Legislator Janji Selesaikan Problem Hak Buruh

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 107

Legislator Janji Selesaikan Problem Hak Buruh
DEMO – Buruh demonstrasi menuntut hak yang diabaikan perusahaan. Pemerintah daerah diminta hadir memproteksi buruh dengan sungguh-sungguh mengadvokasi persoalan yang mereka hadapi.
Puluhan eks buruh PT Sumber Batu Layang Indah (SBLI) yang memproduksi biskuit mengadu ke Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pontianak, Selasa (21/5). Mereka menyampaikan aspirasi terkait hak-hak mereka meliputi uang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) alias pesangon, uang THR (Tunjangan Hari Raya) dan gaji sejak April 2019 yang belum dibayar perusahaan. 

"Insya Allah Senin (27/5) depan, kita akan mengagendakan agar mereka (pihak perusahaan) dapat hadir di DPRD," ujar anggota DPRD Kota Pontianak, Mansyur usai melakukan pertemuan bersama perwakilan karyawan. 

Ditegaskan bahwa DPRD Kota Pontianak akan menindaklanjutinya sesuai dengan tupoksi.  Ia juga menyampaikan sebelumnya antara pekerja dan pihak perusahan sudah pernah bertemu. Tapi belum ada titik terang atau tidak sesuai dengan aturan yang ada. 

Mansyur juga mengatakan pada hari yang ditentukan itu pihaknya akan memanggil perusahaan dan beberapa pihak lain. Untuk berdiskusi dan bermusyawarah, agar mendapatkan jalan yang terbaik. 

"Agar antara hak dan kewajiban dapat dipenuhi," harapnya. 

Sementara Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat Perserikatan Buruh Kalbar, Suratimin yang mewakili para karyawan mengatakan dalam pertemuan tersebut telah disepakati bahwa Senin (27/5) depan akan bertemu dengan pihak perusahan, Pemkot dan DPRD.

"Dari serikat kerja, saya sebagai sekretaris dan pak ketua bisa hadir," ucapnya.

Ia mengatakan dalam pertemuan tersebut akan dibahas persoalan pemutusan hubungan kerja yang diakibatkan dari rugi perusahaan selama dua tahun berturut-turut.

Diberitakan sebelumnya, Puluhan buruh/karyawan PT Sumber Batu Layang Indah (SBLI) yang memproduksi biskuit menuntut hak yang tidak kunjung dipenuhi pihak perusahaan. Puluhan buruh/karyawan ini menuntun pembayaran uang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) alias pesangon, uang THR (Tunjangan Hari Raya) dan gaji sejak April 2019.

"Perusahaan tidak punya hati nurani dan tidak bertanggungjawab," ungkap salah seorang perwakilan pekerja, Markus, saat diwawancarai di sela-sela unjuk rasa di Kantor Pemasaran PT SBLI di Jalan Barito, Kota Pontianak, Senin (20/5).

Markus mengatakan bahwa sejak April perusahaan menyatakan pihaknya merugi selama kurang lebih tiga tahun berturut-turut. Kemudian 80 karyawan, termasuk staf dan satpam, dirumahkan (PHK) tanpa dilakukan pembayaran pesangon, gaji dan uang THR.

Ia menyampaikan sampai saat ini masih menunggu itikad baik dari perusahaan, akan tetapi hal tersebut tidak ada. Dirinya mengatakan beberapa waktu lalu hanya ada kompensasi yang jauh dari tuntutan karyawan. Pihak karyawan menuntut di atas Rp 60 juta, akan tetapi hanya dibayarkan belasan juta.

"Kalau perusahaan merugi pasti ada audit dari dinas, akan tetapi saat ini masih belum ada," ucapnya.

Ia menjelaskan, sebenarnya kesalahan kerugian juga berasal dari pihak perusahaan. Sebagai salah satu contoh, tepung yang digunakan menggunakan kualitas tidak bagus yang mengakibatkan kue hasil perusahaan jelek. Namun, pada saat itu pihak perusahaan malah menyalahkan karyawan dengan menuding bekerja lalai.

"Semua bahan baku yang digunakan dikurangi oleh perusahaan, namun (saat kualitas kue buruk) perusahaan malah menyalahkan karyawan," katanya.

Ia mengatakan hampir semua karyawan PT SBLI adalah karyawan tetap. Karyawan paling lama kerja 35 tahun dan yang paling baru sembilan tahun kerja. Dirinya menjelaskan sampai saat ini masih menungggu pengacara serikat pekerja untuk menentukan langkah selanjutnya.

Sementara itu, pihak perusahaan ketika ingin dikonfirmasi terkait persoalan ini masih belum memberikan keterangan kepada awak media. Di lokasi unjuk rasa, awak media hanya ditemui oleh karyawan kantor pemasaran yang menyarankan untuk menemui pihak perusahaan langsung. (dino/bah)