Minggu, 22 September 2019


Kecil-kecil Punya Karya, Keisha Luncurkan Novel Starlight Strianggle

Editor:

K Balasa

    |     Pembaca: 502
Kecil-kecil Punya Karya, Keisha Luncurkan Novel Starlight Strianggle

Keisha dan bukunya, Starligh Strianggle.

Usia tak jadi batasan seseorang berkarya. Keisha Amelia Karenina misalnya, merampungkan novel perdananya, Starlight Strianggle di usia delapan tahun. Novel yang bercerita tentang persahabatan sepuluh anak di sekolah asrama itu, diluncurkan di Balai Pelestarian Nilai dan Budaya Kalbar, Jalan Sutoyo, Pontianak, Sabtu (15/12).

Starlight Strianggle berkisah persahabatan Selina. Anak-anak usia sekolah yang mempunyai sosok idola, seperti Fateh ‘Gen Halilintar’ dan penyanyi Agnes Monica. Sebagai anak-anak, Selina terobsesi dan ingin terkenal, seperti artis dan penyanyi idolanya.

Untuk mewujudkan keinginannya, Selina kursus menyanyi. Dia mengajak kawan-kawan di asrama, mengikuti lomba menjadi idol. Grup anak-anak itu menang. Bahkan, mereka diajak kerja sama jadi grup penyanyi profesional, di bawah asuhan manajer yang super disiplin.

Karir anak-anak itu menanjak. Mereka mengadakan tur dan bertemu para idola. Malahan, ada bonus berjunjung ke Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Negeri impian mereka.

Novel sepanjang 180 halaman itu sejatinya ‘kecelakaan sejarah’.

Keisha menuliskannya saat usianya tujuh tahun, sewaktu kelas 2 sekolah dasar. Bersekolah di SD Muhammadiyah 2 Pontianak, saat itu guru, Uray Monaya memberi tugas membuat majalah dinding.

Majalah dinding memang salah satu upaya guru di sana mengajarkan dan membiasakan literasi. Mereka bahkan memperlombakan dan menyediakan hadiah. Siswa pun bersemangat.

Keisha dapat jatah bikin cerpen. Ceritanya, rencana nonton bareng film Nyai Ahmad Dahlan di Megamall, Pontianak. Nyai Ahmad Dahlan adalah istri pendiri Organisasi Muhammadiyah di Indonesia. Acara nonton bareng, sebenarnya diperuntukkan bagi anak kelas 3 sampai kelas 6. Karena Keisha masih duduk di kelas 2, dia ikut nonton dengan sang kakak, Cori Nariswari Mernissi (12) dan Shima A. Calluella (10), serta teman-temannya.

Cerpen itu ditulis hingga empat halaman kertas kuarto. Terlalu panjang untuk ukuran majalah dinding. Akhirnya, tulisan tak dipajang. Keisha lantas melanjutkan tulisan itu. Dia menukil impiannya jadi artis. Muncullah ide novel Starlight Strianggle.

Saat tahu Keisha menulis cerita untuk novelnya, sang ayah, Muhlis Suhaeri minta novel itu diselesaikan, dan berjanji akan menerbitkan. Begitu pun dengan sang ibu, Nurul Hayat yang selalu mendampingi dalam proses penulisan.

Bocah manis kelahiran 26 September 2010 itu menyelesaikan novelnya dalam waktu satu setengah hingga dua bulan. Sang ayah menyunting novel itu. Dia juga mencari orang untuk menggambar karakter tokoh-tokoh di cerita. Itu yang membuat proses panjang penerbitan.

“Semoga menjadi bacaan yang bisa diterima anak-anak di mana pun. Membuat mereka bahagia. Berani menggapai mimpi dan cita-cita,” harap ibu Keisha, Nurul Hayat. (balasa)