Selasa, 10 Desember 2019


74 Persen Siswa Ikuti UNBK

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 208
74 Persen Siswa Ikuti UNBK

Ist

PONTIANAK, SP – Sebesar 74 persen siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat, akan mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Kalbar tahun ini. Persentase itu didapat dari jumlah 121.204 peserta, dari total 163.469 peserta Ujian Nasional (UN).

Ujian akan berlangsung April mendatang.
  Sebagaimana tahun sebelumnya, untuk jenjang SMA sederajat, 100 persen pesertanya mengikuti UNBK. Tahun ini jumlahnya mencapai 65.766 siswa. Sedang di jenjang SMP, hanya 46.116 siswa yang ikut UNBK dari total 88.380 peserta ujian. Sisanya masih menggunakan metode Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP).  

Salah satu sekolah yang masih menerapkan UNKP adalah SMPN 2 Sungai Ambawang, Kubu Raya. Total ada 85 peserta UN tahun ini. Akan tetapi, sekolah terkendala unit komputer. Kebutuhan utama UNBK.   "Makanya untuk sementara ujian tahun ini kita masih menggunakan ujian nasional berbasis kertas," terang Kepal SMPN 2 Sungai Ambawang, Saptono, Kamis (14/3).  

Dia berharap kondisi ini bisa jadi perhatian pemerintah. Sehingga di tahun mendatang, sekolah bisa menerapkan ujian berbasis komputer. 

"Kami tentu berharap mendapatkan bantuan unit komputer. Sementara untuk pengadaan server pihak sekolah mungkin bisa, tapi unitnya kami belum bisa,” katanya. 

Sebenarnya, dari sisi kesiapan ruangan komputer dan segala macam, pihak sekolah sudah sangat siap. Termasuk fasilitas jaringan internet sudah terpasang. Namun jumlah komputer yang ada kurang.   “Kemarin juga sempat terpikir untuk memungut (iuran) dari orang tua siswa, namun secara aturan itu tidak boleh sehingga kita urungkan," katanya. 

Sekolah sempat berupaya lain dengan meminta siswa membawa komputer jinjing atau laptop untuk memenuhi kekurangan perangkat. Namuan tetap saja tak berhasil. Tidak semua orang tua siswa di sana mampu dan memilikinya.

Opsi lain, sekolah bisa bergabung ke sekolah lain. Namun SMAN 1 Sungai Ambawang, sudah terisi oleh sekolah lain yang menumpang. Selain itu dari faktor jarak, tidak diperbolehkan. Pasalnya, jarak kedua sekolah lebih dari lima kilometer. Aturan melarang itu.
  "Kita sudah mengadakan try out sebagai pemantapan siswa dalam menghadapi ujian nasional,” sebutnya.  

SMAN 1 Belimbing, Melawi sejatinya sudah siap menggelar UNBK. Sebanyak 60 komputer plus empat laptop cadangan sudah disiapkan. Jaringan internet pun tersedia. Namun ada ketakutan gangguan server dan listrik byarpet, sebagaimana tahun lalu.   Saat saat gladi bersih UNBK, Senin (11/3) lalu, server pusat sempat bermasalah.

Akibatnya, sesi pertama yang harusnya dimulai pada pukul 07.30 WIB molor hingga pukul 11.00 WIB. Sedang di hari kedua, listrik sempat padam di sesi pertama selama delapan menit.   “Jadi kendala yang mungkin saja terjadi yakni gangguan pada server pusat dan listrik. Tapi bisa juga kemungkinan adanya persoalan dari perangkat UNBK nanti,” kata Kepala SMAN 1 Belimbing, Sumardiyana.

Hanya ada 35 SMP di Kabupaten Melawi yang akan menggelar UNBK. Padahal, ada 105 sekolah tingkat menengah di sana. Sisanya, masih akan menggunakan cara lama, dengan kertas dan pensil.   “Untuk UNBK, kita menempatkan 15 sekolah penyelenggara. Tapi yang ikut lebih dari itu, ada 35 sekolah dengan jumlah siswanya sekitar 700 an orang,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Melawi, Joko Wahyono.   UN SMP akan dilangsungkan selama empat hari mulai tanggal 22 April hingga 25 April 2019.

Sejumlah sekolah saat ini masih mempersiapkan berbagai perangkat pendukung. Sekolah penyelenggara UNBK sendiri, bertambah 14 sekolah dari sebelumnya yang hanya digelar di SMPN 1 Nanga Pinoh saja.   “Jadi memang agak sedikit kerepotan. Tapi berdasarkan cek terakhir kami, 14 sekolah yang baru menyatakan siap untuk menyelenggarakan UNBK,” katanya.  

 Persiapan UNBK juga dilakukan terus menerus. Operator bersama Proktor juga sudah dilatih di Pontianak. Kemungkinan kendala besar yang bisa muncul yakni kesiapan listrik PLN. Kemudian berikutnya adalah sinyal maupun jaringan internet yang akan dipakai.  

 “Itulah dua kendala utama. Untuk itu kami jauh-jauh hari sudah menyurati PLN dan Telkomsel, dan mengundangnya dalam rapat koordinasi. Namun, kedua perusahaan tersebut tidak hadir,” katanya.    Untuk kecamatan yang hanya mendapat pasokan listrik di malam hari, Disdikbud sudah menyampaikan hal tersebut ke PLN.

Kasus ini terjadi seperti di Kecamatan Ella Hilir, Menukung hingga Sayan.   “PLN di sana menyatakan siap untuk membantu. Kita terus memantau kondisi di sana. Koordinasi dengan kepala sekolah terakhir, mereka mengatakan siap mendukung listrik. Lantaran rata-rata komputer atau laptop yang tidak terlalu besar memakan daya listrik, diyakini semua lancar.

 Apalagi UNBK sifatnya nasional. “Tentunya dari kementerian hingga gubernur juga berbuat sama, agar PLN bisa membantu pelaksanaan ujian,” jelasnya. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Suprianus Herman mengatakan, rangkaian UN akan dilaksanakan 25 Maret hingga 13 Mei 2019, dengan melibatkan 2.574 satuan pendidikan dari tingkat SMP, SMK dan SMA se Kalbar.

Tidak semuanya menggelar UNBK.   “Saya yakin ke depan sudah bisa kita penuhi untuk semua sekolah, melaksanakan ujian berbasis komputer. Apalagi Gubernur sekarang fokus sekali dengan pendidikan," katanya. Dinas sudah berupaya membangun komunikasi dan koordinasi, dengan pihak terkait, seperti PLN dan Telkom.

PLN sebagai penyedia listrik, dan Telkom untuk jaringan internet. Hanya, dia tak berani memastikan tak akan ada gangguan. “Gangguan pasti terjadi, tapi kita minimalisir,” katanya. Pihaknya akan meningkatkan indeks integritas dalam pelaksanaan UN. Termasuk capaian nilai. Semua agar ada peningkatan dan perbaikan dari proses belajar sesuai standar nasional pendidikan.

 "Anak-anak kita harapkan rileks seperti biasa, gunakan waktu untuk belajar dan berdoa, karena itu yang paling penting. Kalau soal kemampuan IT, saya yakin mereka sudah pandai semua," pungkasnya.

Jaminan Integritas  

KETUA
Panitia Ujian Nasional Kalbar, Urai Muhani mengatakan, perlu totalitas pemerintah daerah dalam penyelenggaraan ujian nasional tahun ini. UNBK bisa meningkatkan indeks integritas dalam pelaksanaan UN.

Tantangan berikutnya adalah, meningkatkan prestasi dan capaian dalam UN.
  “Untuk itu perlu ada perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran sesuai Standar Nasional Pendidikan (SNP),” katanya.   Faktor integritas UN tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Di antaranya adalah soal isian singkat yang terdapat pada mata pelajaran matematika jenjang SMA sederajat.

Soal bersifat Higher Order Thinking Skills (HOTS).
  Ada pula Sertifikat Hasil Ujian Nasional (SHUN), juga menggunakan tanda tangan digital, dan biaya untuk proctor dan pengawas ujian di satuan pendidikan menggunakan anggaran yang dibebankan pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).  

Sistem baru ini harus terbebas dari modus dan keterlambatan proses penyelesaian. Perbedaan penyelenggaraan dengan tahun lalu hanya pada jadwal dan proyeksi peserta UN serta penguatan peran Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan.  

“Ujian atau evaluasi bagi anak didik adalah bagian dari pendidikan. Maka hindarkan dan cegah semua upaya yang mengarah pada ketidakjujuran, karena itu jelas akan mengingkari hakikat pendidikan,” tutupnya. (bls/lis)

PLN Antisipasi
 

 Untuk mengamankan pasokan listrik jelang UNBK, PLN Unit Induk Wilayah Kalbar telah mengantisipasi dengan perbaikan dan pemeliharaan pembangkit, jaringan transmisi serta distribusi.

Khusus di jaringan distribusi, upaya dilakukan dengan memangkas pohon di dekat jaringan listrik, dan pemeliharaan trafo distribusi. Upaya lainnya, visitasi ke sekolah-sekolah untuk mengetahui kondisi instalasi listrik serta kesiapan daya listrik.

Agar tak terjadi gangguan mendadak, PLN menyiapkan beberapa genset bergerak di setiap kantor Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3), dan Unit Layanan Pelanggan (ULP).

Layanan ini bisa bergerak ke sekolah, jika terjadi gangguan listrik. Sementara jika terjadi gangguan pada trafo distribusi yang membutuhkan penanganan serta perbaikan yang cukup lama, PLN juga telah menyiapkan Unit Gardu Bergerak (UGB) dengan berbagai kapasitas daya di setiap kantor ULP.

 “Upaya persiapan tersebut menjadi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang harus dilaksanakan di setiap unit-unit layanan,” kata Manager Komunikasi PLN Unit Induk Kalbar, Syaipunnur Rahsia.

 PLN memiliki empat UP3 di Kalbar, di antaranya di Pontianak, Singkawang, Sanggau dan Ketapang. SOP ini akan mempermudah unit tersebut mengeksekusi pengamanan pasokan listrik. Hal terpenting adalah harus ada komunikasi antara PLN dan pihak Dinas Pendidikan, serta sekolah-sekolah yang akan melaksanakan UNBK.

 “Jika terjadi kendala terkait pasokan listrik yang berpotensi terjadinya gangguan  saat  pelaksanaan UNBK, agar dapat segera menghubungi kantor-kantor unit layanan pelanggan terdekat,” jelas Syaipun.

Telkom Jamin


 Manager Corporate Customer Accses Network (CCAN) Telkom Pontianak, Ernanto Widodo menjelaskan Telkom sudah menyediakan sarana jaringan, dan juga menjaga availabilitas yang ada di sekolah.

Sehingga jaringan tetap terjaga baik ketika mulai, dari mengunduh soal sampai mengunggah jawaban dan nilai.   Telkom juga sudah menyediakan tim CCAN Corporate Customer Accses Network yang bersiap di daerah. Ketika ada masalah, tim akan cepat turun ke lapangan. Jika sekolah menggunakan jaringan yang bukan milik Telkom, sekolah diminta menjalin komunikasi langsung dengan perusahaan provider tersebut.  

“Untuk daerah yang belum tersambung fiber optik, ada sarana lain yaitu radio dan backup lainnya yang sudah disiapkan. Telkom juga sudah didukung dengan satelit dan radio IP serta Telkomsel,” ucapnya.
  Sedang untuk daerah yang sudah memiliki fiber optik, kecepatan internetnya minimal 5-10 Mbps. Jika menggunakan layanan radio, kecepatannya mulai dari 2 Mbps.  

“Availabilitas di Kalbar sudah hampir terkover semuanya, karena Telkom didukung berbagai macam seperti satelit, radio IP dan Telkomsel. Jika satu jaringan terganggu, maka jaringan dipindahkan ke jaringan yang masih available di daerah tersebut,” katanya.
  Secara area, aksesibilitas memang belum 99 persen, namun secara availabilitas dijamin 99 persen.

Ada beberapa daerah yang jauh dari ibukota kabupaten, kemungkinan belum menggunakan Telkom. Tetapi mungkin sudah memiliki jaringan dari provider lainnya. Telkom juga memiliki hubungan dengan Other Line Operator (OLO) yang menghubungkan perusahaan-perusahaan yang bukan di bawah grup Telkom.
 

 “Apa pun juga dan siapa pun juga, jika memerlukan bantuan dari Telkom bisa melalui berbagai unit Telkom,” katanya.   UNBK yang dipakai pun sejatinya bukan sepenuhnya daring. Komputer perlu terhubung internet hanya ketika mengunduh soal, dan mengunggah jawaban dan nilai. Itu pun tidak dilakukan dalam waktu bersamaan dan di hari yang sama.  

Online lokal menjadi tanggung jawab masing-masing sekolah mau pun petugas jaringan komputer yang ada di sekolah tersebut. Misalnya di sekolah ada jaringan LAN lokal, maka LAN yang akan bertanggung jawab,” sebutnya.
  Peran Telkom lebih pada persiapan mengunduh soal sebelum UNBK dan mengunggahnya jawaban dan nilai setelahnya.

Sebagai pengamanan, sekolah bisa mengajukan surat ke Telkom. Namun surat dari pusat memang sudah diberikan untuk menjalankan pengamanan jaringan.   “UNBK ini kan sudah berlangsung lama, intinya sekolah sudah punya internet dan Telkom sifatnya melakukan pengamanan jaringan,” katanya. (din/eko/iat/rud/bls)