Rumah Bahagia Kampung Mendawai: Ada Bank Sampah, Perpustakaan dan TPA Gratis

Ponticity

Editor Admin Dibaca : 166

Rumah Bahagia Kampung Mendawai: Ada Bank Sampah, Perpustakaan dan TPA Gratis
Rumah bahagia Kampung Mendawai
PONTIANAK, SP - Awalnya rumah ini cuma untuk jual beli barang bekas. Dari hal itu muncul lah ide untuk membuat bank sampah, dan rumah bahagia untuk anak-anak dan remaja. Hal lain yang menjadi alasan adalah karena keprihatinan masyarakat di tepi Sungai Kapuas yang semakin banyak sampah.

Hal itu disampaikan oleh Mariamah pada saat menceritakan awal pendirian Rumah Bahagia Kampung Mendawai.

Dirinya bersama ibu-ibu yang lain mencoba memberikan yang terbaik untuk lingkungan sekitar. Mariamah sendiri adalah Manager Bank Sampah dan TPA.

Di dalam rumah bahagia terbagi menjadi beberapa program yaitu Bank Sampah Berkah Mendawai, TPA Gratis, Perpustakaan Kampung, dan Kelas Kreatif.

"Di sini kami memang benar-benar bekerja secara sosial, dan dibantu oleh pihak lain yang peduli," ujar Mariamah.

Kemudian, ia mengatakan rumah yang awalnya hanya sebagai tempat jual beli barang bekas disulap dengan penuh kreativitas menjadi tempat yang sangat berguna bagi masyarakat Kampung Mendawai yang terletak di Gang Rahma, Mendawai Tengah, Bansir Laut, Pontianak Tenggara, Kota Pontianak.

Ia juga mengatakan, awalnya sejumlah ibu - ibu ini berpikir bagaimana untuk membersihkan sampah di sungai.

Dari sampah botol dan lain-lain itu diambil dan terciptalah ide menjadi bank sampah. Karena dari hasil pengumpulan sampah akan dipilah, jika sampah yang memiliki nilai jual akan dikumpul dan dibuat sebuah kerajinan, jika tidak, maka akan dibuang ke tempat pembuangan sampah yang tepat.

Untuk sejauh ini, menurutnya bank sampah sudah mempunyai 30 nasabah tetap, walaupun masih sistem angkut satu minggu sekali, dan jemput untuk pengambilan sampah nasabahnya.

Jadi dari penjualan bagi yang mau menabung dimasukkan ke tabungan bank sampah, dan jika ada yang mau menyumbang uangnya dimasukan ke dalam kas Rumah Bahagia.

"Dari kegiatan ini menjadikan banyak pihak yang mau menolong, dan kami memprioritaskan sampah yang ada di tepi sungai dan akhirnya berdirilah rumah bahagia," ujarnya.
Selanjutnya, untuk program kelas kreatif dan juga perpustakaan, dibantu oleh beberapa komunitas yang peduli dengan rumah bahagia, salah satunya IKAL yang mengumpulkan donasi buku untuk perpustakaan kampung.

Sejauh ini sudah belasan anak yang terdaftar ikut TPA di Rumah Bahagia, dan itu diajar oleh guru yang rela mengajar tanpa imbalan apapun, demi memberikan ilmu agama pada anak -anak yang menjadi penerus bangsa.

Mariamah dan ibu-ibu yang lainya adalah ibu rumah tangga yang masih menyempatkan diri menjadi seorang volunter, dan berbagi dengan kemampuan yang mereka punya untuk saling membahagiakan, serta peduli terhadap lingkungan. Mereka berharap semoga keberadaan Rumah Bahagia memberikan efek yang baik bagi warga.

"Semoga dengan adanya Rumah Bahagia ini, bisa memberikan dampak positif untuk anak-anak, remaja dan warga sekitar," tuturnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Pontianak, sedang memfokus penanganan sampah, dengan membentuk bank-bank sampah di lingkungan masyarakat.

"Kami telah meresmikan bank sampah di Palm Asri, sehingga sampah tersebut nantinya bisa bermanfaat lagi bagi menunjang perekonomian masyarakat," kata Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, beberapa waktu lalu.

Bank sampah adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah. Hasil dari pengumpulan sampah yang sudah dipilah akan disetorkan ke tempat pembuatan kerajinan dari sampah atau ke tempat pengepul sampah.

Ia menyambut baik keberadaan Bank Sampah Palm Asri tersebut, selain untuk membantu menangani pengolahan sampah, juga dapat menyadarkan masyarakat akan lingkungan yang sehat, rapi dan bersih.

"Dengan adanya bank sampah ini, sampah menjadi sesuatu yang lebih berguna dalam masyarakat, misalnya untuk kerajinan dan pupuk yang memiliki nilai ekonomis," katanya.

Pemkot Pontianak memberikan perhatian khusus untuk penanganan sampah sesuai dengan visi dan misi yang dicanangkan untuk menjadikan Pontianak bebas dari sampah. Untuk itu, pihaknya terus berkolaborasi dengan komunitas penggiat lingkungan dan masyarakat supaya mereka dapat memilah-milah sampah, mana yang organik dan non organik.

"Kalau sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau gas metan. Kalau non organik, seperti plastik bisa didaur ulang menjadi biji plastik, sehingga memiliki nilai ekonomis, kemudian kertas bisa diolah menjadi barang-barang bermanfaat," ujarnya.

Keberadaan TPS (Tempat Pembuangan Sementara) di pinggir-pinggir jalan dan menimbulkan kesan kumuh, kotor serta merusak estetika keindahan kota, ke depan akan ditiadakan. TPS-TPS tersebut akan ditempatkan di lokasi yang tersembunyi dan tidak merusak estetika keindahan kota.
"Nanti tiap-tiap kecamatan hanya ada satu TPS saja, sehingga kota ini lebih tertata rapi dan indah," ujar Edi.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat supaya tidak membuang sampah sembarangan, terutama para pedagang informal yang berjualan makanan dan minuman. Di lokasi mereka berjualan, masih ditemukan sampah berceceran dan ada yang dibuang ke sungai atau parit. (dino/bob)

Komentar