Pemilih Pemula Belum Tentukan Pilihan

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 76

Pemilih Pemula Belum Tentukan Pilihan
Komisioner KPU Kalbar

PONTIANAK, SP – Tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu 2019 terancam rendah. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan target 77,5 persen, untuk angka partisipasi tersebut. Namun di lapangan, gejolak golongan putih (golput) dan pengetahuan pemilih pemuda soal kandidat jadi masalah.

Khusus di Kalbar, berkaca pada Pemilihan Kepala Daerah 2018 lalu, angka partisipasi pemilih hanya 75,07 persen. Meski naik 1,46 persen dari Pilpres 2014, catatan itu di bawah target 77 persen yang dipatok. Di tataran nasional pun, partisipasi pemilih tahun lalu hanya 72,66 persen.

Salah satu pemilih pemula di Anjongan, Mempawah, Sonia menyebut hanya akan memilih calon presiden dalam Pemilu pertamanya. Untuk kategori calon lainnya, bisa jadi surat suara tak akan disentuh. 

“Yang lain (selain calon presiden) tidak ada saya kenal,” katanya, Selasa (19/3).

Pemilih pemula lain, Ichwan warga Pontianak, masih belum tahu akan mencoblos atau tidak. Dia tidak terlalu ambil pusing dengan para calon wakilnya di legislatif. Sementara kampanye pemilihan presiden, dirasanya terlalu ramai dengan perdebatan tak jelas di media sosial.

“Sosialisasi sudah dapat, tapi tak tahu milih atau tak, lihat nantilah,” sebutnya.

Bima Isnanda, pemilih pemula asal Landak, sudah tahu tahapan dan perihal pencoblosan berkat sosialisasi KPU. Namun, pelajar SMAN 1 Ngabang ini, tidak banyak kenal calon legislatif. 

"Saya hanya kenal dengan pasangan calon presiden dan wakil presiden. Kalau caleg terlalu banyak, tapi tidak ada yang kenal,” katanya. 

Tak ada satu pun nama caleg yang mampir di kepalanya. 

“Kalau capres, saya sudah punya pilihan, dikarenakan hanya dua pasang saja yang calon. Tapi caleg dan DPD, pilihan nanti tergantung di TPS,” katanya.

Kecenderungan pemilih pemula, diperparah isu golput yang belakangan meramaikan media sosial. Walau sejatinya, sejak pengumuman calon wakil presiden pun, kabar ini sempat menggema. Terlebih sekarang ketika pemilihan presiden ramai dengan kampanye hitam.

Namun demikian, KPU daerah tetap optimis partisipasi pemilih akan melampaui target. Sejumlah sosialisasi khusus bahkan digelar untuk pemilih pemula yang memiliki persentase 20-30 persen dari total pemilih di Indonesia. 

KPU Mempawah misalnya, memasang target 79-80 persen partisipasi pemilih. Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) mereka 189.182 orang dengan 4.490 di antaranya pemilih pemula. Walau memang, dalam Pilkada lalu, partisipasi pemilih hanya 73 persen.
“Kita sudah sosialiasi ke sekolah, kampus, kelompok agama, kelompok yasinan, desa-desa, ibu-ibu, sampai di rumah ibadah,” kata Ketua KPU Mempawah, M Agoes.

Sosialisasi dimulai sejak Januari. KPU turut membentuk relawan demokrasi yang dibagi dalam 10 basis. Satu di antaranya menyasar pemilih pemula. Strateginya dengan membuat pemilih ini penasaran dengan pesta demokrasi.

“Kita buat pemilih pemula penasaran dalam meningkatkan partisipasi pemilih di Mempawah, sehingga mereka mencari tahu mengenai Pemilu mendatang,” katanya.

Dalam sosialisasi, jenis-jenis surat suara turut dikenalkan. Banyaknya surat suara, memang dikhawatirkan membuat bingung pemilih. Kedatangan ke sekolah dan kampus yang jadi basis pemilih pemula pun tak hanya sekali. Agenda macam konser dan festival drumband pun diharap bisa menaikkan kesadaran masyarakat, menggunakan hak pilih mereka.

Untuk meraih perhatian pemilih pemula, KPU Melawi gencar di media sosial. Sosialisasi daring itu memberikan penjelasan soal hari pencoblosan dan hal penting lain seputar pemilihan umum. Setidaknya, ada 16.980 jiwa pemilih di bawah usai 20 tahun. 

“Jumlah pemilih pemula yang berpotensi golput kita belum bisa mendeteksinya. Namun, kita berupaya dalam sejumlah sosialisasi, agar mereka menggunakan hak pilihnya," kata Ketua KPU Melawi, Dedi Suparjo.

Selain meramaikan media sosial, mereka juga datang langsung ke sekolah dan kampus. Cara-cara lama seperti memasang spanduk dan baliho juga dilakukan. Pentas seni dan konser musik dengan melibatkan sejumlah sekolah turut dilakukan.

Ketua KPU Kapuas Hulu, Ahmad Yani optimis jumlah partisipasi pemilih meningkat. Di 2018 lalu, angka mereka berada di 79,21. Tak heran bila target 77,5 persen tahun ini dirasa mungkin.

"Cuma sosialisasi sejauh ini dilakukan di tingkat kecamatan saja, dikarenakan terkendala pada anggaran dan keterbatasan personel," terangnya.

Sementara mereka yang menyasar desa, berasal dari relawan demokrasi. Namun jumlahnya hanya 55 orang. 
“Kita berharap mereka bisa membantu kita dalam menjangkau pemilih yang jauh, yang tidak bisa diakses untuk didatangi oleh kami," sampainya.

Sementara Komisioner KPU Sambas, Martono meminta masyarakat menentukan pilihan sebelum pencoblosan. Hal ini agar pemilih tak kebingungan dalam bilik suara, dengan jumlah surat suara yang banyak. 

"Setiap kali KPU maupun relawan sosialisasi ke basis pemilih pemula, kami selalu menyampaikan untuk mereka menentukan pilihan sebelum datang ke TPS. Ini untuk menghemat waktu dan tidak kebingungan di bilik suara nanti," jelasnya.

Sebagai pemancing antusias di hari pencoblosan, mereka bahkan mengadakan lomba swafoto di Tempat Pemungutan Suara. Hadiah yang ditawarkan tak tanggung-tanggung, totalnya Rp11 juta. 

“Total hadiah RP11 juta yang rencananya akan diluncurkan nanti 7 April 2019 pada acara Pemilu Run," katanya. 

Sementara Komisioner KPU Kalbar, Zainab mengatakan pemilih pemula di Kalbar hanya untuk mereka yang memasuki usia 17 tahun dari rentang Pilkada 2018 ke 17 April 2019. Jumlah pastinya masih dalam pendataan KPU. 

Dalam hal ini, sebagai pelaksana, KPU sekadar memfasilitasi pemilih. Mereka yang masuk kategori, akan memiliki hak dan masuk daftar. Namun begitu, KPU tetap berupaya maksimal menekan angka golput pada Pemilu 2019. 

"Kami selalu melakukan sosialisasi terhadap pemilih, terutama pemilih pemula, itu tetap kami jalankan sampai saat ini," jelas dia. 
Dia yakin target 77,5 persen yang ditetapkan bisa terlampaui. 

"Kami berharap pemilih pemula berkontribusi pada Pemilu 2019. Karena nasib bangsa tergantung anak muda, saya sangat berharap dan mengimbau pada 17 April semua ke TPS," tuturnya.

Partai Berpartisipasi

Peran meningkatkan partisipasi pemilih bukan hanya beban KPU, namun juga peserta Pemilu dan partai politik. Mereka harus mampu membuat pemilih tergerak hati dan langkahnya menuju TPS. 

Ketua DPD Golkar Melawi, Abang Tajudin terus mengoptimalkan perolehan suara Pemilu legislatif. Target mempertahankan kursi Ketua DPRD pun menjadi hal yang tak bisa ditawar. Kampanye dilakukan di seluruh kalangan, termasuk pemilih pemula.

"Golkar inikan partai yang dinamis. Program yang ditawarkan partai serta caleg juga diperuntukkan bagi seluruh kalangan. Kalangan muda juga menjadi target kita," katanya.

Golkar punya kiat - kiat khusus untuk menggaet pemilih pemula. Walau tak dijabarkan secara detail. Dia hanya menyebut keinginan generasi milenial akan ditampung partainya.

"Pemilih pemula ini cenderung mengakses media sosial lebih banyak ketimbang kalangan lain. Karena itu pula, kampanye di medsos gencar kita lakukan. Baik oleh caleg maupun partai," katanya.

Secara umum, Golkar akan berupaya mewadahi kreativitas para kaum muda. Karenanya kampanye tak sekadar menggelar pertemuan atau menyebarkan Alat Peraga Kampanye, tapi juga masuk dalam komunitas atau kelompok pemuda. Mendengar harapan mereka untuk masa mendatang.

"Selain usulan pembangunan, tak jarang pula kaum muda ingin diwadahi di bidang-bidang tertentu, seperti olahraga. Ya bila mampu kita fasilitasi, tentu kita bantu," katanya. (ben/dvi/din/eko/iat/nak/noi/sap/bls)