98 Perusuh Pontianak Positif Narkoba

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 84

98 Perusuh Pontianak Positif Narkoba
BACA - Sultan Pontianak Syarif Machmud Melvin Alkadrie saat membacakan surat pernyataan bersama Forkopimda di Mapolda Kalbar, di Pontianak, Kamis (23/5).
PONTIANAK, SP - Kapolda Kalbar, Irjen (Pol) Didi Haryono mengungkapkan sebanyak 98 perusuh dari 203 orang yang ditangkap di Pontianak, positif menggunakan narkoba jenis sabu-sabu. Hal itu didapat setelah dilakukan tes urine. Mereka ditangkap dalam rusuh di Pontianak Timur sejak Rabu (21/5) pagi hingga Kamis (23/5) dini hari. 

"Selain itu, juga diamankan tiga perusuh yang juga kedapatan membawa narkoba," katanya, Kamis (23/5).

Dari total 203 perusuh yang diamankan, 26 di antaranya tengah dalam proses pendalaman. Sebanyak 76 ditangani oleh Direskrimum Polda Kalbar karena kedapatan membawa senjata tajam, senjata api rakitan dan bom molotov. Sedang 16 orang sisanya anak-anak.

"Hari ini sebanyak 102 orang itu kami kembalikan kepada orang tua masing-masing, 98 direhabilitasi ke BNNP dan tiga diproses kepemilikan narkoba. Mereka dikembalikan dengan jaminan dari Gubernur Kalbar, Sultan Pontianak, dengan maksud memberikan rasa aman, dan mereka berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tersebut, dan apabila melakukannya lagi, maka langsung diproses hukum," ujarnya.

Dipulangkannya para perusuh tersebut, berdasarkan kesepakatan dengan Forkopimda dan Kesultanan Pontianak yang menjamin warganya tidak akan membuat atau mengulangi perusakan atau pemblokiran jalan. Dia mengimbau kepada masyarakat untuk selalu menjaga keamanan, karena sedikit saja terganggu, maka semua pihak akan merasakan dampaknya.

"Untuk berbagai fasilitas umum yang mengalami kerusakan, seperti lampu jalan, lampu pengatur lalu lintas, termasuk dua pos polisi segara akan diperbaiki kembali, dan kami sudah berkoordinasi dengan Pemkot Pontianak," ujarnya.

Dari hasil pengakuan perusuh, perbuatan dipicu setelah melihat kejadian di Jakarta melalui televisi dan medsos. 

"Untuk penetapan tersangka atau lainnya, tentunya masih dalam proses penyidikan, dan didukung oleh alat bukti yang kini masih terus dikumpulkan," katanya.

Data Polda Kalbar, mencatat delapan anggota polisi mengalami luka-luka. Dua di antaranya mengalami luka tembak di bagian kaki diduga menggunakan senjata rakitan, dan dua personel TNI yang juga mengalami luka akibat lemparan batu perusuh tersebut. Biaya pengobatan, baik dari pihak penegak hukum maupun para perusuh ditanggung Pemprov Kalbar.

Dalam kejadian itu, Polda Kalbar menyita sejumlah alat bukti, di antaranya satu pucuk senjata rakitan laras pendek, senjata tajam berbagai jenis, bom molotov, batu, dan lain-lain.

Sultan Pontianak, Syarif Mahmud Melvin Alkadrie mengatakan dirinya akan bertanggung jawab penuh terkait kerusuhan di Pontianak kemarin. Dia berjanji kejadian tidak akan terulang kembali. 

"Saya sultan Syarif Mahmud Melvin Alkadrie, sehubungan dengan aksi massa saya menyatakan saya akan bertanggung jawab dan menjamin bahwa situasi Kota Pontianak pascaperistiwa yang terjadi semalam tidak akan terulang kembali," katanya.  

Dia akan bertanggung jawab terhadap keadaan masyarakat terutama dalam lingkungan Kesultanan Istana Kadriah untuk menjaga situasi keamanan tetap kondusif. Serta akan mengawasi aktivitas masyarakat di sana. 

"Akan saya awasi dengan sebaik-baiknya. Saya akan menjamin situasi keamanan dan ketertiban masyarakat pascakerusuhan tersebut agar kondusif sehingga aktivitas masyarakat Pontianak tidak terganggu," tutupnya. 

Gubernur Kalbar, Sutarmidji menyatakan dikeluarkannya para perusuh tersebut atas jaminan Sultan Pontianak yang dilengkapi dengan surat pernyataan berbagai pihak. Intinya berjanji tidak mengulangi tindakan yang merugikan banyak pihak tersebut.

"Semua biaya pengobatan baik perusuh dan aparat penegak hukum yang dirawat di rumah sakit ditanggung oleh Pemprov Kalbar," katanya.

Benahi Kota

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menjelaskan pihaknya akan segera membenahi kerusakan yang terjadi akibat kerusuhan. Terutama pohon-pohon yang ditebang. 

"Akan kita tanam kembali dan ditata. Sementara lampu penerangan jalan umum yang rusak akan kita ganti. Termasuk juga rambu-rambu lalu lintas dan pot-pot yang rusak akan kita perbaiki," katanya. 

Dia mengimbau masyarakat bisa menahan diri dan tidak ikut-ikutan hal-hal yang ceroboh. Apalagi kini masih dalam suasana bulan suci Ramadan. Saat ini, kondisi Pontianak kondusif.

Enam warga yang mengalami luka-luka tengah di rawat di Rumah Sakit Sultan Syarif Muhammad Alkadrie Kota Pontianak. Dua orang dioperasi akibat luka tembak. Semua korban yang dirawat di RSUD Kota Pontianak, biayanya akan ditanggung Pemerintah Kota. Namun untuk pasien di rumah sakit lainnya akan dilakukan koordinasi agar pasien tidak lagi dibebankan biaya.

Sebenarnya ada 40 orang yang dibawa ke RSUD Kota Pontianak, akan tetapi hanya 18 yang dirawat. Itu pun tersebar, enam di RSUD Pontianak, tujuh di RS Bhayangkara, dan lima orang di RSUD Soedarso.

"Korban sudah banyak, jangan sampai ada korban selanjutnya," katanya.
Preman Dibayar

Terpisah, dalam kerusuhan di Jakarta, Mabes Polri menangkap 442 orang terduga perusuh dalam aksi damai di depan Kantor Bawaslu, Jakarta, yang berlangsung pada 21 Mei hingga 23 Mei dinihari.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Mohammad Iqbal mengatakan, pihaknya kembali menangkap 185 orang yang diduga sebagai perusuh dalam aksi damai di depan Kantor Bawaslu RI. Sehari sebelumnya, pihak keamanan juga berhasil membekuk 257 pelaku yang bertindak anarkis. Sehingga jumlah perusuh yang sudah ditangkap sebanyak 442 orang.

"Jadi, pada aksi massa 21-22 Mei itu ada dua segmen. Pertama, massa peserta aksi damai yang spontanitas. Kedua, massa perusuh yang sengaja menyusup untuk membuat rusuh," ujar Iqbal.

Para pelaku ditangkap di sejumlah lokasi di Jakarta, seperti depan dan sekitar Kantor Bawaslu RI, Patung Kuda, Sarinah, Slipi, Menteng, dan Petamburan. Mereka diamankan lantaran terbukti merusak dan membakar kendaraan di asrama Polri Petamburan, depan Kantor Bawaslu RI, dan di depan Stasiun Gambir.

Dari tangan pelaku ditemukan pula barang bukti kejahatan. Diantaranya, senjata tajam, busur panah, bom molotov, batu, petasan, dan uang tunai yang diduga untuk membiayai aksi tersebut. Ada dua kelompok yang menunggangi aksi unjukrasa tanggal 21-22 Mei. Kelompok pertama adalah simpatisan ISIS. Kelompok kedua dari mereka yang memiliki senjata api (Senpi).

"Mereka ini perusuh. Ini dibedakan kelompok aksi damai," katanya.

Munculnya kelompok Senpi berdasarkan pengakuan sekelompok orang yang sudah ditangkap Polri. Kelompok ini memiliki Senpi dengan alat peredam.

"Kami sudah melakukan proses BAP terhadap beberapa orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kemarin sudah juga diamankan enam tersangka yang juga membawa dua senpi. Yang pertama tadi Senpi laras panjang, yang kedua, laras pendek," jelasnya.

Kelompok Senpi punya target ingin membuat kerusuhan. Mereka ingin menciptakan martir atau pahlawan. Tujuannya untuk menimbulkan kemarahan publik terhadap aparat.

"Ini terus kami alami dan kejar sesuai strategi penyelidikan. Ada massa perusuh yang diamankan oleh Polda Metro Jaya yang sudah dirilis oleh pak Argo (Kabid Polda Metro, Red) 257 orang. Ada tatonya banyak. Kalau enggak salah, empat orang positif narkoba. Bagaimana mau unjuk rasa kalau misalnya mereka positif narkoba," tuturnya.

Polri pun menyebut ada keterlibatan preman yang sehari-hari beraktivitas di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat, dalam peristiwa kerusuhan. Para preman mendapat bayaran Rp300 ribu per hari untuk ikut-ikutan menciptakan kekacauan.

"(Asal perusuh) Jawa barat, Banten, baru sisanya itu betul preman Tanah Abang. Preman tanah Abang ya, dibayar Rp300 ribu per hari, sekali datang, dikasih duit," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo.

Pernyataannya didasari keterangan para perusuh yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), para perusuh mengaku menerima uang sebagai imbalannya.

"Dari hasil pemeriksaannya juga, para tersangka tersebut mengakui bahwa uang yang diterimanya tersebut sebagai imbalan untuk melakukan aksi yang rusuh. Mendompleng atau menyusup kepada pendemo yang awalnya seharusnya berlangsung damai dan tertib," katanya.

Kehadiran para perusuh bayaran mempengaruhi psikologi massa sehingga massa pendemo ikut-ikutan menyerang ke aparat.
"Karena mereka masuk menyusup dan melakukan provokasi berupa pelemparan, penyerangan, perusakan, pembakaran secara masif oleh kelompok tersebut, akhirnya massa sesuai dengan psikologi massa terpengaruh. Crowd itu terpengaruh oleh provokasi-provokasi para pelaku tersebut," tuturnya. 

Dalam kerusuhan di Jakarta, sejumlah orang dilaporkan meninggal dunia. Kepolisian membenarkan satu korban meninggal akibat tertembak peluru tajam. Hal tersebut diketahui dari hasil autopsi terhadap jasad korban, ditemukan proyektil peluru tajam.

Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan saat ini proses autopsi masih dilakukan kepada lima korban tewas lainnya.
"Hanya satu yang dinyatakan meninggal terkena peluru tajam, yang lainnya masih dalam proses autopsi," ujar Dedi.

Proses autopsi dilakukan di RS Polri Kramat Jati dan RSCM. Meski demikian, pihaknya masih menyelidiki asal peluru tajam yang ditemukan di tubuh satu korban tersebut. Sebab personel kepolisian dan TNI tidak menggunakan senjata beramunisi peluru tajam dalam pengamanan sejak Selasa (21/5) hingga Kamis (23/5) dini hari.

Sekadar informasi, polisi menangkap tiga orang yang membawa senjata api saat kerusuhan pecah di depan gedung Bawaslu 21-22 Mei 2019. Senjata api tersebut berjenis laras panjang dan pendek. Orang pembawa senjata api itu berasal dari kelompok berbeda dengan sejumlah orang dari kelompok Gerakan Reformis Islam (GARIS) yang telah ditetapkan tersangka perusuh.

"Kelompok yang bawa senjata ini kelompok yang lain lagi. Mereka ingin memancing kerusuhan sehingga terjadi kemarahan publik pada aparat keamanan," ujarnya. (ant/det/din/sms/bls)