Senin, 23 September 2019


BP2KP Ajak Komunitas Sukseskan Pesona Kulminasi Matahari

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 108
BP2KP Ajak Komunitas Sukseskan Pesona Kulminasi Matahari

Ist

PONTIANAK, SP - Badan Promosi Pariwisata Kota Pontianak (BP2KP) mengajak insan komunitas untuk menyukseskan Pesona Kulminasi Matahari di Tugu Khatulistiwa, 21 - 23 Maret 2019.

"Untuk memajukan pariwisata Kota Pontianak, bukan hanya tugas pemerintah, melainkan semua pihak termasuk komunitas. Untuk itu, pelibatan atau partisipasi komunitas sangat diperlukan," kata Ketua Panitia Pesona Kulminasi Matahari, Muhammad Syafril, kemarin. 

Menurutnya, dalam event tersebut komunitas juga diberikan ruang untuk mengisi acara, sehingga sensasi dan keterlibatan komunitas diperlukan.

"Kami terbuka untuk komunitas, selain memberikan ide juga mengisi acara agar kegiatan lebih semarak dan heboh," jelas dia.

Ia menjelaskan bahwa pada event bertema "Ekspresikan Dirimu" tersebut akan jauh berbeda dengan sebelum-sebelumnya.

"Bahkan kali ini kami juga mengadakan praevent. Dua hari sebelumnya kami laksanakan kegiatan praevent tersebut untuk menginformasikan kepada publik secara masif," jelas dia.

Terkait acara yang berlangsung selama tiga hari tersebut, ia mengatakan, akan diisi tentang edukasi fenomena matahari, penampilan sejumlah talenta komunitas, kesenian, dan pameran.

"Intinya ada kejutan dalam Pesona Kulminasi Matahari kali ini. Partisipasi semua pihak kami butuhkan," kata dia.

Pihaknya mengajak masyarakat Kota Pontianak dan lainnya untuk menyaksikan Kulminasi Matahari tersebut.

"Kami menargetkan kegiatan ini berkelas, sehingga bisa juga menarik minat wisatawan mancanegara. Kami beruntung dilalui garis lintang nol derajat dan itu bisa menjadi kekayaan kita," kata dia.

Diketahui, Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat, merayakan fenomena unik berupa Kulminasi Matahari setiap dua tahun sekali yaitu 21-23 Maret dan 21-23 September. Ketika ini terjadi, bayangan benda di Pontianak seakan menghilang dan telur pun bisa berdiri tegak. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pontianak kemudian mengemasnya menjadi acara Pesona Kulminasi Matahari yang diselenggarakan pada tanggal yang sama setiap tahunnya di Tugu Khatulistiwa.

Pesona Kulminasi Matahari mengajak siswa-siswi sekolah dan pengunjung untuk mengikuti lomba menegakkan telur. Kulminasi Matahari menghasilkan gaya gravitasi yang cukup kuat sehingga bisa membuat telur berdiri tegak di titik nol derajat. Lomba diadakan guna mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa Kota Pontianak memiliki potensi yang unik.

Titik Kulminasi Matahari merupakan fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi Matahari tepat berada di atas kepala sehingga bayangan benda-benda di permukaan bumi tidak tampak. Inilah yang terjadi pada bayangan Tugu Khatulistiwa Pontianak selama beberapa detik. Demikian pula dengan bayangan benda-benda lain di sekitar tugu.

Saat Kulminasi Matahari terjadi, ratusan pengunjung rela berada di tengah-tengah teriknya Matahari demi mengabadikan momen ini. Di depan Tugu Khatulistiwa disiapkan alat deteksi kulminasi berupa besi bulat sepanjang dua meter yang dihubungkan dengan dua rangkap kaca cembung. Alat ini berfungsi menangkap sinar Matahari dalam satu titik yang panasnya mampu menyulut sumbu mercon.

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang dilalui garis khatulistiwa. Kejadian titik kulminasi serupa bisa ditemui juga di Gabon, Zaire, Uganda, Kenya, dan Somalia, semuanya di Afrika. Di Amerika Latin garis itu juga melintasi empat negara yaitu, Ekuador, Peru, Columbia dan Brazil.

Dari semua kota atau negara yang dilewati tersebut, hanya ada satu di dunia ini yang dibelah atau dilintasi secara persis oleh garis khatulistiwa yaitu Kota Pontianak sehingga kota ini begitu istimewa.

Pada 1928, seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda melakukan ekspedisi internasional ke Pontianak dan menentukan titik garis khatulistiwa. Pada tahun yang sama kemudian tugu dibangun berbentuk tonggak anak panah. Pada tahun 1990, tugu mengalami renovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran yang lebih besar dari tugu aslinya.

Hasil pengukuran oleh tim BPPT menunjukkan bahwa Tugu Khatulistiwa saat ini berada pada posisi 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara dan 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur. Sementara posisi 0 derajat, 0 menit dan 0 detik ternyata melewati taman atau tepatnya 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu saat ini. Di tempat itulah kini didirikan patok sederhana yang terbuat dari pipa-pipa. (din/ant/bob)