Dewan Nilai Pesona Kulminasi Matahari di Kota Pontianak Stagnan

Ponticity

Editor Mul Dibaca : 193

Dewan Nilai Pesona Kulminasi Matahari di Kota Pontianak Stagnan
KULMINASI - Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mencoba mendirikan telur usai membuka Pesona Kulminasi Matahari, di Tugu Khatulistiwa, Kamis (21/3). Sementara itu, kegiatan ini dinilai oleh wakil rakyat tidak memiliki kemajuan dalam hal rangkaiannya. SU
PONTIANAK, SP - Kegiatan pesona kulminasi yang dilaksanakan rutin setiap tahunnya dianggap tidak ada kemajuan. Acara yang menjadi agenda tahunan Kota Pontianak ini seharusnya berinovasi dari penyelenggaraan sebelumnya. Karena sudah rutin dilakukan sejak lama.      

Wakil ketua DPRD Kota Pontianak, Firdaus Zar'in sangat menyayangkan tidak adanya kemajuan dalam setiap penyelenggaraan kegiatan pesona kulminasi matahari.      

"Semestinya kegiatan ini tidak hanya menjadi seremonial belaka," kata Firdaus Zar'in saat diwawancarai usai pembukaan Pesona Kulminasi Matahari, di Tugu Khatulistiwa, Kamis (21/3).      

Tak ayal, dirinya menilai kegiatan ini masih berjalan stagnan, bila dibandingkan di era kepemimpinan walikota sebelumnya.

“Hal-hal yang kecil perlu diperhatikan. Saya pikir kegiatan ini harus dikemas secara baik, supaya bisa mendatangkan wisatawan domestik atau luar negeri,” katanya.      

Usulan tersebut, bukan tanpa alasan, mengingat Kota Pontianak tidak memiliki Sumber Daya Alam (SDA) pariwisata. Untuk itu, kegiatan yang ada mesti dikemas dengan bagus dan menarik.      

“Jadi kalau hanya kumpul, kemudian walikota datang dan telur berdiri itu sudah biasa,” ungkap Firdaus.

Bila penyelenggaraan kegiatan wisata terkendala dana, dirinya menyarakan pemerintah untuk mengusulkan hal itu.      

"Apapun yang diusulkan oleh pemerintah, pasti dewan dukung, asalkan terukur. Misalnya dana itu mau kemana," ujarnya.

Untuk itu, menurut Firdaus, kegiatan ini mesti dievaluasi secara menyeluruh, agar ke depan ada catatat bagi penyelenggara.

"Kita harap tahun depan, lebih menarik, tidak cuma seremonial belaka," harapnya.      

Sementara itu, Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan, kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang digelar mulai tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September.      

Kota Pontianak merupakan satu-satunya kota di dunia yang dilewati garis khatulistiwa, oleh sebab itu menurutnya ini merupakan berkah yang potensinya harus dimanfaatkan.     

Ia juga mengatakan pemerintah berkomitmen untuk terus membenahi kawasan Tugu Khatulistiwa, supaya menjadi kawasan wisata yang representatif termasuk menambah sejumlah venue.    

“Ini berkah yang harus kita manfaatkan potensinya yang dirangkai dengan kegiatan ekonomi kreatif, guna menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara agar dapat merasakan sensasi pesona kulminasi matahari,” jelasnya.  

Terlebih, lanjut Edi, pada 29 Juni hingga 5 Juli 2019 mendatang akan dilangsungkan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat Nasional ke XXV tahun 2019 di Kalimantan Barat yang salah satunya dipusatkan di Tugu Khatulistiwa.  

“Kita akan terus benahi kawasan Tugu Khatulistiwa ini menjadi kawasan wisata yang representatif, akan kita tambah venuenya,” janjinya.      

Terkait rencana pendirian planetarium di kawasan Tugu Khatulistiwa, Edi menyebut bahwa pihaknya masih terus melakukan koordinasi dengan pihak TNI terkait lahan, pasalnya lahan tersebut merupakan lahan milik TNI.      

Namun, secara gamblang Edi menyebutkan desain planetarium tersebut sudah dikantongi pihaknya.    

“Desainnya sudah ada, hanya saja kita masih lakukan koordinasi dengan pihak TNI masalah lahan. Kalau tidak memungkinkan, rencananya akan kita bangun di bagian seberangnya, karena lahan tersebut masih milik Pemerintah Kota. Tapi ini baru sekadar perencanaan,” pungkasnya. (din/bob)