Kisah Funun Saksikan Perjuangan dan Semangat Pelajar Natuna

Ponticity

Editor Admin Dibaca : 408

Kisah Funun Saksikan Perjuangan dan Semangat Pelajar Natuna
PENGAJAR MUDA - Funun Salmania Basri (24), menjadi pengajar muda di SD 002 Desa Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara, Kabupaten Kepulauan Natuna. SUARA PEMRED/DINO
Seorang sarjana muda Kota Pontianak mendapatkan kesempatan menyaksikan perjuangan anak-anak ujung Indonesia untuk mendapatkan pendidikan. Bagaimana anak-anak harus mengalahkan ombak untuk dapat menerima pendidikan di bangku sekolah setiap hari yang dilihatnya.  

Funun Salmania Basri (24), adalah satu-satunya pemudi asal Kota Pontianak yang berhasil mengikuti Program Indonesia Mengajar. Dirinya menjadi pengajar muda di SD 002 Desa Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara, Kabupaten Kepulauan Natuna.
 

Berawal dari kebiasaannya menonton acara yang memperlihatkan aktivitas masyarakat perbatasan di YouTube, akhirnya hal tersebut membuatnya tertarik untuk mencoba mengikuti program mengajar di daerah perbatasan dan tertinggal.
 

Indonesia Mengajar (IM) merupakan sebuah lembaga yang merekrut, melatih, dan mengirim generasi muda terbaik bangsa ke berbagai daerah di Indonesia, untuk mengabdi sebagai Pengajar Muda (PM) di Sekolah Dasar (SD) dan masyarakat selama satu tahun.
   
“Sampai saat ini Indonesia Mengajar sudah pada angkatan 17, Alhamdulillah kemarin saya bisa terpilih dan mengikuti program tersebut sebagai angkatan ke-15,” ucap Funun saat menjadi pembicara dan berbagi pengalamannya pada acara yang digelar Aksi Sedekah Pendidikan di salah satu kafe di Kota Pontianak, Sabtu (19/1) lalu.      

Di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, dirinya melihat bagaimana perjuangan anak-anak di sana untuk bisa mendapatkan pendidikan sangat besar.      

Kabupaten Natuna adalah daerah dengan banyak pulau. Hal itu yang menyebabkan sebagian anak-anak harus menyeberangi lautan, agar mereka bisa mendapatkan pendidikan.  

“Anak-anak harus melewati lautan dengan perjalanan kurang lebih dua jam, walaupun dengan kondisi ombak yang tinggi,” katanya.
 

Di daerah penempatannya, Funun memang tidak menemukan begitu banyak kendala. Karena dirinya ditempatkan di daerah dengan luas wilayah pulau yang cukup besar.      

Namun, ia merasakan perjuangan anak-anak yang berbeda pulau melalui kegiatan mengunjungi pulau pulau kecil penempatan teman se-timnya. Di situlah, dirinya menyaksikan perjuangan anak-anak Natuna untuk bersekolah.  

Seperti di Pulau Kerdau, salah satu pulau dengan jarak tempuh hampir 20 jam dari tempat penempatan Funun.      

Pulau ini hanya dihuni sekitar 80 kepala keluarga. Dengan fasilitas pendidikan hanya ada sekolah dasar dengan jumlah murid yang minim. Ketika anak-anak ingin melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi, mereka harus menyeberangi pulau selama dua jam menggunakan pompong (perahu tradisional).  

“Semangat anak-anak di sana (Natuna) sangat tinggi, walaupun harus menyeberangi lautan untuk dapat bersekolah,” ucap Funun.
 

Funun adalah lulusan Pendidikan Matematika Universitas Tanjungpura  2016. Dirinya merasa sangat tersentuh dengan semangat anak-anak Pulau Natuna. Ia yang sedari SD hingga kuliah menempuh pendidikan di Kota Pontianak dengan berbagai fasilitasnya sangat jauh berbeda, jika dibandingkan dengan anak Natuna.
 

Di Kabupaten Natuna dirinya menyaksikan kegigihan anak-anak di sana dalam berjuang. Jika di kota anak - anak dimanjakan dengan jemputan mobil dan motor, maka di Natuna anak-anak harus menunggu pompong (perahu tradisional) dan melawan ganasnya lautan setiap hari.
 

“Perjuangan mereka yang membuat saya semakin bersemangat untuk dapat mengabadikan diri dalam Program Indonesia Mengajar,” kata Funun.
 

Di Natuna, menurutnya fasilitas pendidikan cukup baik. Guru di sana pun cukup memadai. Yang dibutuhkan anak-anak disana hanya dukungan semangat dari orang lain. Pasalnya perjuangan yang ditempuh untuk mendapatkan pendidikan bukanlah mudah.
 

Funun yang merupakan anak ke tujuh dari delapan bersaudara ini, awalnya mendapatkan penolakan dari keluarganya untuk mengikuti pengabdian selama satu tahun di Natuna. Namun, karena tekadnya yang kuat untuk meyakinkan keluarganya, restu mengabdi pun ia dapatkan.

Sebagai alumni pengajar muda, Funun mengajak anak muda Indonesia untuk dapat mendedikasikan dirinya bagi pendidikan dan kemajuan masyarakat sekitar. Ia juga berpesan, agar anak muda mampu menjadi penggerak kemajuan Indonesia. (dino/bob)