Warga Buang Sampah Sembarangan

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 137

Warga Buang Sampah Sembarangan
Sampah Sebuah pinggiran jalan di Kota Pontianak, digunakan untuk membuang sampah secara sembarangan. Warga belum memiliki kesadaran untuk membuang sampah dengan baik.
PONTIANAK, SP - Sebagian jalan Parit Demang di Kota Pontianak, menjadi tempat pembuangan sampah oleh masyarakat. Terlihat kiri dan kanan jalan yang menghubungkan Jalan Purnama dan Perdana ini, banyak sampah yang berserakan mulai dari sampah rumah tangga hingga sampah sisa bangunan. 

Pengamat lingkungan Universitas Tanjungpura, Kiki Putro Utomo mengatakan, hal ini lebih kepada perilaku masyarakat, penempatan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sebenarnya tidak begitu saja. Tetapi mesti ada syarat yang harus dipenuhi, karena banyaknya syarat penempatan TPS. Biasanya satu kota tidak bisa punya TPS di semua tempat, ada beberapa tempat tertentu yang tidak bisa ditempatkan TPS.

“Ada kecenderungan alamiah dari manusia, jika melihat orang membuang sampah di satu tempat, maka orang lain akan mengikutinya,” ucap pengamat lingkungan Universitas Tanjungpura, Kiki Prio Utomo kepada Suara Pemred. 

Kemudian, keberadaan TPS juga berkaitan dengan sistem pelayanan persampahan kota. Yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia, kendaraan dan biaya. Penempatan TPS biasanya menggunakan metode tertentu, untuk mendapatkan fungsi yang optimal. Dalam artian, tidak memuaskan semua orang. 

Lebih parahnya lagi, kadang-kadang masyarakat juga harus diakui tidak menaati aturan. Jika mengikut aturan, TPS punya jam tertentu dalam membuang sampah juga. Ada aturan beberapa sampah yang tidak boleh dibuang di TPS, dan harus langsung ke TPA. 

“Di masyarakat kita kesadarannya masih kurang, jadi tidak mau repot,” ujarnya. 

Ada kecenderungan di masyarakat, asal tidak di dekat rumahnya. Orang senang rumahnya bersih. Jadi, dipilihlah jalan Parit Demang sebagai tempat pembuangan sampah.

Berdasarkan diskusi beberapa pihak, agar ada usulan denda yang semakin tinggi. Atau pun denda yang tidak bisa diganti dengan uang. Kemudian yang diperlukan adalah kerjasama warga. 

Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono sangat menyayangkan masih adanya masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Salah contohnya di kawasan Jalan Parit Demang. 

“Itu kiri kanannya jalannya sampah. Dikira sepi, lalu buang sampah di sana dan tak mau buang TPS," kesal Edi. 

Diakui Edi, bahkan di kawasan itu ada pelaku usaha rumah makan yang buang sampahnya. Edi mengatakan hal semacam ini tidak bisa dibiarkan. Apalagi Pemkot Pontianak sangat konsentrasi akan kebersihkan kota ini. Bahkan Perwa dan edaran terkait sampah juga ada. 

“Aturannya sudah ada, sekarang bagaimana menjadikan Kota Pontianak bebas dari sampah. Jadi, mari sama-sama menjalankannya,” pungkasnya. (din/lis)

Tidak Bisa Dibiarkan

Selanjutnya Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Tinorma Butar-butar menyebutkan, kawasan itu memang banyak tumpukan sampah, dan itu merupakan TPS liar. 

Tinorma mengaku, juga sudah mendapatkan arahan dari Wali Kota Pontianak, untuk menertibkan masyarakat yang kerap membuang sampah di kawasan tersebut. Dirinya berharap semoga pelaku yang membuang sampah sembarangan tadi, mendapatkan sanksi yang berat.

“Jadi itu bukan TPS resmi dari pemerintah, tapi TPS liar dan dibuat masyarakat yang tidak tertib,” kata Tinorma.  

Ia mengatakan, orang yang buang sampah di kawasan itu, bukan dari masyarakat sekitar. Kebanyakan para pelaku usaha, baik dari rumah makan atau industri rumah tangga. Bahkan sisa-sisa pemangkasan pohon juga ada. 

"Kawasan itu sudah sering kita bersihkan dari sampah. Bahkan juga ada pemasangan plang. Sampah yang menumpuk sudah pernah diangkut," katanya. 

Tinorma menyayangkan masyarakat masih tak mengindahkan, dan tetap saja membuang sampah di kawasan itu. 

Tinorma menjelaskan, sampah-sampah yang ada itu tidak mungkin diangkut lagi. Karena ada pertimbangannya. Yaitu sampah sudah membusuk sehingga dinilai berbahaya jika diangkut. Penanganan selanjutnya, DLH akan melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait dan pihak kecamatan serta masyarakat. 

“Kami akan berkoordinasi mencari solusinya. Yang sudah ada tidak bisa juga dibiarkan begitu saja, tapi jika diangkut bisa menjadi penyakit. Sebab sampah sudah lama menumpuk, gas metannya sudah hidup,” tutup Tinorma. (din/lis)