10 Anak Pontianak Menderita Gizi Buruk

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 105

10 Anak Pontianak Menderita Gizi Buruk
ilustrasi
PONTIANAK, SP - Tahun 2019 baru memasuki bulan ketiga, namun sudah ada 10 anak di Kota Pontianak yang menderita gizi buruk. Hal ini cukup mengherankan di tengah mudahnya akses kesehatan yang ada di ibukota provinsi Kalbar ini.

Pusat Pemulihan Gizi Buruk atau Therapy Feeding Center (TFC) Kota Pontianak mencatat untuk tahun 2019 sudah lebih 10 pasien gizi buruk yang rawat inap. Sementara, untuk tahun 2018 ada 30 semua warga Kota Pontianak.

“Gizi buruk bisa terjadi karena pola makan, pola asuh dan ekonomi serta penyakit penyerta. Hampir 80 persen karena pola makan dan ekonomi,” kata Dokter Umum TFC, dr. Mardiyah saat diwawancarai, Senin (25/3).

Ia mengatakan TFC adalah layanan khusus untuk anak gizi buruk. Jadi pemberian pola gizi makanan yang diatur, tidak ada pemberian infus, kita hanya fokus pada pemberian pola makan. Pada awal datang pemberian makan pada tahap stabilisasi, yaitu pemberian F75 selama tiga jam, setelah keadaannya membaik, lalu diberikan formula F100.

“Setiap hari akan kita lihat kenaikan berat badan dan infeksi lainnya, biasanya anak gizi buruk akan ada infeksi lain yang menyertai,” ucapnya.

Hal ini bukan merupakan wabah, karena rata-rata harus discreening melalui Posyandu. Selain itu, ada juga warga  yang tidak pernah mengakses Posyandu. Biasanya yang gizi kurang sebelum menjadi gizi buruk akan ditangani terlebih dahulu, agar tidak menjadi gizi buruk. 

"Jadi dirawat jalan akan dipantau, agar tidak menjadi gizi buruk. Jika cepat ditangani tidak akan menjadi gizi buruk," terang dia.

Kalau gizi buruk yang sudah diukur berdasarkan berat badan dan tinggi badan bisa dinyatakan positif. Sementara itu, dari penanganannya, bisa melalui therapi dan makanan serta berkoordinasi dengan dokter spesialis anak yang ditugaskan di Puskesmas. 

Tindak lanjutnya, setelah dari TFC akan dilakukan oleh petugas gizi dari Puskesmas masing-masing, supaya tidak menjadi gizi buruk. Hampir semua daerah di Kota Pontianak merata pasien gizi buruknya, tapi kalau banyaknya seimbang.

“Pelayanan di TFC juga gratis tanpa dipungut biaya apapun,” tutupnya.

Sementara itu, Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyayangkan jika masih ada warga Kota Pontianak yang menderita gizi buruk.  Ia mengatakan, sebenarnya di Kota Pontianak tidak ada gizi buruk jika dilihat dari fasilitas dan sarana prasarana yang telah disiapkan. 

“Kalau sampai terjadi gizi buruk berarti terjadi kekurangan pemahaman dari keluarga atau orangtua yang merawat anaknya,” ujar Edi.

Dirinya mengatakan gizi buruk yang terjadi, lebih karena ketidakpahaman orangtua memberikan asupan makanan. Padahal orangtua tersebut mampu untuk memberikan makanan yang bergizi bagi anaknya.

Edi menyampaikan, langkah yang dilakukan, dengan banyaknya Puskesmas dan Posyandu yang ada, diharapkan masyarakat datang untuk memeriksakan anaknya. Jika hal tersebut pun kurang, Pemerintah Kota sudah memiliki cadangan pangan untuk memperbaiki gizi.

“Semoga masyarakat Kota Pontianak paham dan sadar,” harapnya.

Ia mengatakan, Posyandu biasanya dilakukan pada waktu tertentu dan penting untuk mengecek pertumbuhan anak, dan membuktikan anak sehat atau tidak. Kalau gizi buruk terkait pada pola makan, tinggal bagaimana orangtua dan lingkungan bisa menyadari hal itu.

Selanjutnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu mengatakan, untuk anak gizi buruk yang dilaporkan dari Puskesmas atau masyarakat itu dilayani di pusat layanan pemulihan gizi buruk yang ada di Saigon. Di pusat pelayanan tersebut, pihaknya juga bekerjasama dengan dokter spesialis anak, untuk mengetahui apakah ada masalah dengan penyakit penyerta atau tidak.

Ia menjelaskan, kalau ada masalah dan harus dirawat, maka akan dirawat di rumah sakit. Jika penyakitnya sudah teratasi, maka akan dikembalikan ke pusat layanan gizi buruk atau Puskesmas rawat jalan. Pada saat tersebut akan diberikan makanan tambahan dan didampingi tenaga kesehatan.

“Pelayanan kesehatan untuk gizi buruk yang utama adalah kemauan dirawat dan didampingi oleh keluarga pelayanannya juga secara gratis,” ucapnya.

Kemudian, ia mengatakan yang harus dicatat sebagian besar dari kasus gizi buruk adalah penyakit penyerta, jadi tidak murni, karena kekurangan makanan, biasanya adalah tuberkulosis atau HIV AIDS dan masih banyak lainnya.

Sebenarnya, sebelum masuk gizi buruk, terlebih masuk kepada gizi kurang, namun karena pola asuh dan keengganan untuk mengakses Posyandu, maka tidak terdeteksi gizi kurangnya. 

"Oleh karena itu, imbauan kita kepada orangtua, segerabawa anaknya sampai usia lima tahun sebulan sekali ditimbang. Kemudian untuk  RT / RW yang ada di lapangan untuk melaporkan, jika ada anak-anak dengan indikasi kurus," imbaunya. 

Menurut dia, kemungkinan gizi buruk dipengaruhi oleh aspek penyakit yang mendasari, seperti tuberkulosis, jantung dan lainnya. Jika tidak diatasi, maka gizi buruknya juga tidak bisa diatasi. Gizi buruk juga akan berpengaruh pada kecerdasan. Apalagi gizi buruk muncul pada usia di bawah dua tahun. Hal itu bisa menyebabkan stunting, perkembangan volume otak terganggu.

“Gizi buruk juga bisa menyebabkan meninggal dunia, memandang gizi buruk ini harus cermat, karena gizi buruk merupakan efek samping dari penyakit yang mendasar,” terangnya.

Akibat dari gizi buruk, jika tidak dilayani pasti akan berpengaruh pada aspek motorik, otot-otot akan menjadi lemah, dan jika itu terjadi sudah termasuk kategori lambat. Penanganan gizi buruk standar selama tiga bulan, tapi biasanya masyarakat tidak mau menunggu selama tiga bulan. (din/bob)