Jumat, 06 Desember 2019


OSO Dorong Pembangunan PLTN di Kalbar

Editor:

K Balasa

    |     Pembaca: 438
OSO Dorong Pembangunan PLTN di Kalbar

PONTIANAK, SP - Ketua DPD RI, Oesman Sapta Odang (OSO) mengatakan sudah selayaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dibangun di Kalbar. Pasalnya, Kalbar memiliki potensi nuklir yang melimpah, namun belum dieksploitasi untuk kepentingan masyarakat luas.

“Pembangunan PLTN bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik bagi pabrik aluminium dan kebutuhan tenaga listrik berbasis sumber daya lokal,” ujar Oesman Sapta kemarin.

Adanya PLTN akan menurunkan tarif listrik dan menggantikan energi primer yang semakin habis. Berdasarkan penelitian, diperkirakan proyeksi kebutuhan listrik sampai tahun 2027 sebesar 3.783 MWe.

“Kebutuhan listrik sebesar itu, secara realistis hanya dapat dipenuhi oleh PLTN, di mana Provinsi Kalbar memiliki sumber daya uranium,” paparnya.

Jika dibandingkan wilayah negara lain yang mengembangkan nuklir, kondisi geografis Kalbar jauh lebih aman. Bebas dari ancaman gempa dan tsunami. Terlebih, wilayah kandungan endapan uranium berada jauh dari pantai.

DPD RI mendukung langkah-langkah percepatan realisasi hal tersebut.

“Salah satu opsi kebijakannya adalah dengan dapat diterbitkannya Peraturan Presiden Republik Indonesia untuk merealisasikan pembangunan PLTN ini,” harapnya.

DPD RI sendiri mendukung hal itu dengan mengadakan Regional Diplomatic Meeting (RDM) 2018 di Bali beberapa waktu lalu. Pihaknya menjembatani pertemuan antara para duta besar negara sahabat dengan para gubernur, termasuk Gubernur Kalbar Sutarmidji.

“Pak Gubernur telah berbicara dengan Duta Besar Rusia dan Duta Besar Finlandia terhadap peluang-peluang yang tersedia dalam pengembangan investasi di Kalbar termasuk PLTN,” terang OSO.

Untuk merealisasikan kebutuhan energi tersebut, perlu memperhatikan regulasi daerah. Seperti percepatan penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED), sesuai UU Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi.

“Dengan demikian diharapkan terdapat sinkronisasi, harmonisasi, serta keterpaduan antara RUED dengan Raperda Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD),” tegas Oesman Sapta.

Gubernur Kalbar, Sutarmidji menyambut positif hal tersebut. Sumber Daya Alam (SDA) Kalbar sangat besar. Saat ini SDA di provinsi lain di Pulau Kalimantan nyaris habis. Sementara di Kalbar masih melimpah seperti bauksit dan uranium. Namun belum ada teknologi untuk mengolahnya.

"Sekarang kita punya 650-an mega watt di Kalbar. PLN Kalbar bangga dengan itu karena dia sudah surplus sekitar 60-an mega. Tapi 150 dari 650 itu kita beli dari Malaysia," katanya.

Jika sewaktu-waktu pihak Malaysia menghentikan suplai, sangat berisiko bagi kelistrikan Kalbar.

"Kita harus mencari energi alternatif yang murah, misalnya nuklir. Nuklir itu biaya listrik yang terjual nanti hanya seperempat dari sekarang," ujarnya.

Jika listrik bisa melimpah maka akan memudahkan pengembangan sektor industri di Kalbar, dan pengelolaan hasil tambang.

"Jangan khawatir dengan energi nuklir, Fukusima (PLTN Jepang) itu kan pernah kena gempa dan tsunami ndak bocor juga. Nah, Rusia menawarkan keamanan lima kali lebih kuat dari Fukusima," terangnya.  

Ini tentu menurut Midji suatu hal yang sangat penting bagi masa depan Kalbar, terlebih mengingat Kalbar sangat aman dari bencana berbahaya seperti gempa dan tsunami sehingga jika dibangun PLTN risiko akan sangat kecil.

"Kita sekarang bicara tentang energi, bukan tentang nuklir. Nuklir itu hanya salah satu saja, tapi yang namanya diesel, yang menggunakan energi fosil, itu sudah harus ditinggalkan karena dia tidak akan terbarukan," pungkasnya. (nak/bls)