Ingin Jadi Artis, Keisha Malah Punya “Starlight Strianggle”

Ponticity

Editor K Balasa Dibaca : 710

Ingin Jadi Artis, Keisha Malah Punya “Starlight Strianggle”
DONASI – Peluncuran novel “Starlight Strianggle” ditutup dengan pemberian donasi dari Bank Mandiri ke Panti Asuhan Nurunnisa di Pal V Pontianak. Hal ini sengaja dilakukan untuk memberikan semangat dan contoh bersedekah pada anak-anak.


Terinspirasi jadi artis, Keisha Amelia Karenina, siswi kelas 3 SD Muhammadiyah 2 Pontianak, mengolah imajinasinya menjadi cerita dalam novel “Starlight Strianggle:Kisah 10 Anak Biasa yang Jadi Sangat Terkenal”.

Keisha yang akrab disapa Eca, menulis “Starlight Strianggle” ketika berusia tujuh tahun, masih duduk di kelas 2 SD. Kini bocah yang sudah naik ke kelas 3 itu, meluncurkan novel pertamanya, Sabtu (15/12) di Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat.

Eca bercerita, ide menulisnya didapat dari cita-cita ingin jadi artis. Namun menulis memang kegemarannya.

"Karena suka aja," ucapnya terbata-bata.

Sang ibu, Nurul Hayat sigap membantu. Eca tampaknya malu-malu. Semesta dalam kepala Eca bekerja sendiri, hingga novel tentang 10 anak biasa yang jadi sangat terkenal itu jadi.

"Tiba-tiba sudah jadi," ungkap sang ibu.

Perihal perkembangan sang anak, Nurul bercerita, sewaktu masuk play group, jika ada yang berbicara, Eca suka mengulang pembicaraannya. Ia memperkirakan, itulah yang menambah perbendaharaan pikiran dan kata anaknya.

"Dia mengidolakan kakaknya. Jadi kakaknya yang ngajarin (menulis). Tapi kakaknya tidak selesai-selesai tulisannya. Dia yang malah sampai seratus halaman," ucap sang ibu.

Banyak orang berdecak kagum atas pencapaian penulis cilik ini.

Satu di antaranya datang dari Direktur Persona, Yulia E. Tasbita, seorang psikolog yang jadi pembicara dalam peluncuran novel “Starlight Strianggle”. Yulia mengatakan, Eca termasuk anak kreatif. Dari pencapaiannya menulis novel dengan tebal 180 halaman, orang-orang bisa melihat peran orang tua begitu penting dalam menggali potensi, bakat, dan minat anak sejak dini.

“Dan memang, orang tualah yang memiliki peranan yang sangat besar untuk mendukung potensi, bakat, dan minat anak itu sendiri sehingga bisa berkembang menjadi lebih baik. Ini terlihat dari buku terbitannya Eca,” tuturnya.

Bagaimana proses dan bagaimana peran orang tuanya, mungkin tidak mereka sadari awal. Mereka juga tidak menyangka Eca bisa membuat cerita sampai menjadi novel.

“Karena memang budaya yang dimunculkan orang tua di lingkungan rumahnya adalah membaca dan menulis. Dan memang kebetulan, profesi ortunya adalah jurnalis,” imbuh Yulia.

Pada akhirnya tanpa disadari, kegiatan-kegiatan atau atmosfer yang ada di rumah, pasti berpengaruh terhadap anak itu sendiri. Anak melihat, anak mencontoh, dan akhirnya anak mengeksplorasi serta dia ingin tahu lebih banyak. Ketika anak ingin tahu, akhirnya dia mencoba melakukan. Ternyata bisa dan mampu. Apalagi didukung orang tuanya dengan memfasilitasi.

“Jadi, saya pikir, mau teori apa pun, ternyata peran orang tua itu besar sekali dan itu penting. Jadi, orang tua adalah sistem yang paling penting dalam mendukung potensi seorang anak untuk berkembang,” pungkas Yulia.

Peluncuran novel “Starlight Strianggle” yang dihadiri banyak orang tua dan anak. Diawali dengan penampilan musik dan lagu dari anak-anak SD Muhammadiyah, Shima, Atha dan Ara. Lantas diakhiri dengan pemberian bantuan untuk Panti Asuhan Nurunnisa di Pal V Pontianak sebesar Rp3 juta dari Bank Mandiri. Juga pemberian apresiasi anak dari LKBN ANTARA kepada Keisha sebesar Rp1 juta. (shella rimang/balasa)