Anak Petani Penjaga Kedaulatan Udara NKRI

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 2135

Anak Petani Penjaga Kedaulatan Udara NKRI
Letkol Pnb Supriyanto Komandan Skadron Udara 1 Elang Khatulistiwa
SOSOK Komandan Skadron Udara (Skadron) 1 Elang Khatulistiwa, Lanud Supadio, Letnan Kolonel (Letkol) Pnb Supriyanto, benar-benar sangat menginspirasi. Berasal dari keluarga petani di daerah transmigrasi, Letkol Pnb Supriyanti bisa membuktikan kemampuan terbaiknya.  

Letkol Pnb Supriyanto resmi menjabat sebagai Danskaron 1 usai Serah Terima Jabatan (Sertijab) dari Letkol Pnb Agung “Cayman” Indrajaya. Upacara Sertijab dipimpin oleh Danlanud Supadio, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Minggit Triwibowo di Main Apron Lanud Supadio pada Rabu, 25 April 2018.

"Biever", call sign Letkol Pnb Supriyanto, adalah Alumni AAU Tahun 2000. Pria kelahiran Samarinda, 24 Desember 1976 pernah menjabat sebagai Kepala Pembinaan dan Latihan (Kabinlat) Wing 7 Lanud Supadio. 

Sebagai penerbang Pesawat Tempur Hawk 100/200, Letkol Pnb Supriyanto, terkenal berani dan sangat disegani. Bukti keberanian dan kemahirannya dalam mengendalikan di burung besi untuk perang adalah saat ia tampil memotivasi adik-adik kelasnya, yaitu ketika menerbangkan pesawat di atas langit sekolahnya, SMAN 1 Tanah Laut.

Saat itu, tiga Pesawat Tempur Hawk 100/200 dengan nomor ekor pesawat TT0227, TT 0228, dan TT 0230, mendarat di Landasan Udara Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin pada Kamis, 9 Agustus 2018. Kedatangan tiga pesawat tempur ini ke Banjarmasin, merupakan rangkaian latihan Skaron 1 Elang Khatulistiwa Lanud Supadio Pontianak, yaitu latihan Elang Jelajah yang dimulai tanggal 30 Juli 2018.

Letkol Pnb Supriyanti, punya 3500 jam terbang dengan Pesawat Tempur Hawk 100/200. Ia adalah putra asli daerah Kalimantan Selatan. Ia besar di Pelaihari, dari Desa Gunung Melati RT 03, Kecamatan Batu Ampar. Dan merupakan Alumni SMAN 1 Pelaihari Angkatan 1997. 

Walau sukses menapaki karir di dunia militer sebagai Penerbang Pesawat Tempur, Letkol Pnb Supriyanto tidak pernah melupakan masa mudanya. Ia sangat rajin membantu orang tuanya. Sepulang sekolah di SMA Negeri 1 Pelaihari, ia pergi ke sawah mencangkul dan mencari rumput untuk pakan ternak (ngarit). Dan kini ia menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat Tanah Laut. 

Kecerdasan Letkol Pnb Supriyanto telah terlihat sejak duduk di Sekolah SD Negeri Gunung Melati hingga SMP Tajau Pecah dan SMA Negeri 1 Pelaihari. Nilainya pun rengking terus. Lulus dari SMA Negeri 1 Pelaihari, Letkol Pnb Supriyanto minta disekolahkan ke TNI. Kedua orangtuanya merestui dan ia pun lolos AKABRI di Banjarmasin lewat Kodim 1009/Pelaihari. 

Saat kecil, Letkol Pnb Supriyanto tidak pernah mempunyai mainan pesawat. Ia malah hobinya bermain sepakbola. Sejak kelas III SD, ketika di pondok sawah ia menulis "D Sentot", yaitu seroang Jenderal TNI AD. Menjadinya prajurit TNI, bagi Supriyanto adalah garis keturunan dari kakeknya terdahulu sejak zaman penjajahan yang meninggal terkena granat.

Selain cerdas, Letkol Pnb Supriyanto juga terkenal sederhana. Kebanggan tersebut disampaikan oleh Ayahnya, Suyatno (70) dan Ibunya, Sukiyem (65). Prestasi yang diraih anaknya tentu merupakan suatu yang luar biasa dan tidak disangka-sangka. Sebagai seorang petani di daerah memiliki putra yang bisa meraih sukses menjadi perwira militer sebagai penerbang Pesawat Tempur Jenis Hawk 200 TNI AU. (mul)

Pimpin Elang Khatulistiwa Penjaga Langit Perbatasan

SKADRON Udara (Skadron) 1 Elang Khatulistiwa, akan genap berusia 69 Tahun pada 29 April 2019. Usia yang cukup dewasa bagi sebuah organisasi. Saat Danskadron 1 dijabat oleh Letkol Pnb Supriyanto, peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68, diselenggarakan dengan sederhana di home base Skadron 1, Lanud Supadio, Pontianak pada Minggu 29 April 2018. 

Hadir dalam kegiatan tersebut, Danlanud Supadio, Marsma TNI Minggit Tribowo. Ia didampingi Danwing 7, Kolonel Pnb Setiawan, Kadispers Kolonel Pnb Sidik Setiyono, dan Danskadron 1, Letkol Pnb Supriyanto, serta seluruh personel Skadron 1.

Letkol Pnb Supriyanto menjelaskan, bermarkas di Lanud Supadio Pontianak, Skadron 1 mengawaki Pesawat Tempur Hawk 100/200. Keberadaannya sangat strategis, mengingat Kalbar dan kawasan seputar Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, yang berhadapan langsung dengan laut Natuna, Laut China Selatan. Juga berbatasan langsung dengan Malaysia, baik darat maupun laut. 

Skadron 1 tidak hanya mengcover wilayah darat dan laut, tetapi juga untuk mem-backup pertahanan udara. Menjadikan wilayah ini aman, sehingga masyarakat Kalimantan bisa tidur nyenyak. Untuk itu, Personel Elang Khatulistiwa terus meningkatkan profesionalitas. Menjaga, agar Skadron 1 bisa terus besar, karena menghargai sejarahnya. 

Dengan tugas dan kewajiban yang diemban semakin berat, sehingga perlu kerjasama dan dukungan dari seluruh personel. Para personel harus semakin giat dalam berkarya, karena banyak sekali tugas dan operasi yang diemban Skadron 1. Tentunya hal ini menuntut profesionalisme personel, khususnya penerbang. Sehingga tugas dan tanggung jawab yang dibebankan bisa lancar dan zero insiden.

Secara historis, Skadron 1 dibentuk pada 29 April 1950, di Lanud Cililitan.  Dengan alutsista B-25 Mitchell dan B-26 Invader, dan ditambah dengan pesawat Tupolev (TU-2) dari Uni Soviet. Pada fase 2, sekitar 1958, kedudukan dipindah ke Lanud Abdurrahman Saleh (Abd), di Malang. 

Saat itu, Skadron 1 diperkuat dengan pesawat OV-10F Bronco sampai tahun 1998. Pada 1999, home base berpindah ke Lanud Supadio, Pontianak. Dengan diperkuat pesawat Hawk 100/200, dan mendapat julukan Elang Khatulistiwa. Skadron 1 pernah dibekukan pada 1977, kemudian diaktifkan kembali pada 1990 di Lanud Abd.

Skadron 1 selalu menyiapkan suatu flight pesawat yang stanby 24 jam mengawasi wilayah udara, khususnya di Kalimantan. Sehingga keamanan wilayah kedaulatan udara NKRI terjamin oleh eksistensi para penerbang Skadron 1 Lanud Supadio. 

Pesawat Tempur Jenis Hawk 100/200 adalah buatan Inggris, termasuk Alutsista canggih. Kemampuannya di bidang avionik terbilang luar biasa, dan termasuk pesawat tempur taktis. Daya jelajah endurance pesawat tempur ini sampai 2,5 jam dan bisa melakukan pengisian bahan bakar di udara. (mul)

Dianugerahi Gelar Bangsawan Keraton Amantubillah        

LETKOL Pnb Supriyanto yang menjabat sebagai Danskaron 1 adalah perwira menengah di Lanud Supadio yang mendapat pengakuan adat berupa gelar kebangsawanan. Tepatnya dari Keraton Amantubillah Mempawah. Ia dianugerasi gelar Pangeran Anom Yang Mulia Jasa Amantubillah. 

Dengan gelar tersebut, maka perwira menengah TNI AU AAU Tahun 2000 tersebut, menjadi salah satu keluarga kehormatan Keraton Amantubillah Mempawah. Penganugerahan gelar tersebut membuktikan bahwa Danskadron 1 telah dianggap memiliki kontribusi besar terhadap Bumi Khatulistiwa. 

Peganugerahan dilakukan melalui ritual Adat Toana.  Ritual adat tersebut berjalan khidmat dan sakral. Selain dihadiri para undangan dan kerabat kerajaan, juga dihadiri perwakilan keraton yang ada di Kalbar dan  nusantara, salah satunya adalah dari Keraton Sulu di Filipina. Sekitar 25 orang mendapat anugerah tersebut.

Selain Letkol Pnb Supriyanto dan istri, beberapa orang yang diberi anugerah adalah pimpinan lembaga di Kalbar. Di antaranya adalah Kepala Kepala Kanwil Kemenkumham Kalbar, Rochadi Iman Santoso, yang di anugrahi Yang Mulia Sri Setya Amantubillah, dan diberi gelar Pangeran Mata Waskitha.Kemudian, Kepala Kantor SAR Pontianak, Hery Marantika dianugrahi Yang Mulia Bhakti Amantubillah, dengan gelar Pangeran Anom.

Lalu, Kapolres Mempawah, AKBP Didik Dwi Santoso, dianugerahi Yang Mulia Bhakti Amantubillag degan gelar Pangeran Anom. Selanjutnya, Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir, dengan Anugerah Yang Mulia Bhakti Amantubillah, dengan sebutan Pangeran La Rakka I Marewa. (mul)