Sabtu, 21 September 2019


Kak Seto Minta Batasi Kunjungan dan Jauhkan AU dari Ponsel

Editor:

K Balasa

    |     Pembaca: 189
Kak Seto Minta Batasi Kunjungan dan Jauhkan AU dari Ponsel

Ketua KPAI, Seto Mulyadi.

PONTIANAK, SP - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Seto Mulyadi meminta siswi SMP korban dugaan penganiayaan, AU dijauhkan dari ponsel. Viralnya kasus ini di media sosial justru akan mempersulit dokter, psikolog maupun psikiater memberi terapi psikologis. Ada tekanan yang sangat dahsyat kepada korban.

"Kami mohon kalau bisa masuk ke ruang korban, tidak ada ponsel yang ikut masuk, dan korban sementara seharusnya dijauhkan dari ponsel,” katanya, Kamis (11/4).

Hal itu juga agar korban tidak terpapar berita yang menyudutkan, yang akan mempersulit penyembuhan.

Kedatangannya ke Pontianak mencoba untuk mengumpulkan informasi dari berbagai pihak. Mulai dari kepolisian, rumah sakit, korban, pelaku dan orang tua mereka. Dia meminta semua orang berpikir jernih agar berita yang beredar tidak menjadi liar.

"Jangan sampai ini menjadi bola liar dan akan semakin membuat korban menderita," katanya.

Pengguna media sosial dimohon meredam semuanya, sebab dampaknya justru membuat korban semakin menderita. Saat ini, tekanan yang paling dahsyat justru tekanan psikologis.

Merebaknya berita liar membuat korban menjadi merasa terkenal, akan tetapi kondisi psikologisnya belum siap untuk menghadapi hal tersebut. Pujian atau umpatan berbahaya untuk perkembangan psikis korban.

"Kalau kita sayang AU, mohon berita viral diredam," kata Kak Seto, panggilan akrabnya.

Semua pihak diharapkan untuk mengedepankan kepentingan anak. Dalam konteks ini, diminta tak memanfaatkan situasi yang justru menjadikan korban semakin menderita dan terganggu hak berkembangnya.

Perihal hasil visum, menurutnya dokter pasti memeriksa secara serius dan bisa dibuktikan dengan benar. Dia mengapresiasi kepolisian dan rumah sakit yang tetap objektif menangani kasus ini. Penanganannya, tentu merujuk Undang-undang Perlindungan Anak.

“Pelaku juga tidak bisa dibenarkan tindakannya dan pemberian sanksi juga harus yang edukatif, yang membuat pelaku tidak akan mengulangi perbuatan kelirunya lagi,” katanya.

Kemungkinan korban senang dengan kedatangan artis. Namun hal itu jangan sampai menjadi senjata makan tuan. Dengan tujuan yang baik justru akan menyudutkan korban. Dia sendiri tak jadi menjenguk AU lantaran merasa intensitas kunjungan terhadapnya terlalu sering.

“Mohon dengan hormat tidak menyebar wajah korban. Sebentar lagi ini akan selesai, manakala korban berjalan di mal dan berbagai tempat, maka kasihan kepada korban," ucapnya.

Dia juga meminta keluarga membatasi kunjungan terhadap korban. Pembatasan tersebut justru untuk melindungi korban sendiri. Dia sangat memahami jika anak pada usia tertentu merasa kunjungan itu sebagai kebanggaan. Namun hal itu bersifat sementara. Jika suatu saat situasi berbalik dan menyudutkan korban, hal ini yang akan menjadi kasian.

“Sementara jauhkan dari ponsel sehingga korban lebih bisa intensif bercengkrama dengan keluarga. Rumah sakit harus disterilisasi dan harusnya tidak semua bisa bertemu korban kecuali keluarga. Jangan sampai hal ini juga dimanfaatkan untuk kepentingan lain," ucapnya.(din)