Pengecer Curang Sebabkan Gas Melon Bersubsidi Langka

Ponticity

Editor K Balasa Dibaca : 726

Pengecer Curang Sebabkan Gas Melon Bersubsidi Langka
TINTA - Membeli gas melon bersubsidi kini ditandai dengan tinta layaknya Pemilu.
PONTIANAK, SP - Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak, Haryadi S Triwiwbowo mengatakan kelangkaan gas melon bersubsidi disebabkan pengecer yang memberi dalam jumlah besar. Mereka berpindah tempat dengan mempunyai belasan tabung gas.

"Jadi pengecer menyimpan 15 tabung, ada yang 20 tabung hingga 30 tabung, bahkan satu pikap (mobil terbuka)," katanya Senin (17/12).

Dia pun memastikan rantai distribusi gas melon subsidi yang dilakukan Pertamina sudah memenuhi SOP (standar operasional prosedur). Kepastian itu didapat dari hasil rapat bersama kepolisian, Pertamina dan agen di Kota Pontianak. Pertemuan itu turut melibatkan 289 pangkalan elpiji.

"Hasilnya, diketahui distribusi sudah sesuai SOP, bahkan stok elpiji, menurut Pertamina cukup hingga enam bulan ke depan," ungkapnya.

Dia meminta pangkalan menyampaikan ke masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga bahwa gas melon bersubsidi hanya untuk pelaku usaha mikro dan keluarga tidak mampu. Sementara pelaku usaha kecil menengah dan besar mau pun ASN, tidak boleh lagi menggunakan gas subsidi.

“Mereka harus menggunakan yang nonsubsidi, seperti Bright Gas 5,5 kilogram atau 12 kilogram," katanya.

Sebagaimana diketahui, Senin ini, Pertamina melakukan operasi pasar di tiga kecamatan yang terbagi dalam enam titik. Masing-masing titik disediakan 560 tabung, total ada 3.360 tabung. Sebagai antisipasi pengecer nakal, tiap pembeli mencelupkan jarinya ke tinta layaknya Pemilu.

Camat Pontiank Timur, Ismail berharap operasi pasar terus berlanjut dan dilakukan upaya penertiban.

"Saya berharap masyarakat mentaati mekanisme ketentuan aturan yang sudah dibuat Pertamina dalam pembelian gas subsidi," katanya.

Menurutnya, kelangkaan bisa saja lantaran perilaku konsumen itu sendiri. Tak sedikit rumah tangga yang punya stok gas melon bersubsidi di rumah hingga beberapa tabung.

"Bahkan ada sekarang menggunakan kesempatan ini untuk berbisnis di rumah, yang menurut aturan jelas dilarang," katanya. (bls)