Terinspirasi OSO, Alda Gadis Pulau Kumbang Belajar ke Taiwan

Ponticity

Editor K Balasa Dibaca : 1030

Terinspirasi OSO, Alda Gadis Pulau Kumbang Belajar ke Taiwan
Alda Swarni Dewi, gadis asal Desa Pulau Kumbang, Kayong Utara saat berada di Kaohsiung, Taiwan.
Alda Swarni Dewi, gadis asal Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara terbang jauh ke Kaohsiung, Taiwan untuk mengikuti Sustainable Development Goals (SDG) cultural camp selama 10 hari. Siapa sangka, keikutsertaannya lantaran terinspirasi sosok tokoh daerah asalnya, Oesman Sapta Odang (OSO).  

“Alda kenal Pak OSO, tapi Pak OSO yang ndak kenal Alda. Alda pengin jadi (seperti) Pak OSO,” kata Alda ketika dihubungi via WhatsApp, Minggu (24/3).
 

Program National University Of Kaohsiung (NUK) jadi jejak pertamanya, meniru kegigihan OSO. Apa yang diinginkan, harus jadi kenyataan.  

“Dari dulu, saya selalu bermimpi naik pesawat, bisa masuk ke perguruan tinggi yang bagus, mendapatkan indeks prestasi 4, bisa ke luar negeri dan bisa membahagiakan orang tua saya,” ungkapnya.  

Sustainable Development Goals (SDG) cultural camp
dimulai 11 Maret 2019. Dalam ajang itu, mahasiswi semester enam prodi Pendidikan Bahasa Inggris IKIP PGRI Pontianak ini belajar banyak soal budaya luar. Mulai dari musik pop hingga filosofi dari negara tersebut.
 

Selain itu, anak tukang urut ini juga ikut mengunjungi beberapa lokasi wisata dan budaya. Di selanya, Alda banyak belajar soal budaya sekolah dan perbedaan pendidikan di Indonesia dan Taiwan.  

“Kami pergi ke Kaohsiung Ciatou Sugar Refinery, Refuieng Night Market, I-Ride, Kaohsiung Software Technology Park, Brogent Technology 4D Movie Experience, di mana kita bisa lihat seluruh dunia dan merasakan secara langsung hanya dalam beberapa menit,” kata anak ke empat dari enam bersaudara ini.

Dalam pesta kembang api penutup acara itu, Alda menampilkan tarian Melayu di hadapan Vice President of NUK, Prof Sam. Sepuluh hari berada di Taiwan, cukup untuk melihat dunia lebih dalam. Dengan mempelajari budaya, dia mengerti dan menerima sudut pandang orang lain dengan lebih baik.

“Kita bisa merasakan betapa berharga dan indahnya perbedaan, betapa bahagia dan damainya dunia saat kita mengenal dan peduli satu sama lain, dan betapa pentingnya menolong mereka yang membutuhkan kita,” jelasnya.  

Dari Kota Kaohsiung, dia belajar bagaimana kemacetan tidak terjadi. Orang banyak jalan kaki. Masyarakatnya memilah sampah seperti plastik, organik, sisa makanan, semua dibuang berdasarkan kategori. Jika tidak, akan dikenakan denda. Kepentingan publik jadi utama.

“Manajemen waktunya bagus, harus disiplin, dan tidak boleh membuang makanan,” katanya.

Sebagai seorang anak desa, dia tidak pernah berpikir ini akan terjadi di kehidupannya. Namun dia sempat menulis 20 pencapaian yang ingin diraih ketika SMA. Ternyata sedikit demi sedikit, mulai terlaksana.  

“Dalam tiga tahun terakhir, saya bisa naik pesawat dari pulau ke pulau hingga dari negara ke negara lain dengan gratis,” katanya. (dino/balasa)