Pemuda Lintas Iman Buka Puasa Bersama di Pura

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 69

Pemuda Lintas Iman Buka Puasa Bersama di Pura
FOTO BERSAMA - Pemuda lintas iman Kalbar foo bersama saat kunjungan ke Pura Giripati Mulawarman, Jalan Adisucipto, Pontianak, Selasa (22/5). Mereka juga menggelar buka puasa bersama di pura tersebut untuk menjalin keakraban. Ist
Memasuki bulan suci Ramadan banyak hal yang dilakukan untuk memupuk kebaikan. Ini merupakan bulan yang penuh berkah, ditunggu semua umat muslim di seluruh penjuru dunia. Ini juga kesempatan yang baik untuk silaturahmi bersama kerabat terdekat.

Sebagai wujud nyata cinta sesama, pemuda lintas iman mengadakan kunjungan ke Pura Giripati Mulawarman, Jalan Adisucipto, Pontianak, Selasa (22/5).

Sebelumnya, pemuda lintas iman sudah berkunjung ke Vihara, Klenteng, dan Gereja. Namun, ada sedikit yang berbeda kali ini karena tidak hanya berkunjung tetapi ada agenda buka puasa bersama di Pura.

Koordinator kegiatan, Isa Oktaviani mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk merekatkan kekeluargaan yang ada. 

“Kita adalah sama, anak Indonesia. Tak perlu mencari perbedaan untuk jadi perselisihan tapi beda itulah yang membuat kita jadi lebih bisa saling menghargai,” paparnya

Selain itu, buka puasa ini juga mengisyaratkan bahwa dimanapun kita berada maka bisa tetap saling menghargai.
“Buka puasa di café atau restoran sudah biasa, tapi di Pura baru kali ini,” tambahnya.

Kunjungan pemuda lintas iman tersebut disambut baik oleh pengurus Pura.

“Kita menyambut baik kegiatan ini. Selama itu positif, kita akan dukung,” kata Putu Dupa, di sela-sela memberi materi kepada peserta.

Untuk Hindu sendiri, toleransi sangat dijunjung tinggi. Baginya, mahluk hidup adalah ciptaan Tuhan, artinya kita semua bersaudara. 
Para peserta juga tampak antusias, meski banyak dari mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa tetapi tetap semangat sharing bersama untuk kenal dekat dengan agama Hindu.

Acara ditutup dengan buka puasa bersama. Selain mereka yang berpuasa, hidangan buka puasa disiapkan oleh yang beragam Katolik dan Budha. 

“Indahnya melihat anak muda saling menghargai,” tutup Isa. 

Sejarawan, Radin Fakhurrahman mengatakan, Ramadan adalah bulan penuh berkah dan ampunan. Sekat-sekat hubungan sosial antar umat beragama mesti terbuka sehingga menjalin sebuah rasa toleransi serta empati terhadap sesama bangsa Indonesia, di mana umat agama lain turut serta dalam kebahagiaan di bulan Ramadan. 

“Hal ini terlihat dengan berbagai perilaku empati terhadap umat muslim yang dilakukan dengan cara membagikan takjil, satu hal yang sederhana yang merupakan sebuah penghargaan dan mampu menjalin persatuan antar umat beragama di dalam sebuah negara Indonesia,” katanya.

Dijelaskan, sebenarnya inilah tujuan daripada pendirian bangsa ini, sebagai sebuah samudera yang mampu menampung  segala perbedaan menjadi satu untuk menjalin persatuan dan saling menghargai satu sama lain meskipun dari sisi privasi berbeda. 

Dari situlah akan tumbuh suatu kesadaran bahwa kehidupan bangsa ini tidak melulu mengenai perbedaan saja akan tetapi mengenai keindahan perbedaan tersebut sehingga perbedaan di dalam diri bangsa ini. 

“Bukanlah hal yang harus dipertentangkan sebab perbedaan ini adalah sebuah rahmatan lil alamin yang sengaja Tuhan turunkan di negeri ini,” katanya.

Ramadan adalah suasana yang pas untuk membangun komunikasi, persatuan, toleransi antar umat beragama di antara berbagai stigma yang muncul manakala berbagai isu terorisme.

Lebih banyak mengincar berbagai umat beragama selain muslim yang ujungnya adalah munculnya pemikiran untuk mengkaitkan perilaku terorisme dengan suatu kelompok agama tertentu, memang itu adalah hal wajar sebagai seorang insan yang dikaruniai perasaan, pemikiran serta rasa persaudaraan dan itu juga adalah manusiawi.

“Lalu daripada pikiran bangsa ini terus berkecimpung diarena kolam isu terorisme yang hendak mengganti dan memecah belah bangsa ini, lebih bijak adalah untuk beralih pemikiran bahwa saat ini yang dibutuhkan bangsa ini adalah suatu persatuan tanpa adanya rasa curiga antar umat beragama,” katanya.

“Dan saling melakukan sinergi antara umat beragama, juga pemerintah untuk menjalin suatu keseimbangan kehidupan sebagai sebuah bangsa yang satu,” katanya.

Dengan suasana bulan Ramadan yang suci ini, lanjutnya, adalah hal yang tepat untuk bersama berkaca apakah ada yang keliru dalam perjalanan bangsa ini dalam menjalankan negara, mengingat di dalam dunia ini mungkin berlaku hukum sebab akibat atau yang dikenal dengan hukum kausa dimana suatu hal timbul karena ada penyebabnya. 

“Dan itulah yang harus kita cari untuk kebaikan negara kedepannya. Sebab adalah sangat menyakitkan manakala kejadian-kejadian terorisme dilakukan oleh anak-anak muda bahkan sampai anak kecil diikut sertakan dalam tindakan tersebut,” katanya.

Hal ini bukan saja menyakitkan bagi bangsa ini, di mana di samping upaya pecah belah juga dibarengi dengan hilangnya generasi penerus bangsa karena dicekoki oleh paham radikal di antara keluguan sifat mereka. 

“Maka, Ramadan bukan untuk membesarkan isu radikalisme, terorisme tapi toleransi dan persatuan,” ujarnya. (din/bah)