Ajak Milenial Lebih Aktif dan Berani Berkarya

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 132

Ajak Milenial Lebih Aktif dan Berani Berkarya
ASP dan BEM FKIP Untan Gelar Pelatihan Public Speaking dan Menulis
Public speaking adalah skill yang memang dibutuhkan di dunia profesional. Suka atau tidak, setiap orang pasti akan dituntut untuk presentasi atau sekadar menyampaikan opini saat mengemban tugas. Namun, masih banyak yang menganggap ini sebagai momok menakutkan terutama bagi seorang introvert atau pemalu. 

Kebanyakan orang takut untuk bicara di depan publik adalah karena tidak adanya rasa percaya diri.
Menghindari hal tersebut, Komunitas Aksi Sedekah Pendidikan (ASP) bekerja sama dengan BEM FKIP Untan menggelar Pelatihan Public Speaking dan Menulis di Aula FKIP Untan, kemarin, dengan tema "Pentingnya Kemampuan Menulis dan Public Speaking di Era Millenial". Adapun peserta dari kegiatan ini, yakni dari berbagai komunitas di Kota Pontianak dan para mahasiswa.

Pelatihan ini diisi oleh tiga pemateri yaitu Nani Kumalasari, Rizky Kurniawan dan Setiadi. Adapun rangkaian materi yang disampaikan, yakni mengenai menulis artikel, menulis sebuah press release dan public speaking.

“Tujuan dari acara ini yaitu mengajak para anak muda, khususnya di Kota Pontianak untuk lebih aktif dan berani berkarya serta berani tampil di depan publik,” ujar Direktur ASP, Marsita Ulfa.

Lewat pelatihan  satu hari tersebut, ia berharap para peserta dapat mengembangkan kemampuannya, baik itu dalam menulis artikel, menulis sebuah press release maupun kemampuan public speaking.

“Jadi harapannya selesai pelatihan ini, para peserta bisa termotivasi dan terus menggali potensi mereka, khususnya di bidang menulis dan public speaking,” harapnya.
Sementara itu, Rizky Kurniawan dalam materinya banyak memaparkan bagaimana membuat alur penulisan yang benar sesuai kaidah jurnalistik yakni 5W+1H. Namun sebagai pemula, ia mengarahkan para peserta untuk memperkuat lead berita terlebih dahulu.

“Karena lead berita itu memudahkan alur penulisan selanjutnya. Dan penyajian berita untuk web tidak perlu bertele-tele, sehingga membuat pembaca jenuh. Buatlah berita yang singkat padat dan jelas,” paparnya.
 

Salah seorang peserta, Feri mengaku senang bisa mengikuti pelatihan tersebut. Karena banyak sekali ilmu yang didapat, terutama bagaimana dasar dalam menulis.   "Di sini kita bisa tahu, bagaimana kita bisa mendapatkan inspirasi buat menulis," kata dia.

Sementara peserta lainnya, Lilis mengungkapkan, pelatihan tersebut memberikan sebuah pencerahan baginya tentang dasar-dasar dalam menulis sebuah press release dan melihat keakuratan dalam sebuah berita.

“Biasanya kalau baca berita itu kan, cuman sekadar baca tanpa lihat model atau rumusnya. Tapi setelah mengikuti pelatihan ini, saya jadi lebih paham bagaimana cara melihat sebuah berita yang baik dan benar. Jadi bisa tahu berita ini valid atau tidak,” ucapnya.
  Dino, peserta lainnya, mengungkapkan bahwa, sebagai mahasiswa, dirinya harus melatih berbicara dengan dasar intelektual yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.  

“Ketika berbicara tidak sekedar omong saja, kalau untuk omong saja siapa pun bisa, tapi untuk berbicara dengan gaya intelektual dan akademisi bagi mahasiswa sangat perlu,” kata dia. (dino/bob)