Sabtu, 21 September 2019


Syarif Max Yusuf Alkadrie Inspirasi Pemuda Kalbar

Editor:

Admin

    |     Pembaca: 1119
Syarif Max Yusuf Alkadrie Inspirasi Pemuda Kalbar

Masyarakat Kalbar dan Istana Kadriah khususnya, tengah berduka. Pangeran Jaya, Syarif Max Yusuf Alkadrie bin Syarif Yusuf Alkadrie menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON), Jakarta Timur, Senin (21/1). Jumat (11/1) di kasur rumah sakit itu, dia sempat merayakan usianya ke 74. 

Ketua Yayasan Sultan Hamid II, Anshari Dimyati mengatakan, almarhum memang sakit. Dalam beberapa waktu terakhir, Sekretaris Pribadi Sultan Hamid II itu keluar masuk rumah sakit. Terakhir, Om Max—sapaan akrab almarhum—kembali menjalani perawatan setelah terkena serangan jantung. 

“Beliau memang sakit. Sakit jantung, dan terakhir saya dengar beliau kena stroke juga. Sehari-dua hari kritis, hari ini beliau meninggal,” ujar Ansyari ketika dihubungi via telepon. 

Syarif Max Yusuf Alkadrie meninggalkan seorang istri dan lima orang anak. Dari kabar terakhir, almarhum dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut di Jakarta Selatan. 

“Saya tidak sempat ke sana (Jakarta), karena semua serba cepat (meninggalnya),” ucap Ansyari.

Meski tak bisa hadir, Ansyari Dimyati berjanji tetap melanjutkan amanah almarhum semasa hidup kepada dirinya. Salah satunya, meneruskan perjuangan yang telah dilakukan oleh Sultan Hamid II. 

“Yang jelas amanah beliau, perjuangan Sultan Hamid II, lambang negara akan kita teruskan,” tutupnya.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyampaikan duka mendalam meninggalnya Pangeran Jaya Syarif Max Jusuf Alkadrie. Meninggalnya Om Max, membuat masyarakat kehilangan seorang tokoh yang peduli dengan Kota Pontianak. 

Edi termasuk salah satu orang yang dekat dengan almarhum. Walau punya kesibukan masing-masing, keduanya kerap bertegur sapa dan bertukar ide lewat pesan singkat. 

“Beliau adalah orang yang peduli dengan Kota Pontianak, terutama hal yang terkait dengan Kesultanan Kadriah,” kata Edi.

Syarif Max Jusuf Alkadrie sering memberikan masukan, terkait pemugaran Istana Kadriah dan Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman. Jika ada informasi kurang baik pun, almarhum cepat memberitahu dan mengonfirmasi Edi Kamtono.

Sampai akhir hayatnya, Syarif Max Jusuf Alkadrie dinilai masih sangat kritis. Salah satu pendiri Yayasan Sultan Hamid II ini sangat bersemangat, memperjuangkan agar Sultan Hamid II ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
“Syarif Max Jusuf Alkadrie juga menjadi inspirasi anak muda agar terus berkarya,” tutupnya. 

Pemimpin Redaksi Suara Pemred, Muhlis Suhaeri punya kenangan tersendiri dengan almarhum. Dia biasa memanggilanya Bang Max, dan dipanggil ‘Adinde’ oleh yang bersangkutan. 
Bang Max dekat dengan banyak anak muda, dan selalu mendukung kegiatan mereka. Siapa pun itu. Tanpa memandang status sosial, etnis dan agama. Dia tipikal orang yang terbuka pada keberagaman. 

Bang Max pertama kali dikenalnya, saat pindah ke Pontianak, tahun 2005. Saat itu, di salah satu media lokal, keduanya bertemu. Awalnya biasa, menjadi semakin seru dan akrab, saat tukar pandangan tentang beragam hal. Mulai dari profesi, media atau situasi terkini di Kalbar. 
“Apalagi saat beliau tahu, saya menantu Pak Basrin, seniornya di GMNI,” sebutnya. 

Dari Bang Max, dia lebih banyak tahu, siapa Sultan Hamid II. Dia selalu bercerita tentang Sultan Hamid II, dan perannya dalam sejarah Kalbar dan Indonesia. Ceritanya selalu bersemangat. Padahal, dalam keseharian, dia kalem dan santun, saat berbicara.

“Ada 4 judul buku tentang Sultan Hamid II, dikirim ke rumah oleh Bang Max,” katanya. 
Melalui Yayasan Sultan Hamid II yang didirikannya, dia terus berupaya, agar sejarah ‘yang telah dibelokkan’ mengenai peran Sultan Hamid II, mulai terbuka. 

“Pemerintah semestinya mengangkat Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional. Sama seperti yang sudah dilakukan kepada Wage Rudolf Supratman, sang pencipta Lagu Kebangsaan Indonesia,” katanya, menirukan ucapan Bang Max.

Pada 26 Agustus 2016, Mendikbud Muhajir Effendi dengan Surat Keputusan (SK) Nomor 204 Tahun 2016, menyetujui rancangan sketsa asli atau rancangan final, Elang Rajawali Garuda Pancasila, lambang negara yang sudah disposisi Presiden Sukarno, ditetapkan sebagai Cagar Budaya Tingkat Nasional. 

Artinya, pengakuan untuk Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional, tinggal selangkah lagi. Sayang, sang pejuang tak bisa menyaksikan keberhasilan jalan panjang itu. (dino/suria mamansyah/balasa)