Viza Julian: Anak Punk Kerap Distigma Negatif

Ponticity

Editor Admin Dibaca : 654

Viza Julian: Anak Punk Kerap Distigma Negatif
Viza Julian
PONTIANAK, SP - Pengamat sosial, Viza Julian mengatakan, anak punk tidak selalu berasal dari keluarga broken home, karena dalam kelompok anak punk itu sendiri ada keberagamaan asal-usul, mengingat para remaja saling mempengaruhi satu sama lain. 

Namun tidak bisa dinafikkan juga, di antaranya ada membentuk komunitas tertentu, karena kondisi keluarga yang tidak bisa mengakomodir kebutuhan mereka. 

"Tidak sedikit juga remaja menjadi anak punk terpengaruh oleh teman yang lain. Bisa dikatakan dipengaruhi faktor lingkungan yang berdampak, sehingga mereka memutuskan bergabung dengan komunitas anak punk," kata Viza, kemarin.

Selama ini asumsi terhadap anak punk, khususnya Kalbar dan Pontianak, mereka distigmakan anak jalanan mengganggu ketertiban, sedikit dianggap preman dan lain-lain. Ini berbeda dengan fenomena punk asli, karena ide dari anak-anak punk pada awalnya tentang kebebasan. Mereka ingin menikmati hidup sesuai dengan bagaimana mereka mau. 

Lalu, bagaimana mereka lebih memilih meninggalkan kemapanan keluarga untuk di jalanan. Sedangkan anak-anak punk di Kalbar, mungkin juga dipengaruhi faktor kedekatan dengan kemiskinan.

"Jika kita ingin memperlakukan atau mengambil kebijakan terkait mereka, maka harus mempertimbangkan bahwa, ada perbedaan karakter antara komunitas satu dan komunitas lain. Begitu juga anggota satu dan anggota lainnya," ucapnya.

Secara umum anak punk tidak banyak yang benar-benar melakukan kejatahan, tapi potensi untuk ke sana tentu ada. Bahkan sebaliknya, mereka bisa menjadi kelompok yang berpotensi untuk menjadi korban kejahatan oleh komunitas lainnya. 

Jadi bagaimana pun, komunitas ini harus dibina dan salah satu pihak yang paling bertanggung jawab adalah Dinas Sosial dan orang tua mereka. 

Secara umum pemerintahan daerah, Satpol-PP, aparat penegak hukum dan sebagainya, tidak punya banyak pilihan dalam pengambilan kebijakan. 

Kalau bicara soal ideal, anak punk diberikan pendidikan yang benar-benar memastikan, mereka untuk tidak kembali ke jalan. Tapi itu membutuhkan biaya yang besar, alokasi waktu dan pemerintah kita, tidak punya cukup sumber daya tenaga maupun keuangan. 

"Jadi mau tidak mau, hanya cara menertibkan yang bisa mereka lakukan," jelasnya.

Pertanyaannya, tentu bagaimana cara mencegah mereka kembali ke jalan dalam waktu panjang. Dalam keadaan karena pilihan untuk melakukan pembinaan secara memadai tertutup dikarena kurangnya sumber daya, maka dia melihat konsistensi pengambilan kebijakan diperlukan.

Artinya, ketika razia, harus lakukan secara rutin. Jangan sampai sudah dirazia dibiarkan saja atau razia musiman. Ini yang membuat anak punk terus balik lagi. Tidak konsistennya penegakan hukum itu yang membuat orang konsisten melakukan pelanggaran. Tentu jika rutin dilakukan razia, anak punk akan berpikir untuk kembali ke jalanan. 

"Itu pilihan yang tidak begitu menyenangkan, tapi mengingat sumber daya kita itu yang bisa dilakukan," tutupnya. (iat/bls)