ASN Dilarang Gunakan Gas Melon

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 1245

ASN Dilarang Gunakan Gas Melon
SUSUN GAS – Petugas Pertamina tengah menyusun gas tiga kilogram alias gas melon. Di Pontianak, Pemkot menegaskan kepada ASN di lingkungannya untuk tidak menggunakan gas melon. Sebab, peruntukkannya untuk masyarakat miskin.
PONTIANAK, SP - Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak diminta untuk tidak menggunakan gas bersubsidi atau gas tiga kilogram (gas melon). ASN Pemkot Pontianak disarankan menggunakan elpiji nonsubsidi, seperti Bright Gas 5,5 kilogram atau 12 kilogram.

"Pemerintah Kota Pontianak menegaskan tidak ada ASN yang boleh menggunakan ASN tiga kilogram. Pilihan bagi ASN harus di atas tiga kilogram," ucap Asisten I Pemkot Pontianak, Iwan Amriady saat membuka sosialisasi Bright Gas bagi pengusaha hotel, restoran, cafe dan ASN di wilayah Kota Pontianak, yang dilaksanakan di Aula Sultan Syarif Abdurrahman Kantor Wali Kota Pontianak, Selasa (23/4). 

“Saya keberatan kalau masih ada PNS di lingkungan Pemkot yang masih gunakan elpiji subsidi. Kalau memang tidak mampu, silakan ajukan ke bansos agar dicarikan solusinya,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, dia mengimbau kepada para pengusaha, mulai dari hotel, restoran, cafe serta rumah makan juga tidak boleh menggunakan elpiji subsidi dan diimbau segera beralih ke elpiji nonsubsidi tersebut.

"Akan tidak etis jika hotel dan restoran menggunakan tabung tiga kilogram yang bersubsidi," katanya.

Dirinya mengatakan semua pihak tidak bisa serta merta menyalahkan pihak pengusaha restoran ataupun hotel atas penggunaan gas tiga kilogram. Karena memang bisa dicermati ada permasalahan distribusi terkait jaminan ketersediaan barang. 

Menurutnya, usaha tersebut tidak boleh berhenti karena tidak ada ketersediaan tabung gas. 

"Kedepannya Pertamina harus mencarikan rumusan atas permasalahan ini," jelasnya.

Dirinya mengatakan bahwa penjaminan titik distribusi menjadi solusi permasalahan ini. Karena saat ini belum ada yang menjamin ketersediaan gas, baik pertamina maupun pemkot. 

Sementara saat ini pihak hotel dan restoran menjadi tersudut karena menggunakan elpiji tiga kilogram sebagai bahan yang digunakan. Sementara hal itu bertentangan dengan konsep pemerintah.

"Pada prinsipnya kita akan mencari jalan tengah yang terbaik. Sejauh ini razia yang dilakukan juga tidak bersanksi hukum. Hal tersebut hanya untuk mengingatkan bahwa gas tiga kilogram hanya untuk masyarakat miskin," jelasnya.

Kemudian, kedepannya pemkot akan menyatukan persepsi tentang masyarakat miskin. Pontianak punya masyarakat miskin, tetapi yang menjadi pertanyaan apakah mereka menggunakan tabung gas tiga kilogram, karena antara penerima masyarakat miskin penerima rastra, BPJS dan kebijakan lainnya ternyata tidak menggunakan gas tiga kilogram. (din/bah)

Peningkatan Pemakaian

Sales Axecutive Elpiji Pertamina Pontianak, Yodha Galih mengatakan, pihaknya menyosialisasikan terkait penggunaan Bright Gas kepada pada pengusaha hotel, restoran, rumah makan dan lainnya.

"Saat ini memang sudah terjadi peningkatan pemakaian elpiji nonsubsidi, salah satunya Bright Gas 5,5 kilogram sekitar 15 persen apabila dibandingkan dengan pemakaian tahun 2018 sebelumnya," katanya.

Menurut dia, terjadinya peningkatan tersebut tidak terlepas dari dukungan semua pihak, dan salah satunya kalangan PNS yang sudah menyadari dengan beralih menggunakan elpiji nonsubsidi sesuai dengan aturan yang memang mengatur kalangan PNS agar menggunakan elpiji nonsubsidi.

Ia menambahkan, pihaknya bekerjasama dengan instansi terkait di jajaran Pemkot Pontianak dalam melakukan edukasi kepada masyarakat terkait, bahwa elpiji subsidi hanya boleh digunakan oleh masyarakat miskin, di luar itu tidak berhak.

"Salah satunya sidak (inspeksi mendadak) kerja sama dengan Satpol PP dan Diskumdag (Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan) Kota Pontianak, di sejumlah rumah makan yang masih saja menggunakan elpiji subsidi tersebut," ujarnya. (din/bah)