Tuntut Pesangon dan THR

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 86

Tuntut Pesangon dan THR
UNJUK RASA – Puluhan buruh PT SBLI unjuk rasa di Kantor Pemasaran PT SBLI di Jalan Barito, Kota Pontianak, Senin (20/5). Mereka menuntut perusahaan membayarkan pesangon, THR dan gaji yang belum dibayarkan sejak April.
PONTIANAK, SP - Puluhan buruh/karyawan PT Sumber Batu Layang Indah (SBLI) yang memproduksi biskuit menuntut hak yang tidak kunjung dipenuhi pihak perusahaan. Puluhan buruh/karyawan ini menuntun pembayaran uang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) alias pesangon, uang THR (Tunjangan Hari Raya) dan gaji sejak April 2019.

"Perusahaan tidak punya hati nurani dan tidak bertanggungjawab," ungkap salah seorang perwakilan pekerja, Markus, saat diwawancarai di sela-sela unjuk rasa di Kantor Pemasaran PT SBLI di Jalan Barito, Kota Pontianak, Senin (20/5).


Markus mengatakan bahwa sejak April perusahaan menyatakan pihaknya merugi selama kurang lebih tiga tahun berturut-turut. Kemudian 80 karyawan, termasuk staf dan satpam, dirumahkan (PHK) tanpa dilakukan pembayaran pesangon, gaji dan uang THR.

Ia menyampaikan sampai saat ini masih menunggu itikad baik dari perusahaan, akan tetapi hal tersebut tidak ada. Dirinya mengatakan beberapa waktu lalu hanya ada kompensasi yang jauh dari tuntutan karyawan. Pihak karyawan menuntut di atas Rp 60 juta, akan tetapi hanya dibayarkan belasan juta.

"Kalau perusahaan merugi pasti ada audit dari dinas, akan tetapi saat ini masih belum ada," ucapnya.

Ia menjelaskan, sebenarnya kesalahan kerugian juga berasal dari pihak perusahaan. Sebagai salah satu contoh, tepung yang digunakan menggunakan kualitas tidak bagus yang mengakibatkan kue hasil perusahaan jelek. Namun, pada saat itu pihak perusahaan malah menyalahkan karyawan dengan menuding bekerja lalai.

"Semua bahan baku yang digunakan dikurangi oleh perusahaan, namun (saat kualitas kue buruk) perusahaan malah menyalahkan karyawan," katanya.

Ia mengatakan hampir semua karyawan PT SBLI adalah karyawan tetap. Karyawan paling lama kerja 35 tahun dan yang paling baru sembilan tahun kerja. Dirinya menjelaskan sampai saat ini masih menungggu pengacara serikat pekerja untuk menentukan langkah selanjutnya.

Sementara itu, pihak perusahaan ketika ingin dikonfirmasi terkait persoalan ini masih belum memberikan keterangan kepada awak media. Di lokasi unjuk rasa, awak media hanya ditemui oleh karyawan kantor pemasaran yang menyarankan untuk menemui pihak perusahaan langsung.

Diketahui, beberapa waktu lalu Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan  pihak Pemerintah Kota Pontianak terus mendorong setiap perusahaan agar memberikan tunjangan hari raya (THR) bagi setiap pekerja mereka. Hal itu adalah salah pemenuhan hak bagi setiap karyawan yang telah bekerja untuk sebuah perusahaan.

"Tentu harapan pemerintah pihak perusahaan bisa memenuhi THR bagi pekerja," katanya.

Edi mengatakan, penentuan pemberian THR telah diatur oleh pemerintah pusat sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada para pekerja yang telah bekerja untuk sebuah perusahaan. Ia juga menyampaikan pemerintah pusat juga telah membuat aturan agar perusahaan-perusahan tidak terlambat dalam penyerahan THR kepada karyawan.

Ia menjelaskan pemberian THR kepada karyawan merupakan sebuah kewajiban sebuah perusahaan. Untuk waktunya, ia menyarankan pada dua minggu sebelum hari raya THR sudah harus dibayar oleh pihak perusahaan.

"Harusnya THR dua minggu sebelum hari H sudah diberikan," ucap Edi. (din/bah)