Ambo' Tang, Si Tuli Yang Terabaikan

Ponticity

Editor K Balasa Dibaca : 436

Ambo' Tang, Si Tuli Yang Terabaikan
Ambo' Tang, warga Kabupaten Bengkayang tengah berusaha membaca pertanyaan yang diajukan, Selasa (26/3).
PONTIANAK, SP - Dalam perjalanan pulang, sekitar pukul 01.30 WIB, Selasa (26/3)--dari kafe di Kantor Komisi Yudisial Pontianak--saya bertemu Ambo' Tang.

Dia duduk seorang diri, tepat di seberang Maestro Hotel, Jalan Sultan Abdurrahman. Cahaya kuning lampu jalan menyirami tubuhnya. Berbaju model zebra dengan celana pendek, lelaki paruh baya itu menggendong ransel di pundak. Rambutnya cepak, semua rata memutih.

Awalnya saya hanya melintas, namun lepas 100 meter, motor Supra butut saya terpaksa putar arah. Penasaran. Ke mana tujuan lelaki seapkir dia sedini ini.

"Bapak mau ke mana?" tanya saya dengan motor masih menyala.

Bukan menjawab, dia justru menunjuk-nunjuk ke arah telinga. Saya tahu maksudnya, tak mendengar. Saya mengulang pertanyaan. Kembali jawaban serupa.

"Bapak mau ke mana?" pertanyaan ketiga, tetap dari atas motor. Bedanya kali ini mesin mati. Tak berisik lagi.

Dia malah melepas ransel. Membukanya dan mengeluarkan buku dan menyodorkannya.

Kondisi remang sulit untuk baca. Sebatang pohon menghalangi cahaya. Motor dicagak. Bokong saya berpindah ke sampingnya. Buku itu sesekali saya miringkan mengikuti pijar lampu.

"SAYA ORANG TULI TIDAK MENGERTI KECUALI CARA TULIS BISA BACA KEPERLUAN SAYA MENCARI BANTUAN DANA SOSIAL UNTUK BANTUAN BEROBAT ELIMA YANG SANGAT TULI LAGI CACAT PINCANG KAKI SEBELAH KIRI SAYA PERLU DIBERIKAN BANTUAN SOSIAL UNTUK BIAYA BEROBAT KEPADA BAPAK IBU SERTA ANAK ADIK DI TEMPAT DEMIKIAN YANG KAMI SAMPAIKAN ATAS BANTUANNYA KAMI UCAPKAN TERIMA KASIH," tulisnya dengan huruf kapital. 

Saya diam. Hening itu dipecah gerakannya yang meminta saya menulis jika ingin bertanya. 

Sebuah senter dikeluarkan. Layaknya arkeolog dalam gua, dia menyinari kertas. Nyalanya redup, mungkin baterainya soak. Kata dia, matanya kabur, betul-betul kabur. Untuk melihat atau membaca, jarak tulisan harus tepat di ujung pupil mata. 

Namanya Ambo' Tang, warga Dusun Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang. Usianya satu tahun lebih tua dari umur negara Indonesia. Tujuannya ke Pontianak, cari bantuan berobat. Saluran pencernaannya bocor. Dua lubang telinganya tuli, bahkan kerapkali mengeluarkan nanah. Belum lagi soal matanya yang minus dan kaki kirinya yang pincang sejak dari ayunan. 

Hampir 10 tahun tubuhnya 'mengoleksi' semua derita itu. Segala cara sudah ditempuh untuk kembali sehat, namun biaya selalu jadi kendala. Vonis tenaga medis, cara sembuh hanya operasi. 

"Empat sampai lima juta untuk operasi ini," katanya dalam tutur dan gestur kaku.

Empat tahun lalu, dia sempat mengajukan bantuan ke Pemerintah Kabupaten Bengkayang. Setelah berbulan-bulan mengurus, hanya Rp2,5 juta yang didapatkan. Jumlah itu tak cukup. Sekadar ganti biaya perjalanan dari tempat tinggalnya ke Bengkayang, serta makan dan minum selama urus ajuan bantuan saja, ongkosnya mendekati setengahnya.

Ambo' Tang dulunya petarung laut. Terik matahari dan amis teman akrabnya. Namun sejak jatuh sakit, sang istri terpaksa jadi tulang punggung keluarga. Anak satu-satunya, lebih dulu menuntaskan janji pada Yang Esa.

"Istri saya, saya tinggal di rumah. Saya berusaha cari bantuan berobat ke sini. Mau minta bantu sama pemerintah," katanya dengan logat Bugis kental.

Suaranya bersaing dengan kendaraan yang baru saja melintas. Tatapan saya fokus ke wajahnya yang keriput. Sesekali beralih ke urat-urat yang muncul di dua belah tangannya. 

Walau dimakan usia, ingatannya cukup kuat. Beberapa kali dia pergi ke Dinas Sosial Provinsi Kalbar. Maksud hati minta bantuan, tapi urusan surat-menyurat yang diutamakan. 

Usaha lain pernah ditempuh. Putus asa dengan Pemerintah Bengkayang, dia mengharapkan bantuan Wali Kota Pontianak--kala itu masih pemerintahan Bapak Sutarmidji. Tapi sayang, di pintu depan, dia ditolak petugas.

Tak hilang harap, beberapa waktu lalu, dia ke Kantor Gubernur. Itu kunjungannya yang ketiga. 

"Saya mau masuk ke sana, mau minta bantu sama pemerintah, Bapak Sutarmidji. Bukan ada dikasih, malah saya disuruh pulang (oleh petugas jaga)," katanya. 

Hari ini, masuk minggu kedua di Pontianak. Tidak ada sanak keluarga, dia tidur di mana kaki lelah. Tiga hari lalu, rumah toko Pasar Flamboyan jadi haribaan. Tidur jam tiga subuh, ketika bangun pagi, sebagian isi tas hilang. Entah perbuatan maling, entah nasib buruk yang karib.

Perihal makan dan minum, kota ini cukup banyak orang baik. Tak tanggung-tanggung, biasanya lima sampai enam bungkus nasi didapat. 

"Saya ambil satu, sisanya saya kasih-kasih itu orang yang sama kayak saya di jalan," tuturnya. 

Asyik cerita, ternyata jam 02.46 WIB terpampang di ponsel. Saya pamit pulang. Tuntas penasaran, kini perasaan malah tak keruan. (suria mamansyah/balasa)