Jumat, 06 Desember 2019


Layangan Jadi Ajang Judi

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 740
Layangan Jadi Ajang Judi

Grafis Suara Pemred (Koko)

Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir
"Ya, memang untuk cari pemain layang saja susah, apalagi yang berjudi. "

Kepala P3 Satpol-PP Pontianak, Nazaruddin 
"Permainan ini di tempat terbuka dari jauh jika mereka melihat petugas, akan bergegas berlari. Tak jarang juga memutuskan layangan mereka demi menghindari tangkapan petugas."

PONTIANAK, SP – Permainan layangan di Pontianak dan sekitarnya disinyalir jadi ajang judi. Angkanya pun mencapai ratusan ribu per layangan. Sementara di sisi lain, korban terus berjatuhan. Dalam sepekan terakhir, dua orang meninggal.

Sebenarnya, Perda Kota Pontianak Nomor 15 Tahun 2005 tentang Perubahan Pertama Perda Nomor 3 Tahun 2004 tentang Ketertiban Umum sudah melarang permainan layang-layang di wilayah kota. Namun efek jera yang ditimbulkan sepertinya belum terasa. Malah kini layangan jadi ajang judi.

Salah satu lokasi judi layangan di Pontianak berada di Jalan Karet. Satu layangan bisa dihargai hingga Rp900 ribu. Dalam sehari, bisa puluhan layangan main. Pasalnya, biasanya sekali tanding diikuti tiga klub. 

“Kalau persisnya masuk-masuk dalam komplek, di situ ada tanah luas, sempat dulu dirazia, tapi banyak tak kena,” kata seorang pengejar layangan yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (27/1).

Mengejar layangan ternyata tak sesepele kelihatannya. Layangan yang didapat akan ditebus Rp7-9 ribu per buah. Tiap klub memiliki identitas cap layangan masing-masing. Orang yang menebus layangan, hanya mengambil layangan klub mereka sendiri.

Lelaki yang sehari-hari jadi buruh bangunan ini bercerita, judi layangan hanya untuk pemain besar. Ketika tanding, akan ada juri yang menghitung jumlah layangan main. Untuk satu kali tanding, juri dibayar Rp10 ribu. 

“Jadi ada tim tepi, tengah, tepi. Juri ini nanti teriak atau telepon, yang satu berani berapa, deal atau ndak. Kalau deal tinggal beritahu lawan. Kalau sudah selesai baru dihitung,” jelasnya.

Tidak hanya juri, tak jarang tim bermodal juga membayar upah tukang anjung layangan dan penggulung benang. Bahkan, orang yang sekadar menaikkan layangan dan tanding pun berbeda. Bayarannya berkisar Rp5-7 ribu per satu layangan.

“Sekarang kebanyakan layangan bekas, jadi banyak yang tebus.”

Umumnya, para pemain menggunakan layangan tiga layar ke atas. Layar merupakan ukuran kertas layangan. Harga per layangan berkisar Rp10-15 ribu. Sementara benang gelasan dijual per kelos atau kiloan. Sekilo kurang lebih isinya 12 kelos, harganya bisa Rp400 ribu. 

“Makin bagus beling yang dipakai, makin mahal. Biasenya pakai beling bekas botol bir yang mahal,” ujarnya yang biasa jadi tukang gulung dan pembuat layangan ini.

Dalam mengejar layangan, dia kadang seram. Tak jaram tangannya berada di leher untuk mengantisipasi benang gelasan menjuntai. Dari pengalamannya, lebih nyaman mengejar layangan ke arah utara. Pasalnya banyak jalan di Pontianak searah itu. Kabel listrik tak jadi penghalang benang.

Untuk mencari layangan hasil adu di Jalan Karet, biasanya dia stay di Jalan Apel dan Jalan Merdeka. Tak hanya mengejar langsung, dia juga main penyaukan dengan layangan berkawat. Namun belakangan tak lagi lantaran sulitnya mencari kawat dan layangan kecil mulai jarang.

“Dulu kan layangan buat sendiri, tapi sekarang di warung juga dirazia, jadi malas bikin lagi. Bengkel juga tak mau kasih tali rem bekas,” sebutnya.

Ketika masih bikin layangan penyauk, dia bisa menjual ratusan buah. Sebuah dihargai Rp2 ribu. Bambu dia beli seharga Rp10 ribu di pengrajin sepanjang Sungai Jawi. Satu bambu bisa puluhan layangan.

“Kalau buat timpak (tanding), biasanya beli polos. Ada yang punya tukang cat sendiri,” sebutnya.
 
Salah seorang pengrajin keranjang bambu di lokasi tersebut, Junaidi (50) mengatakan sering melayani para pembeli untuk membuat layang-layang. Dalam sehari biasanya satu atau dua orang datang. Jumlahnya tidak banyak, sekitar dua atau tiga batang. Sebatang dihargai Rp10 ribu.

“Saya hanya tahu layang-layang tersebut untuk dimain, kalau ndak pun dijual. Ndak tahu kalau judi,” ucapnya. 

Selama ini tidak pernah ada yang datang melarang atau mengimbau agar tidak menjual bambu pada pembuat layangan. Bambu-bambu itu didapat dari Kapuas Hulu. Sekali pesan 1.000 batang. Biasanya dua atau tiga minggu sekali.

“Orang beli ya saya jual. Namanya juga cari makan. Kalau tahu ndak akan saya jual,” tuturnya.

Beberapa warung di Pontianak pun masih menjual benang plastik dan gelasan per kelos. Misalnya sejumlah warung di Jalan Bukit Barisan. 

Sementara itu, seorang warga Pontianak pemain layangan, mengatakan tetap main layangan walau timbul korban. Penyebab jatuhnya korban menurutnya para pemain layangan bandel di area kota.  

Bersama teman sekomunitas, adu layangan jadi ajang silaturahmi. Mereka main dengan gelasan, tapi di perbatasan kota dan Kubu Raya, dengan memperhatikan angin. Angin arah hutan yang dicari. 

“Kemarin main dari Sambas, Mempawah pun ikut datang. Kita silaturahmi ndak ada taruhan,” katanya.

Namun dia tak memungkiri adanya judi layangan. Jalan Karet jadi lokasi di Pontianak. Sementara di Kubu Raya, salah satunya di daerah Punggur. Jenis satu itu menurutnya hanya untuk pemain yang berduit. Sementara mereka hanya suka-suka.

“Karena butuh lahan luas, kita kemarin juga sempat mau ajukan izin tapi ndak tahu kelanjutannya,” sebutnya. 

Kerja Sama Kepolisian

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono tidak memungkiri layangan jadi ajang judi. Efek jera dari peraturan daerah pun dirasanya memang kurang, lantaran sifatnya tindak pidana ringan. Dalam razia, Satpol-PP hanya menahan KTP pemain, layangan dan peralatan mereka.

“Kita harapkan pengadilan bisa menjatuhkan hukuman dengan denda maksimal agar memberikan efek jera,” ucapnya.

Namun, pascajatuhnya korban jiwa, terlebih adanya indikasi judi, Polresta Pontianak akan terjun ke lapangan. Mereka sudah saling koordinasi. Jika ada bukti dan saksi, bisa saja pemainnya ditangkap. Dia juga memohon informasi dari masyarakat.

Selain itu, Pemkot dan Polresta Pontianak telah mengeluarkan maklumat ‘Larangan Bermain Layang-layang di Wilayah Kota Pontianak’. Dia yakin larangan itu akan efektif, menguatkan Perda yang ada.

“Yang terpenting bagaimana kita berkomitmen untuk terus melakukan razia dan mengedukasi kepada masyarakat,” sebutnya.

Menurut Edi, sudah semestinya pemikiran masyarakat diubah. Bermain layangan di tengah kota sudah tak layak dan sangat membahayakan.

“Sekarang kita tidak main-main lagi, sehingga kita perkuat dengan menerbitkan maklumat bersama Kapolresta,” ucapnya.

Kasus meninggal akibat tali kawat lalu juga tengah disidik Polresta. Jika tertangkap maka akan dipidanakan. Kejadian itu merupakan kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia. Satpol-PP pun akan terus razia untuk mencegah kejadian berulang.

“Jika layangan sudah menjadi ancaman, maka orang tua akan melarang anaknya bermain layangan, begitu juga dengan yang bermain dan menjual,” jelasnya.

Disebutnya, Kapolresta juga akan berkoordinasi dengan pemerintah Kubu Raya. Pasalnya, ditakutkan permainan ada di Kubu Raya, sementara layangan putus ke arah Pontianak.

“Layangan tradisional itu hanya layangan hias. Kalau dengan gelasan dan kawat itu bukan tradisional lagi,” sebutnya.

Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-undangan (P3) Satpol-PP Pontianak, Nazaruddin mengatakan sebenarnya dua minggu sekali razia dilakukan. Selama ini, mereka yang bisa ditipiring hanya pemain dewasa minimal 18 tahun. Paling tinggi didenda Rp1 juta. Namun yang terjaring kebanyakan anak-anak.

“Permainan ini di tempat terbuka dari jauh jika mereka melihat petugas, akan bergegas berlari. Tak jarang juga memutuskan layangan mereka demi menghindari tangkapan petugas,” ujarnya.

Beri Efek Jera

Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir memastikan korban meninggal akibat tali layangan akan diselidiki. Dia baru tahu, layangan dimainkan dengan tali kawat. 

“Saya baru tahu ternyata di sini ada yang pakai kawat ya, tersengat listrik. Biasanya hanya pakai gelasan,” ujarnya.

Dia pun bingung mengapa tindakan selama ini tidak memberi efek jera. Pemain menganggap biasa saja, seperti tak ada yang dicemaskan.

“Kenapa para pembuat layang, para pemain layang tidak jera ya? Apa karena tidak bisa buat efek jera. Atau mungkin waktu itu media belum masif memediakan,” ucapnya. 

Sebagai langkah ke depan, efek jera tak hanya dengan tipiring. Kepolisian akan menggunakan pasal 359 KUHP serta pasal 360 ayat 1 dan 2 KUHP. Ayat tersebut menyebutkan barang siapa karena kesalahannya menyebabkan matinya orang, maka akan dihukum penjara selama-lamanya satu tahun. 

“Namun jika sudah jatuh korban, maka akan kita pidanakan. Tapi masak iya kita nunggu jatuh korban, baru bergerak. Untuk yang masih main layang-layang itu tetap kita tipiring melalui Perda itu,” ucapnya. 

Maklumat larangan bermain layangan pun telah dikeluarkan bersama Pemkot Pontianak, sembari Satpol-PP merazia. Tapi dia tak yakin semua bisa berjalan tanpa bantuan masyarakat. Terlebih ketika dijadikan ajang judi.

“Harusnya inikan permainan tradisional, tapi disalahgunakan masyarakat jadi ajang taruhan, judilah,” tuturnya. 

Namun untuk membuktikan perjudian layangan, dia mengaku merasa kesulitan. Bahkan dia menyebut, untuk mencari pemain layangan saja susah, apalagi pembuktian taruhan dan judinya. 

“Ya, memang untuk cari pemain layang saja susah, apalagi yang berjudi,” ucapnya. 

Dia ingin masyarakat membantu dengan melapor langsung ke Polresta, Polsek atau Satpol-PP. Semua warga kota harus bekerja sama untuk menjaga keamanan. 

Bikin Festival

Pegiat Komunitas Kampung Hompimpa, Edvan Zakaria menyebut permainan tradisional layangan, layaknya layangan hias terdampak ruang terbuka yang mulai minim karena arus pembangunan dan arus teknologi. Seharusnya permainan tradisional bisa jadi alat tumbuh kembang dan karakter anak. Tetapi menjadi negatif karena hal-hal seperti ini. 

Padahal, salah satu hak anak menurut Kongres PBB di Jenewa adalah mendapatkan ruang bermain. 

“Oleh karena itu solusi yang tepat adalah pemerintah memfasilitasi tempat bermain layang-layang, jadi disalurkan energinya menjadi positif bukan melawan ataupun hukuman,” sebutnya.

Ruang terbuka seharusnya jadi perhatian pemerintah. Memang belakangan mulai dibangun, namun tak luas. Permainan layangan, tidak difasilitasi pemerintah.

“Seandainya pemerintah melihat peluang yang ada, Kalbar pun bisa dijadikan wisata buatan dari permainan yang berkembang di Kalbar,” katanya.

Layangan tak perlu dilarang, tapi dialihkan ke layangan hias yang memiliki keseruan serupa. Dalam Festival Layangan di Malaysia, ada pula kategori layangan adu. Namun lebih mengolahragakan tubuh si pengadu.

“Masalah ini dijadikan ajang judi karena tidak adanya festival atau lomba-lomba yang resmi di daerah itu. Saya yakin jika ada festival atau lombanya pasti akan ada peraturan yang baku dan akan bersaing dengan baik,” sebutnya. (din/sms/iat/bls)

Sebabkan Gangguan Transmisi

Manajer Unit Pelaksana Penyaluran dan Pengatur Beban (UP3B), Ricky Faizal mengungkapkan sepanjang 2018 telah terjadi gangguan transmisi sebanyak 402 kali akibat kawat layangan. Dari jumlah itu, delapan kali di antaranya mengakibatkan pemadaman meluas dengan estimasi energi yang tidak tersalurkan sebanyak 180.449 kWh, meliputi wilayah Kubu Raya, Mempawah dan Pontianak. 

“Setiap kawat layangan mengenai jaringan transmisi 150.000 volt, mengakibatkan terjadinya kedipan akibat bekerjanya pemutus tenaga sesaat untuk menghilangkan arus hubung-singkat (korsleting) yang terjadi pada jaringan tegangan tinggi tersebut,” jelas Ricky, Minggu (27/1).

Tak jarang gangguan tersebut berulang dalam waktu singkat. Akibatnya, peralatan proteksi tidak bekerja optimal. Pemadaman pun terjadi. 

Jika kawat tersebut mengenai peralatan di gardu-gardu tegangan tinggi, pasokan listrik secara luas akan terdampak. Belum lagi jika ada personel PLN yang tengah melakukan pemeliharaan di lokasi, nyawanya bisa terancam.

“Bila kawat layangan mengenai jaringan listrik tegangan menengah 20.000 volt atau jaringan tegangan rendah, dapat berakibat jaringan PLN tersebut putus sehingga tidak bisa menyalurkan listrik ke pelanggan,” lanjutnya.

Ada dua teknologi penyaluran daya listrik  dari satu lokasi ke lokasi lain yang sangat jauh, yakni menggunakan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT). Namun mempertimbangkan aspek teknis dan ekonomis, SUTT lebih banyak dipakai. Penerapannya dipakai di Sistem Khatulistiwa yang meliputi Bengkayang, Sambas, Singkawang, Landak, Mempawah, Sanggau, Kubu Raya dan Pontianak.

“Di Pontianak dan Kubu Raya, jumlah gangguan pada SUTT akibat kawat layangan ini sangat dominan mengakibatkan kedip tegangan bahkan bisa berakibat padam pelanggan,” sebutnya. 

Penggunaan SKTT lazim pada kota besar yang secara kondisi tidak memungkinkan dibangun tower transmisi SUTT karena kendala pembebasan lahan dan sebagainya. Namun, SKTT aman dari bahaya kawat layangan karena posisinya ditanam dalam tanah atau dibuatkan saluran khusus.

Berbeda dengan SKTT, kabel SUTT tidak memiliki selubung isolasi, hanya berupa kawat logam. Memang ada teknologi seperti silicon rubber untuk menutupi kawat SUTT, namun perlu dikaji lebih jauh. Pasalnya, harus memperhatikan kekuatan konstruksi tower eksisting. 

“Apakah mampu ditambahkan beban dari silicon rubber tersebut. Jangan sampai malah mengurangi kekuatan konstruksi tower yang dapat berakibat tower menjadi bengkok, patah dan sebagainya,” sebutnya.

Tidak hanya itu, perlu pula dihitung jika sumber gangguan seperti kawat layangan yang masih masif dan sering mengenai kawat SUTT, lifetime pemakaian silicon rubber bisa lebih cepat berkurang akibat sobek karena tergores kawat layangan.

Ricky mengklaim, seringnya mati lampu, salah satunya akibat gangguan layangan. Jika tak percaya, bisa dilihat saat sore, ketika cuaca cerah dan banyak warga bermain layangan. Akan ada kedipan di peralatan listrik yang menyala, misalnya lampu. Hal itu disebabkan kawat layangan yang mengenai jaringan listrik.

Sementara penyebab lain, di antaranya pemeliharaan instalasi listrik, adanya pohon yang mengenai jaringan transmisi, gangguan pada instalasi tenaga listrik seperti pada pembangkit, trafo, gangguan alam seperti petir dan sebagainya. 

“Tapi sekali lagi dari data yang kami miliki untuk yang gangguan yang terjadi pada sisi tegangan tinggi 150.000 volt, 95 persen disebabkan oleh gangguan layangan,” ungkap dia.

Menurutnya, PLN Kalbar telah berupaya meningkatkan keandalan pasokan listrik kepada konsumen, terbukti dari frekuensi padam yang semakin berkurang. Namun, gangguan akibat kawat layangan memerlukan penanganan yang serius dari semua pihak.

“Mudah-mudahan masyarakat sadar dan sukarela dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan permainan kawat layangan. Bukan permainan layangannya yang ingin kita hilangkan, namun pemakaian kawat layangan,” pungkasnya. (iat/bls)