Peredaran Narkoba Sasar Pelajar

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 184

Peredaran Narkoba Sasar Pelajar
Grafis Suara Pemred (Koko)
Plh BNN Kalbar, M Eka Surya Agus
"Pelajar opsi penyalahgunaan obat-obatan jenis narkoba. Namun berdasarkan informasi, tidak menutup kemungkinan mereka ini juga menjadi pelaku, dimanfaatkan sebagai kurir."

Kapolres Sekadau, AKBP Anggon Salazar Tarmizi
"Jangan pernah coba-coba. Karena narkoba akan merusak moral bangsa."

PONTIANAK, SP – Tren peredaram narkoba kini menyasar pelajar. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat peningkatan di 2018. Padahal di 2017, kalangan pekerja paling banyak. Ketika itu hanya 24 persen kasus narkoba menyangkut pelajar. 

Sejumlah peningkatan pun dirasakan di Kalimantan Barat. Beberapa daerah merangkum narkoba yang melibatkan generasi muda. Tidak hanya sebagai pengguna, namun ikut terlibat dalam peredaran dengan menjadi kurir. 

BNN Kabupaten Sanggau mencatat peningkatan 100 persen, terhadap pelajar yang mengikuti rehabilitasi karena terpapar narkoba. Data tahun 2017, terdapat tiga orang penyalahguna yang berstatus pelajar. Di 2018, jumlahnya jadi enam orang. 

“Artinya, terdapat peningkatan 100 persen untuk penyalahgunaan narkotika kategori pelajar," ungkap Kepala Seksi Rehabilitasi BNNK Sanggau, Hery Ariandi, Selasa (19/2).

Kapolres Sekadau, AKBP Anggon Salazar Tarmizi menyebut, kalangan pelajar rentan penyalahgunaan narkoba. Beberapa kasus yang ditangani Polres Sekadau, turut menyeret pelajar sebagai korban. Bahkan, ada pelajar yang menjadi kurir.

“Jangan pernah coba-coba. Karena narkoba akan merusak moral bangsa,” katanya.

Kepala BNN, Komjen Pol Heru Winarko mengatakan, mayoritas pengguna narkoba di tahun 2018, merupakan para pelajar. Sementara tahun 2017, trennya berasal dari kalangan pekerja. 

"Preferensi tahun kemarin 1,77 persen, sementara 2018 naik. Tahun kemarin, kita bekerja sama dengan FK UI, 2018 kita kerja dama dengan LIPI, dan meningkat jadi 2,1 persen," ujar Heru. 

Namun, Heru tak mengatakan berapa jumlah generasi muda pengguna narkoba di tahun 2018, serta penyebarannya di wilayah mana. Hanya, dia menekankan, jika Indonesia ingin mendapatkan bonus demografi pada tahun 2045, maka generasi muda pengguna narkoba ini harus dikurangi.

"Karena dengan narkoba, negara ini tidak akan mendapatkan bonus apa-apa," ungkapnya.

Teknologi sedikit banyak membuat mereka mudah berinteraksi dengan pengedar. Bukan tidak mungkin pelajar ini terlibat, pasalnya mereka belum berpenghasilan. Akan tetapi, memang ada sejumlah jenis narkoba berbiaya murah.

"Kami membuat modul dari tingkat playgroup sampai universitas, dan kami berharap bisa masuk ke kurikulum," katanya.

Plh BNN Kalbar, M Eka Surya Agus mengatakan, sepanjang 2016 sampai 2018 terdapat tren peningkatan kasus. Di tahun 2016, BNNP menangani setidaknya 20 kilogram narkoba, di tahun 2017 sebanyak 25 kilogram, dan 2018 sebanyak 58 narkoba. 

“Pelajar hanya opsi penyalahgunaan obat-obatan jenis narkoba. Namun berdasarkan informasi, tidak menutup kemungkinan mereka ini juga menjadi pelaku, dimanfaatkan sebagai kurir,” sebutnya.

Mereka yang direhabilitasi pun, tidak menutup kemungkinan akan kembali menggunakan narkoba. Salah satunya, jika lingkungan serta orang tua tidak mendukung pemulihan pasca rehabilitasi. 

"Karena kadang-kadang mereka dilepas lagi, tidak diawasi, tidak dilakukan pendekatan, ya kembali lagi. Kadang-kadang mereka inikan dari broken home," tambahnya. 

Untuk melakukan pencegahan di tingkat pelajar, BNNP sudah menyosialisasi dan advokasi lingkungan pelajar. Selain itu, pihaknya juga telah mengajak seluruh stakeholder, berperan aktif serta mendorong adanya kurikulum yang memberikan penguatan, dan pengetahuan tentang bahayanya narkotika. 

"Tiga itu yang sudah kita (BNNP) lakukan, kita mengajak langsung di lingkungan pendidikan, untuk berperan aktif. Baik itu membentuk satuan relawannya, atau satuan petugas di lingkup sekolahnya," jelas Eka. 

Kota Pontianak masih jadi pemimpin kota paling berpotensi, jadi sarang peredaran narkoba di Kalbar. Disusul Kota Singkawang. Meski jalur masuk barang haram ini lewat perbatasan.

Wilayah lain seperti Ketapang, Kapuas Hulu, Sanggau, Sintang, Bengkayang, serta Sambas juga masuk dalam kategori rawan. Sebab, dari 14 kabupaten kota, wilayah-wilayah inilah pintu masuk narkoba. 

"Tapi pada prinsipnya, seluruh kabupaten kota di Kalbar semua rawan kondisinya, tapi dari segi banyak penduduk yang paling banyak itu wilayah Pontianak dan Singkawang," ungkapnya. 

Bebas Pelajar

Kasat Narkoba Polres Landak, Iptu B Pandia menyebut kasus narkoba di wilayahnya meningkat. Tahun 2017, Polres Landak mencatat ada 32 kasus narkoba dengan 42 orang tersangka. Tahun 2018, jadi 33 laporan polisi dengan 37 tersangka. 

“Dari segi tersangkanya mengalami penurunan. Tapi secara umum dari segi laporan polisinya atau orang yang menggunakan narkotika di Landak mengalami kenaikan," katanya.

Para tersangka cenderung orang dewasa. Mereka rutin bersosialisasi ke sekolah-sekolah sebagai langkah antisipasi. Dari dua tahun terakhir pun, tak ada tindak pidana narkotika yang dilakukan usia pelajar.

"Kalau pun nanti memang ada terdapat pelaku dari kalangan pelajar yang masih di bawah umur, kita tetap mengacu pada peradilan anak," terangnya.

Namun demikian, polisi juga harus melihat lagi apa yang dilanggar anak tersebut. Jika sebagai penjual atau perantara pembeli, ancaman hukumannya tetap di atas rata-rata tujuh tahun. Dengan demikian, hal tersebut tidak dilakukan diversi. 

“Tapi untuk saat ini di Landak masih belum ada. Rata-rata dia itu dilakukan oleh kelompok orang dewasa," jelasnya.

Peran Orang Tua

Guru Besar Universitas Airlangga, Bagong Suyanto menyebut, tren narkoba di kalangan pelajar tidak terlalu mengejutkan. Berdasarkan studinya dengan mewawancarai 200 siswa SMA yang tinggal di Kota Surabaya dan Malang, menemukan bahwa 52,5 persen pelajar mengaku pertama kali mencoba narkoba pada saat mereka berusia 16 tahun. Bahkan sebanyak enam persen responden mengkonsumsi narkoba pada saat usia mereka masih 15 tahun. 

Studi itu mencatat sebanyak 14,5 persen responden mengkonsumsi narkoba pertama kali pada saat berusia 17 tahun, dan sebanyak 22,5 persen responden mengkonsumsi narkoba pertama kali pada saat berusia 18 tahun. Hanya 4,5 persen responden yang mengkonsumsi narkoba pada saat sudah berusia 19 tahun.

Studi ini menemukan, akibat keliru memilih teman di sekolah mau pun teman bermain, tidak jarang siswa—yang awalnya lugu—pelan-pelan masuk dalam perangkap perilaku, dan menjadi konsumen narkoba, karena tidak bisa menolak pengaruh buruk teman-temannya sehari-hari. 

“Cepat atau lambat, kebanyakan siswa umumnya akan terpengaruh, dan kemudian tanpa sadar sudah terperangkap menjadi pecandu narkoba,” katanya.

Bagi siswa yang berani menolak tawaran narkoba dari peer-group-nya, mereka bukan tidak mungkin harus berhadapan dan kehilangan teman baiknya itu. Studi ini menemukan, reaksi yang dialami siswa ketika mereka menolak ajakan teman mencoba narkoba, 43,5 persen adalah ancaman. 

Sejumlah responden menuturkan, pertama kali diajak mengkonsumsi narkoba, memang tidak langsung mau menerima dan melakukannya. Sebagian siswa mengaku menolak, tetapi karena dianggap sudah terlanjur masuk dan dikhawatirkan akan membongkar perilaku menyimpang teman-temannya yang sudah menjadi pecandu, maka sebagian besar responden mengaku memperoleh ancaman dari temannya sendiri. 

“Sebanyak 39,5 persen responden memang mengaku tidak diapa-apakan, tapi karena bujuk-rayu, dan pengaruh teman, pelan-pelan mereka akhirnya bersedia mencoba narkoba hingga kecanduan, seperti pada saat penelitian dilakukan,” katanya.

Dari 200 siswa yang diwawancarai, 12 persen responden mengaku dirisak ketika menolak mencoba narkoba, dan 5 persen responden bahkan sempat dijauhi ketika menolak mencoba narkoba.

Salah satu temuan menarik, 62 persen siswa yang jadi pecandu memiliki hubungan tidak harmonis dengan orang tuanya. Hanya 24 persen responden yang dalam kehidupan sehari-hari, hubungan dengan orang tuanya tidak bermasalah, bahkan akrab. 

Sementara itu, sebanyak 26 persen responden mengaku hubungannya dengan orang tuanya biasa saja alias kurang harmonis. Jangan heran jika siswa yang sehari-hari berjarak dengan orang tuanya—bahkan hubungan mereka dipenuhi dengan konflik yang terus-menerus—akhirnya mencari kepuasan batin di luar rumah.

Bagong menemukan 53,5 persen orang tua siswa umumnya sudah mengetahui keterlibatan anaknya dalam penyalahgunaan narkoba. Tetapi, sebanyak 46,5 persen orang tua responden umumnya masih belum mengetahui apa yang dilakukan anaknya di luar jam sekolah. 

“Bagi orang tua siswa yang sudah mengetahui kelakuan anaknya, 54,2 persen reaksinya adalah sedih, tetapi mendukung proses penyembuhan anaknya. Sebagai orang tua, tentunya bisa dipahami jika separuh lebih orang tua merasa mereka bagian dari terjadinya kesalahan yang dilakukan anak-anaknya,” tulisnya.

Akan tetapi, dari 107 siswa yang orang tuanya telah mengetahui apa yang mereka lakukan, sebanyak 23,4 persen responden mengaku orang tuanya bersikap acuh. Bahkan, yang memprihatinkan, sebanyak 22,4 persen responden mengaku orang tuanya marah besar, dan kemudian menghajar mereka ketika mengetahui anaknya terlibat dalam praktik penyalahgunaan narkoba. 

“Banyak kasus membuktikan, seorang anak yang terjerumus dalam praktik penyalahgunaan narkoba, ketika berusaha keluar dari cengkeraman narkoba, tetapi tidak memperoleh dukungan yang memadai, maka yang terjadi biasanya adalah relapse,” katanya.

Selama ini, relapse atau kambuh kembali bagi pengguna narkoba adalah hal yang lazim terjadi. (akh/ant/btg/dvi/sms/bls)

Kerja Sama Penyuluhan

PLT Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak, Muhammad Sahdan menyebut, pihaknya sudah mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan BNN dan Polresta Pontianak, sebagai bentuk pencegahan terhadap penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar. Mereka rutin sosialisasi, agar pelajar tidak mendekati narkoba.

"Sejauh ini alhamdulilah tidak ada ditemukan anak di Kota Pontianak yang menggunakan narkoba,” ucapnya, Selasa (19/2).

Upaya sosialisasi dilakukan dalam setiap kesempatan. Pemahaman bahwa narkoba bisa menghancurkan masa depan terus dijajaki. Sekolah pun turut diminta mengawasi peserta didik mereka.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sambas, Sabhan mengatakan, pihaknya selalu menekankan kepada sekolah untuk mewaspadai narkoba, jangan sampai masuk ke lingkungan sekolah. Program penguatan karakter siswa pun digencarkan.

“Kita mendekatkan siswa kepada Tuhan melalui program membaca Al Quran dan kitab suci agama masing-masing sebelum belajar. Kita juga memiliki program manajemen sekolah berbasis kota. Ini juga kita selipkan bahwa sekolah melakukan pengawasan ketat terhadap narkoba," katanya.

Walau kasus narkoba yang melibatkan pelajar di Sambas minim, ancaman itu tetap jadi kewaspadaan bersama. Bahkan, pihaknya belum menemukan pelajar terlibat narkoba. Jika pun ada, mereka sudah lebih dulu putus sekolah.

"Untuk siswa yang terkena kasus narkoba, kita tidak serta-merta mengeluarkan mereka, tapi kita berikan dulu pembinaan. Alhamdulillah di Sambas tidak kita temukan hal ini.”

Untuk mengantisipasi segala hal buruk itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sekadau, Losianus mengatakan, siswa perlu menjaga diri dari pengarus sosial media, televisi dan kejadian insidentil lainnya. Hal ini, sebagai upaya membentengi diri dari paham negatif. 

“Di usia-usia remaja harus pandai mencari dan menjadikan seseorang sebagai panutan yang dapat dijadikan contoh dari segi sikap dan keteladannya,” ungkapnya.

Pelajar harus jadi corong dalam menjaga bangsa dan negara. 

“Kami di bidang pendidikan terus menyampaikan kepada siswa-siswi materi bahayanya narkoba lewat guru di sekolah, dan kita juga bersinergis bersama kepolisian,” pungkasnya. (akh/din/noi/bls)