Minggu, 15 Desember 2019


Renovasi Tak Harus Melenyapkan Nilai Historis Bangunan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 247
Renovasi Tak Harus Melenyapkan Nilai Historis Bangunan

KUNJUNGI GEREJA – Annisa memandangi salah satu sudut Katedral Santo Yoseph Pontianak saat berkunjung ke gereja yang diresmikan pada 2014 oleh Gubernur Kalbar saat itu, Cornelis.

Gadis berjilbab, Annisa Januarsi ziarahi Gereja Katedral Paroki Santo Yoseph Kota Pontianak. Gereja katedral adalah paroki dari Geraja Katolik Roma di pusat Keuskupan Agung Pontianak. 

Bangunan Gereja St Yoseph ini diresmikan pada 19 Desember 2014 oleh Gubernur Kalbar saat itu, Cornelis. Pemberkatannya pada 19 Maret 2015 bertepatan dengan Pesta St Yosef menurut Kalender Liturgi Katolik Roma.

"Melihat ruang utama, saya pikir kita akan berdecak kagum," kata Annisa pada saat mengunjungi Katedral Santo Yoseph dalam rangaka kegiatan kunjungan tempat ibadah yang dilakukan Satu Dalam Perbedaan (SADAP) Indonesia dan Komunitas Bela Indonesia Chapter KalBar, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan bangunan gaya arsitektur gothic ini memanjakan mata dengan kemegahannya. Lantai dasar parkiran, naik ke lantai satu mata bisa melihat sisi kiri bangunan terdapat Gua Maria. Di sisi kanan, pintu masuk utama menuju ruang ibadah. 

Patung yesus, bunda maria, letak kursi jemaat yang terdapat sembilang lorong. Di dinding ruang utama terdapat empat penulis Injil (Markus, Matius, Lucas, Yohanes). Serta 12 murid Yesus untuk menjadi rasul. 

"Kemudian kita bisa melihat penggambaran Yesus di salib sampai Yesus dimakamkan," ucap Annisa

Dirinya menyampaikan altar ibadah dengan fokus utama Salib meninggi yang sangat megah dan mewah membuat mata siapa saja tertuju ke hadapannya apakah untuk menyembah Tuhan atau menikmati karya seni arsiteknya.

Lulusan pendidikan sejarah IKIP PGRI Pontianak ini sangat konsen dalam pelestarian benda kuno yang ada di Kota Pontianak. Ia mengatakan lebih terkenang dengan Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak lama yang rampung dibangun pada Desember 1909.

"Namun saya pribadi terkenang dengan bangunan gereja yang dahulu," katanya

Kesan kolonial dan kunonya sangat epik bergaya indis, bangunan yang menjadi saksi sejarah bagaimana misionaris dari  Ordo Kapusin (OFMCap) menyebarkan agama katolik di Pontianak bahkan Kalbar. 

"Saya menyayangkan pembangun gereja baru yang megah ini tidak meninggalkan sedikitpun bentuk keaslian bangunan awal dengan atau tanpa alasan yang jelas," katanya.

Annisa juga mengatakan sepengetahuannya yang masih asli di gedung katedral yang sekarang adalah peralatan ibadah yang tertata rapi di altar dan daun pintu utama yang menggunakan daun pintu bangunan lama. Serta penggunaan kayu ulin dari bangunan yang lama untuk bangunanan gereja yang baru ini. 

"Saya pikir membludaknya jumlah jemaat bukan satu alasan yang kuat untuk meratakan bangunan awal dengan tanah," katanya.

Ia juga mengatakan bangunan gereja yang baru memang megah, namun nilai historisnya telah lenyap. Generasi muda hanya bisa membacanya di buku tanpa melihat nyata bangunan dengan indra. 

Dirinya meminta pemerintah dan masyarakat harus bersinergi merawat peninggalan sejarah di suatu kota/daerah. 

Dikatakan, pemerintah harusnya serius menggalakan revolusi mental masyarakat dengan mengajak masyarakat untuk mengetahui sejarah suatu bangunan, peristiwa, kejadian, penamaan dan lainnya. Supaya dapat mengambil sikap yang arif dan bijaksana. 

Hal ini berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya, Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya. 

Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 063/U/1995 tentang perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya, bangunan Gereja Katedral Santo Yoseph yang lama merupakan satu dari 12 benda cagar budaya di Pontianak. Penghilangan satu benda cagar budaya tentulah beriring konsekuensi.

"Terlepas dari itu, saya berharap keberagaman bukanlah tolak ukur perpecahan. Namun keberagaman dapat menyatukan kita semua di negara Indonesia, di Kalbar, di Pontianak," ucapnya.

Kunjungan Satu Dalam Perbedaan (SADAP) dan Komunitas Bela Indonesia Chapter Kalbar serta Temu Pemuda Lintas Iman (Tepelima) mengajak anak muda untuk bersama merawat keberagaman dengan mengunjungi berbagai tempat ibadah. 

Pada kunjungan ke katedral dihadiri sekitar 40 orang dari berbagai latar belakang. Dengan narasumber yang dihadirkan adalah Frater Nera. Pada kunjungannya, selain mendengarkan penjelasan dari pemateri juga membuka beberapa sesi pertanyaan. (dino/bah)