nakal, Namun Banyak Akal
Tokoh Kalbar, Oesman Sapta Odang (OSO) dan tantenya, Jus Nur Hamid (Andung).
Semilir angin membawa aroma Kapuas ketika kami, saya dan Muhlis Suhaeri, menyambangi kediaman tante tokoh Kalbar, Oesman Sapta Odang (OSO), Senin (26/11). Di pekarangan, kami disapa rerumputan dan akar-akar merambat di tiang-tiang rumah. Rumah itu terlihat apik, bersih dan tertata. Ketika suara bel kedua bunyi, seseorang membuka pintu, lalu mempersilakan kami masuk.

Setelah menunggu tak jenak, akhirnya kami bertemu dengan orang yang dicari. Perempuan yang dihinggapi keriput, pertanda sudah cukup lama makan asam garam kehidupan. Usianya, 96 tahun, namun aura kecantikan tak lekang dari gurat wajahnya. Ia setengah berbaring di kursi, dan coba menerka-nerka, siapa orang di hadapannya.

Usai bersalaman, kami menyadari bahwa Jus Nur Hamid atau Andung, begitulah anak cucu memanggilnya, mengalami gangguan pendengaran.

Selepas berkenalan dengan tulisan di papan tulis mini, Andung mulai menceritakan masa kecil Oesman Sapta, keponakannya. Terbata-bata ia bercerita, sebab ingatannya terbendung usia. Menurut Andung, OSO kecil adalah anak yang aktif, biasa disebut nakal, tidak seperti anak-anak sepantarannya yang rajin sekolah.

“Saking nakalnya, orang lagi sekolah, dia ndak. Dia pergi ke bawah kolong sekolah, tapi dia bisa tangkap (pelajaran) semuanya,” tuturnya dengan suara bergetar.

Entah karena apa, Andung pun tidak tahu, OSO kecil tertarik dengan bahasa Inggris hingga mengambil les bersama anak laki-laki Andung, Hilman, yang kini berdomisili di Jakarta. OSO kecil, walau nakal, tapi memiliki ingatan dan cepat menangkap hal-hal baru.

“Seingat saya, dia nakal, makanya suka dimarahi. Tapi dia pintar sekali. Saya pun heran,” ujarnya.

Andung mengaku, tidak mempunyai tip apa pun mengasuh dan mendidik OSO kecil. Hanya dia ingat, sering memarahi OSO. Meski begitu, Ketua DPD RI ini seorang penyayang, juga tak menaruh dendam walau kerap dimarahi. Selain itu, sejak kecil, Oesman Sapta memang terlihat aktif, suka bicara. Tapi Andung tidak tahu tentang cita-citanya. Sebab, sewaktu kecil, tidak pernah terlalu spesifik membicarakan tentang masa depan.

“Saya tidak mengira dia bisa jadi orang, jika melihat masa kecilnya,” kata Andung sambil menerawang.

Di akhir pertemuan, Andung menyampaikan kesannya sebagai orang tua yang turut mengasuh OSO kecil. Ketua Umum Hanura itu sosok luar biasa. Sampai dirinya merasa malu, sebab memarahi seseorang yang tak pernah ia sangka, akan jadi tokoh berpengaruh sekarang ini.

“Sampaikan padanya, saya sebagai orang tua merasa tidak pernah berbuat apa-apa untuk OSO,” ucapnya terbata.

Cerita lain datang dari anak perempuan Andung, Hilmiati Hamid. Sepupu OSO yang kebetulan bertemu kami jelang maghrib. Seingat perempuan yang usianya tak terpaut jauh dari OSO itu, mereka begitu dekat waktu kecil. Sebab, pernah satu kompleks perumahan, perumahan keluarga besar Hamid. Andung, ibu dari Hilmiati merupakan kakak kandung ibu OSO.

“Kami pernah sama-sama dibesarkan,” ungkapnya.

Sejak kecil, OSO terlihat sangat aktif. Selain itu, ia pun mandiri dan berani bertualang, hingga Andung sering mengkhawatirkan. Maklum, komunikasi zaman dulu tidak semudah masa sekarang. Namun, OSO bertekad baja, suka bepergian ke berbagai tempat sampai ke luar negeri.

Hilmiati bercerita, OSO sosok cerdas. Kecerdasannya melebihi orang-orang berpendidikan, cepat menangkap sesuatu di luar bidang yang dipahaminya. Satu yang terkesan dari pengusaha kawakan Kalbar tersebut, yaitu kecintaannya terhadap daerah asal.

“Yang saya tangkap dari OSO, dia cinta sekali dengan daerah asal, apalagi Kayong, tempat kelahirannya,” ucapnya.

Di matanya, suami Serviati Oesman itu sosok penyayang dan pemaaf. Hal itu tampak jika OSO berinteraksi dengan keluarga besarnya.

“Banyak orang segan dengan kondisi dia sekarang. Nah, dia biasa-biasa aja. Jika bertemu teman lama, sudah seperti dia dulu aja. Dia tidak melihat kondisi dirinya sekarang ini seperti apa,” pungkas Hilmiati. (shela rimang/balasa)