Mural Bukan Vandalisme, Sampaikan Kritik Sosial dengan Elegan

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 164

Mural Bukan Vandalisme, Sampaikan Kritik Sosial dengan Elegan
MURAL - Satu di antara pegiat Street Writer Community, Yoga saat tengah menggambar mural di salah satu bangunan di Kota Pontianak, Rabu (16/1). (SP/Dino)
SP - Berbekal cat, mereka merealisasikan imajinasi di kanvas dinding. Bukan sembarang gambar, isinya seputar kritik sosial. Tapi, tidak sedikit yang berpikir rupa-rupa itu sekadar coretan. Apa mau dikata, perspektif orang tentang seni tidak selalu sama. 

Setiap orang tidak memiliki jiwa seni yang sama. Sebagian orang, kadang menganggap mural sebagai kegiatan yang modal corat-coret dinding saja. Padahal sebenarnya, perlu jiwa seni untuk menggambar di media yang besar seperti sebuah dinding.

“Orang kira cuma coret-coret, padahal juga perlu mikir,” kata satu di antara pegiat Street Writer Community, Yoga Ilhamsyah saat tengah menggambar mural di salah satu bangunan di Kota Pontianak, Rabu (16/1).

Yoga tak memungkiri, sampai kini masih banyak yang tidak bisa membedakan seni menggambar dinding yang dilakoninya, dengan tindakan vandalisme yang sempat terjadi di Pontianak beberapa waktu lalu. Vandalisme adalah sebuah tindakan yang dilakukan oleh orang tidak bertanggung jawab dengan maksud tertentu.

Berbeda dengan seni menggambar dinding yang dikerjakan bersama temannya. Mural adalah sebuah seni yang menampilkan kejelasan dan penyampaian ekspresi tanpa merusak, bahkan mencorat-coret fasilitas publik.

“Kita sampaikan kritik sosial kepada pemerintah melalui cara yang elegan,” katanya.

Pemuda 23 tahun ini menekuni seni menggambar dinding sejak 2011 lalu. Beberapa kompetisi juga sudah diikuti dan membawanya jadi yang terbaik. Begitulah cara dia menghargai dirinya dalam berkarya, hingga orang lain mengganjarnya dengan penghargaan. Yoga pun kini jadi seorang freelancer pelukis mural.

Dia mengatakan, seni menggambar yang dikerjakannya hanya untuk mengeluarkan ekspresi. Media dinding dipakai lantaran lebih puas. Berbeda dengan kertas atau kanvas yang lebih kecil. Di dinding, apa yang disampaikan tidak ada batasan. 

“Pada prinsipnya seniman jalanan itu sering meluapkan apa yang terjadi melalui media apa pun,” jelasnya.

Yoga berharap apa yang dikerjakan tak dipandang miring. Seni menggambar dinding bukanlah hal buruk. Malah banyak daerah mengubah dinding polos mereka dengan berbagai gambar. Alhasil, wisata kota pun diciptakan. (dino/balasa)