Kuwas Ajak Generasi Milenial Melek Sejarah Lokal

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 75

Kuwas Ajak Generasi Milenial Melek Sejarah Lokal
SEMINAR – Kuwas menggelar seminar sejarah lokal di Ruang Konferensi A Universitas Tanjungpura, Sabtu (20/4). Ist
PONTIANAK, SP - Masih banyak ruang sejarah lokal yang menanti untuk digarap oleh anak milenial. Sejarah lokal juga kian redup tanpa perhatian dari anak-anak generasi milenial yang hanya mengetahui sejarah nasional yang terdapat di buku pelajaran.

Hal ini diungkapkan Hera Yulita dari Komunitas Wisata Sejarah (Kuwas), salah satu pembicara seminar yang dilaksanakan di Ruang Konferensi A Universitas Tanjungpura, Sabtu (20/4).

Bahasan sejarah lokal tersebut menjadi salah satu pokok pemikiran yang dibahas pada acara seminar sejarah yang mengangkat tema Membangun Kesadaran Sejarah Lokal di Era Milenial. Acara tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan History Fest yang diselenggarakan oleh Himsera (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah) UNTAN dan berlangsung pada 20-28 April 2019.


"Penulisan sejarah lokal merupakan langkah strategis untuk menyusun sejarah nasional, meskipun sejarah nasional bukanlah rentetan dari sejumlah sejarah lokal," kata Hera.

Kemudian, ia melanjutkan bahwa dalam bahasan sejarah ada kajian wilayah tertentu, pola pemukiman, lembaga pemerintahan setempat, perkumpulan kesenian, pola arsitektur bangunan, makanan khas, sungai, pasar. 

Kuwas Pontianak sendiri hadir salah satunya sebagai upaya untuk mengajak anak-anak muda untuk lebih mengenal sejarah lokal melalui trip. Sebuah usaha mengemas sejarah menjadi lebih menarik.

"Sejarah itu seperti singkong. Singkong kalau direbus sudah biasa, tapi ketika digoreng lalu ditaburi keju di atasnya atau dilengkapi dengan saos mayones, maka akan lebih menarik tampilannya dan meningkat harga jualnya," ucapnya.

Demikian juga dalam mengenalkan sejarah, khususnya di kalangan generasi milenial, perlu sesuatu yang baru, sebuah kemasan yang berbeda untuk menyasar mereka. Agar anak muda kemudian berpendapat bahwa ternyata belajar dan mengenal sejarah itu menyenangkan.

Pembicara lainnya, Safarudin Usman MHD seorang pemerhati sejarah Kalimantan Barat membukanya dengan bahasan mengenai sejarah Tugu Perintis Kemerdekaan Kalimantan Barat, yang lebih dikenal dengan Tugu Digulist UNTAN. 

Safarudin memaparkan bahwa jumlah 11 batang bambu itu melambangkan 11 tokoh perintis kemerdekaan Kalimantan Barat. Selanjutnya Safarudin membahas mengenai sejarah kota Pontianak serta sempat menyinggung mengenai peristiwa Mandor. 

Ia berharap agar mahasiswa pendidikan sejarah FKIP UNTAN khususnya, lebih memberikan perhatian lebih untuk mengangkat sejarah lokal Kalimatan Barat ke permukaan.

Berdasarkan apa yang disampaikan oleh Ketua Panitia, Sarmina bahwa acara ini berisikan beberapa rangkaian kegiatan di antaranya seminar sejarah, seminar BNN, lomba foto mirip pahlawan, serta LKTI. (din/bah)