GMNI Ingakan Warga Tak Terprovokasi Isu People Power

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 198

GMNI Ingakan Warga Tak Terprovokasi Isu People Power
KAMPANYE DAMAI – Mahasiswa di sebuah perguruan tinggi membua banner kreatif yang bertuliskan ajakan menyelenggarakan Pemilu damai 2019.
PONTIANAK, SP - Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Pontianak mengajak kepada seluruh elemen anak bangsa dan masyarakat Indonesia untuk melakukan refleksi historis kebangsaan pasca pemilu 2019 dengan momentum kebangkitan nasional yang jatuh pada setiap tanggal 20 Mei.

Ketua Umum GMNI Pontianak, Rival Aqma Rianda mengatakan bahwa momentum kebangkitan nasional kali ini perlu disadari bersama sebagai momentum dalam menjaga persatuan dan kesatuan nasional, 

"Di tengah-tengah situasi keberlangsungan pesta demokrasi indonesia yang kian mengarah pada upaya pemecah belahan bangsa dengan berbagai dinamika politik. Diperparah oleh sebagian elite politik yang kian hari melakukan propaganda-agitasi politik yang tidak sama sekali mencerminkan semangat persatuan nasional," ujar Rival, kemarin. 

Untuk itu, pihaknya juga mengajak kepada seluruh elemen bangsa agar mampu terus menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di tengah isu people power, khususnya Kalbar, yang mengarah pada jalannya stabilitas politik dan keamanan bangsa.

Di samping itu, TNI-Polri sudah menjadi tugas utama dalam menjaga keamanan dan keberlangsungan proses jalannya demokrasi. Kita dukung bersama agar keamanan dan ketertiban dapat dijaga bersama.

"Dimana dalam situasi politik kali ini, kita perlu menjaga persatuan ini sebagai satu warisan bangsa yang wajib terus diilhami dan imani sehingga dengan adanya persatuan ini kita mampu terus bergotong royong untuk sama-sama membangun bangsa Indonesia," ungkapnya.

Mengenai isu people power yang terus tersebar melalui propaganda politik, menurut Rival, perlu kiranya sebagai anak bangsa tidak terpolarisasi oleh kondisi politik pasca pilpres 2019 ini. 

"Kami, DPC GMNI Pontianak dengan tegas menolak people power yang dibangun atas muatan politik apalagi dapat memecah belah keIndonesiaan kita. Jelas-jelas merupakan upaya politik Devide Et Impera (Politik Pecah Belah) oleh elite politik kepada kita sesama anak bangsa," pungkasnya. (iat/bah)