Calon Anggota DPRD Kalbar Mengklarifikasi Kasus Pemukulan Petugas Bea Cukai Entikong

Ponticity

Editor Shella Rimang Dibaca : 132

Calon Anggota DPRD Kalbar Mengklarifikasi Kasus Pemukulan Petugas Bea Cukai Entikong
Potret saat pelapor dan terlapor diperiksa oleh penyidik Polsek Entikong, beberapa waktu lalu.
PONTIANAK, SP - Mengenai dugaan kasus pemukulan yang terjadi antara calon anggota DPRD Kalbar, Agustinus Clarus dengan seorang pegawai Bea Cukai Entikong, Jumat (15/3) lalu, Suara Pemred mengkonfirmasi lagi kepada Agustinus Clarus, Rabu (19/3), sekitar pukul 18.50 wib melalui via telepon.

Dikatakan Agustinus, mengenai pemberitaan yang telah beredar di media tersebut tidak semua benar dan kasus ini masih dalam proses penyidikan.

Disebutkan dia, pagi hari ketika dikonfirmasi, dia sudah mengambil hasil BAP ke kepolisian. Namun dengan BAP tersebut, pihak mana pun tidak bisa menyimpulkan siapa yang salah dan siapa yang benar.

Dia sangat menyayangkan kasus yang menimpa dirinya tersebut sudah dipublikasi oleh media massa, yang seolah-olah dalam pemberitaan tersebut menyudutkan dan menyalahkan dirinya tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu kepada dirinya.

“Jadi abang kayak disudutkan, padahal hasil visumnya (pada hari kejadian) tidak ada luka yang berarti,” katanya.

Dibenarkan dia, pada saat kejadian dirinya memang sempat emosi terhadap petugas tersebut. Namun emosi dirinya muncul bukan tanpa alasan. Saat pemeriksaan itu, kata dia petugas mengoyak-ngoyak bungkusan obat yang dibawa bersamannya itu.

Sebelumnya, dia menjelaskan saat itu petugas Bea Cukai Entikong mengambil kunci mobilnya secara paksa, setelah itu dirinya dibawa ke kantor Bea Cukai dan diadili oleh tujuh orang petugas di sana. “Lalu mereka seenaknya mengambil foto dan segala macam, maka itulah abang napak (menghentak) meja,” terangnya.

“Kalau abang inikan orangtua, jadi tahu prosedurlah,” tambahnya lagi.

Ditambahkan dia, jika memang obat-obatan yang dibawanya itu mencurigakan, maka seharusnya petugas Bea Cukai melakukan pemeriksaan menggunakan X-ray. Tidak perlu melakukan pengoyakan seperti yang dilakukan saat itu.

“Itulah, udah empat kali abang ngomong (menegur petugas), tapi mereka (petugas) tidak mau dengar,” terangnya.

Diketahui, obat yang saat itu dibawanya memang dari Indonesia, yakni obat dokter paru yang kemudian dititipkan ke seorang pasien di wilayah Batang Tarang. Namun berhubung saat itu hari sudah malam, sekitar jam 12 malam, akhirnya ia memutuskan untuk tidak singgah di sana. Kala itu satu hari sebelum kejadian, Selasa (18/3).

Setelah itu, ia menginap di kebunnya yang berada di daerah Singabang. Kemudian pada pagi hari, langsung menuju ke Tebedu.

“Lalu di Tebedu itu kan tidak ada mobil, mobil abang tinggalkan, tapi tinggalkannya di sebelah Malaysia. Ya biasalah, abang selalu begitu” ujarnya.

Lalu, pada hari itu ia dijemput oleh seorang temannya dan dibawa ngopi di sebuah warung kopi di daerah Serian.

“Abang ngobrol (di warkop itu) sekitar dua jam, setelah itu kembali lagi jam 11 siang, udah menuju border lagi,” katanya.

Ketika sesampainya di PLBN, petugas langsung memeriksanya. Kebetulan mobil yang dikendarainya itu sudah sejak satu hari sebelumnya menyimpan obat di dalam mobil.

“Dek (terhadap petugas), obat ini memang tidak ada suratnya, itu memang dari dokter yang pasien rawat jalan yang sudah rutin ditangani sejak enam bulan lalu. Jadi tidak ada lagi keterangan-keterangannya,” katanya kepada petugas saat itu ketika diperiksa.

Dijelaskan dia, saat itu, dia menegur petugas dengan lembut namun sayangnya tidak digubris oleh petugas. Malah, dikatakan dia petugas ini justru membongkar bungkusan obat tersebut hingga dengan cara mengoyak bungkusan tersebut.

“Pun mereka udah mengakui tadi (19/3),” jelasnya.

Sementara itu, mengenai kasus adu jotos antara dia dengan petugas Bea Cukai Entikong, Prayogi Rahayu, saat itu pada adegan petugas mengambil paksa kunci mobilnya. Merasa tidak terima, dirinya pun menarik kembali kunci itu dari tangan petugas. Sayangnya, secara spontan tangannya menghantam ke arah wajah Prayogi.

“Pas ditolak itulah mungkin terjadi benturan, bukan sengaja. Ini refleks ketika mau mengambil kunci itu. Kan tidak mungkin kita ninju orang dalam posisi nyetir (masih di dalam mobil namun sudah berhenti),” katanya.

Mengenai tulisan yang sempat beredar, yang menyatakan bahwa dirinya merasa keberatan atas pemberitaan yang ditulis Suara Pemred, hal itu dibenarkan dia.

Namun dijelaskan dia, tulisan itu bukan berarti tidak terima dengan apa yang diberitakan oleh Suara Pemred, namun berita tersebut dianggapnya terlalu awal dipublikasikan.

“Itu bukan abang marah sama kalian, tidak. Malah abang terima kasih terhadap pemberitaanya, namun terlalu awal untuk mengatakan siapa yang salah. Bagi siapa pun yang telah memberitakan, diharapkan bersabar, karena semuanya ini masih dalam proses,” ungkapnya.

Sebelumnya, Suara Pemred sempat memberitakan kasusnya dengan judul “Tak Terima Diperiksa, Calon Anggota DPRD Kalbar Pukul Pegawai Bea Cukai Entikong,” edisi Sabtu (16/3) satu hari setelah kejadian itu. (sms)