Tiket Pesawat Tembus Puluhan Juta

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 106

Tiket Pesawat Tembus Puluhan Juta
Grafis Budi Karya
PONTIANAK, SP – Harga tiket pesawat jelang Idulfitri meningkat drastis. Di agen travel online seperti Traveloka, untuk penerbangan Jakarta-Pontianak hari ini mencapai Rp6 juta. Padahal, biasanya tiket bisa didapat hanya dengan Rp500 ribu.

Dari laman Traveloka, untuk penerbangan Jumat (31/5), hanya ada satu penerbangan langsung di pagi hari. Harganya Rp1.277.800 via maskapai Lion Air. Sisanya penerbangan transit dengan biaya mencapai Rp6.055.500. 

Penerbangan itu dilayani tiga maskapai grup Lion Air, yakni Batik Air, Wing dan Xpress dengan kelas ekonomi. Penumpang harus dua kali transit, dari Jakarta-Surabaya, Surabaya-Yogjakarta, baru Yogjakarta-Pontianak. Total perjalanan mencapai 11 jam 55 menit.

Obrolan mudik pun sebelumnya sempat ramai dengan tiket mencapai Rp21 juta. Masih dari layanan tiket daring sama, harga tiket pesawat untuk penerbangan hari ini dari Bandung ke Medan, termurah adalah Rp13.400.700 dan termahal Rp21.920.800 untuk kelas bisnis. 

Pesawat tersebut dioperasikan maskapai Garuda Indonesia. Pesawat tercatat dua kali transit yaitu Bandung-Bali, dan Bali-Jakarta. Dari Jakarta baru ke Medan. Garuda Indonesia memang tidak melayani rute langsung Bandung-Medan.

Ada pula kelas bisnis Garuda Indonesia dari Jakarta ke Makassar yang transit di Jayapura. Harganya Rp24.576.300 pada Sabtu (1/6) mendatang. Memang, masih tersedia harga paling murah Rp3.190.590.

CEO Transport Traveloka, Caesar Indra menjelaskan, pihaknya menampilkan tiket pesawat kelas bisnis dengan harga Rp21 juta karena sudah tidak tersedia tiket kelas ekonomi, ditambah rute Bandung-Medan yang transit ke Jakarta juga sudah tidak ada.

"Dapat kami informasikan bahwa ketersediaan tiket pesawat Bandung-Medan kelas ekonomi sudah habis dan kelas bisnis yang transit ke Jakarta juga sudah habis," katanya, Kamis (30/5).

Untuk mengakomodasi masyarakat dari Bandung menuju Medan, pilihan tiket yang tersedia adalah kelas bisnis yang harus transit di Bali dan Jakarta.

"Opsi tiket yang tersedia dan ditawarkan oleh maskapai adalah kelas bisnis untuk rute Bandung ke Medan, melalui transit ke Denpasar, lalu dari Denpasar menuju Jakarta, hingga kemudian dari Jakarta menuju Medan," ujarnya.

Harga yang tertera di Traveloka adalah harga yang mereka dapatkan langsung dari pihak maskapai.

"Harga yang tertera di platform kami merupakan harga yang kami dapatkan langsung dari pihak maskapai. Mengingat dalam hal ini jenis kelas yang ditawarkan adalah kelas bisnis, tentu harganya lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas ekonomi," tambahnya.

VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan menjelaskan, pada dasarnya Garuda Indonesia tidak punya rute penerbangan langsung Bandung-Medan. Yang bikin harga tiket tersebut bisa mahal karena transit di beberapa kota.

"Harus dicek, kalau di Traveloka dia mencari seat yang kosong sistemnya, semuanya diaduk-aduk. Jadi Garuda, Lion Air, Wings Air atau apa diaduk-aduk sama dia sistem bekerjanya begitu. Tapi kalau dilihat detail itu transitnya ada berapa," katanya.

Menurutnya, tidak mungkin orang yang tinggal di Bandung ingin ke Medan mau transit dulu ke Denpasar, lalu ke Jakarta baru ke Medan. Mereka biasanya memilih menempuh jalur darat ke Bandara Soekarno-Hatta lalu naik pesawat ke Medan.

"Nggak mungkin lah (mau transit ke Denpasar), harganya mahal, membuang-buang waktu dan itu pekerjaan aneh juga sih," ujarnya.
Jika transitnya masih satu garis lurus dengan tujuan utama masih masuk akal dan orang bersedia, misalnya terbang dari Jakarta ke Palembang, dari Palembang baru lanjut ke Medan.

"Nggak mungkin dia mau ke Medan ke Denpasar dulu, terus ke Cengkareng lagi baru Medan," jelasnya.

Dia juga menjelaskan harga yang tertera di situs penjualan tiket online tersebut, adalah kombinasi penerbangan yang disusun layanan penyedia tiket tersebut. Jadi sebenarnya sama saja membeli tiket pesawat untuk sejumlah rute penerbangan, yaitu Bandung-Denpasar satu tiket, Denpasar-Cengkareng satu tiket, dan Cengkareng-Kualanamu satu tiket. Jika ditotal bakal jadi lebih mahal.

"Jadi orang biasanya keliling ke mana dulu, jadi waktu terbangnya (tanpa transit) hanya 2 jam itu bisa 6 jam sampai 7 jam," ujarnya.
Sementara untuk kelas bisnis, harga mahal merupakan hal wajar. Pasalnya harga tiket kelas bisnis memang tidak diatur oleh pemerintah. Yang diatur pemerintah adalah kelas ekonomi.

"Kelas bisnis itu kan Rp9 jutaan lebih ya memang, kelas bisnis memang tinggi. Yang diaturkan kelas ekonomi ya, memang kelas bisnis itu kan dia sangat fleksibel harganya," tambahnya.

Sekretaris Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Nur Isnin Istiartono meminta masyarakat memeriksa secara rinci harga yang tersedia. Pasalnya banyak rute yang tiketnya saat ini sudah habis. Namun oleh travel dan aplikasi online yang menyediakan tiket dibuat skema multi rute. Hal ini mendasari munculnya tiket dengan harga yang terlampau tinggi. 

"Jadi kami minta hati-hati bila beli tiket pesawat," kata Nur.

Nur memastikan maskapai mengikuti aturan Tarif Batas Atas (TBA) yang telah ditetapkan Kemenhub. Dia juga menjanjikan akan memberi sanksi jika ada maskapai yang menetapkan tarif di atas ketentuan yang berlaku. 
"Kewajiban pemerintah memberi sanksi," katanya. 

Lebih Murah

Kepala Badan Penilitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbang Kemenhub) Sugiharjo mengatakan, harga tiket pesawat di masa angkutan lebaran 2019 lebih murah dibandingkan tahun lalu.

"Tolong dicatat, dalam periode lebaran tiket pesawat angkutan udara tahun ini itu bukan naik tapi turun dibanding tiket udara tahun lalu," katanya.

Penurunan ini dikarenakan adanya penurunan tarif batas atas (TBA) di kisaran 12-16 persen oleh regulator beberapa waktu lalu. Pada peak season seperti di musim lebaran, maskapai penerbangan akan menjual harga tiketnya di batas atas.

Adapun bila masyarakat merasa harga tiket masih mahal, harga tiket itu bukanlah tiket periode mudik Lebaran 2019 melainkan tiket sebelum periode mudik di mana TBA belum diturunkan.

"Tahun lalu airline menjualnya jauh dekat batas atas. Sekarang masih di bawah batas atas tetapi tinggi dirasakan masyarakat. Jadi saya garis bawahi, yang dirasakan masyarakat itu bukan saat puncak lebaran," jelasnya.

Sebelumnya, Kemenhub telah menurunkan TBA tiket pesawat di kisaran 12-16 persen. Kebijakan itu tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas (TBA) Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri yang berlaku pada 16 Mei 2019.

Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Polana B Pramesti mengatakan aturan baru itu dibuat guna memenuhi kebutuhan konsumen dengan memperhatikan keberlangsungan bisnis maskapai.

"Revisi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap aspirasi masyarakat dengan tetap memperhatikan keberlangsungan industri penerbangan, terutama menjelang pelaksanaan angkutan Lebaran," kata Polana.

Dia menjanjikan akan mengevaluasi besaran TBA dan TBB secara berkala dan apabila ada perubahan terhadap komponen-komponen biaya yang memengaruhi operasional maskapai.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan salah satu penyebab harga tiket pesawat yang mahal. Maskapai penerbangan masih enggan menurunkan harga tiket agar bisnisnya tetap berjalan baik.

"Masalahnya kan mereka kan upaya untuk membuat bisnisnya lebih baik, sehingga dia tidak melanggar UU karena dia sesuai dengan tarif batas atas," kata Budi Karya.

Kementerian Perhubungan sudah menerbitkan imbauan kepada maskapai penerbangan nasional untuk menurunkan harga. Namun imbauan itu tak dijalankan tiap maskapai.

"Saya kemarin sifatnya imbauan untuk menetapkan sub-harga (surprice) atau harga tertentu berjenjang. Tampaknya, imbauan itu tidak dipenuhi secara maksimal," kata Menteri Budi.

Dia pun kembali meminta kepada seluruh maskapai penerbangan untuk menurunkan harga tiket pesawat. Selain itu, akan melakukan pengecekan terhadap beberapa harga tiket pesawat yang dibanderol oleh sejumlah maskapai maupun agen perjalanan. 
"Perlu saya cek lagi ya," katanya.

Kemampuan Masyarakat

Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LM FEB) Universitas Indonesia menilai masyarakat masih mampu membeli tiket pesawat di sejumlah rute domestik. Hal itu dilihat dari penelitian yang berfokus pada analisa keterjangkauan untuk membayar alias Affordability to Pay (ATP) dan kesediaan untuk membayar alias Willingness to Pay (WTP) penumpang angkutan udara.  

Dari hasil BUMN Research Group (BRG), unit independen di bawah Lembaga Manajemen, secara umum ATP dan WTP untuk angkutan udara di relatif serupa, yaitu berada di level Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Harga tiket pesawat di beberapa rute domestik, seperti Jakarta-Surabaya, Jakarta-Yogyakarta, dan Jakarta-Denpasar dianggap cukup kompetitif.  

"Artinya, kemampuan daya beli penumpang dengan manfaat yang dirasakan cukup sejalan," kata Peneliti BRG LM FEB UI, Arza Prameswara. 

Penelitian tersebut dilakukan dengan mengambil sampel sembilan rute penerbangan tersibuk di Indonesia yang menggunakan layanan penerbangan dalam empat bulan terakhir. Total jumlah responden sebanyak 630 orang.  

Peneliti BRG lainnya, Yasmine Nasution menjelaskan, sepanjang Mei 2019, rentang tarif untuk rute Jakarta-Surabaya berkisar antara Rp840 ribu hingga1,3 juta. Angka ini relatif sebanding dengan tarif yang dikenakan maskapai di Malaysia untuk rute Johor Baru-Alor Star dengan jarak tempuh 771 kilometer di level Rp755 ribu-Rp1,3 juta. 

Di sisi lain, penelitian ini  membuktikan harga tiket untuk rute Jakarta-Medan diangap mahal. 

"Terdapat kesenjangan antara kemampuan dan kesediaan masyarakat untuk membeli," kata Arza. 

Harga tiket yang berlaku untuk rute Jakarta-Medan di rentang harga Rp1 juta hingga Rp2,8 juta. Hal ini mendorong fenomena sebanyak 21 persen responden bersedia beralih menggunakan maskapai penerbangan asing dengan penerbangan transit internasional. 

Penumpang Turun

Kenaikan tarif pesawat pun berdampak langsung pada penurunan jumlah penumpang di bandara. Sehingga, berimplikasi terhadap penurunan pendapatan bandara. Seperti Bandara Internasional Minangkabu yang tercatat mengalami penurunan pendapatan di awal 2019 sebesar 25 persen dibanding capaian tahun sebelumnya. 

"Mahalnya tiket pesawat akan berimbas pada sektor pariwisata. Hal ini terlihat dari penurunan konsumen hotel dan transportasi di kuartal I 2019,” kata Yasmine. 

Hal ini akan menjadi tantangan bagi target pengembangan sektor pariwisata Indonesia. Apalagi harga tiket ke destinasi wisata luar negeri bisa lebih murah. Dari hasil kajian tim, rasio harga per kilometer untuk rute Jakarta-Denpasar bersaing ketat dengan Jakarta-Bangkok dan Jakarta-Kuala Lumpur. 

Managing Director LM FEB UI Toto Pranoto menjelaskan, mahalnya tiket penerbangan domestik perlu diantisipasi dengan cepat karena menjadi celah bagi maskapai asing untuk melakukan penetrasi di pasar Indonesia. Isu beralihnya penumpang ke maskapai asing terlihat pada rute Jakarta-Medan melalui transit Kuala Lumpur. 

“Dari hasil survei, kesediaan penumpang untuk transit jika terbang dengan maskapai asing (rute Jakarta-Medan) yang cukup lama antara 3-5 jam,” terangnya. 

Implikasi lain dari kenaikan harga tiket adalah pergeseran penumpang pesawat ke angkutan darat. Kementerian Perhubungan memprediksi 30-40 persen yang biasanya menggunakan transportasi udara akan beralih ke darat. Bukan hanya karena kenaikan harga tiket pesawat, tetapi juga beroperasinya Tol Trans Jawa dan akses yang mudah. 

Meski ada masalah inefisiensi pengelolaan maskapai yang membuat harga tiket meningkat, penetapan harga tiket pesawat tidak bisa dipandang sebagai suatu kebijakan secara umum, melainkan spesifik untuk masing-masing rute.

Karenanya, pemerintah perlu memperhatikan beberapa hal dalam penentuan batas tarif pesawat. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan pemerintah antara lain, aspek efisiensi maskapai, persaingan maskapai dalam dan luar negeri, alternatif transport, karakteristik rute, serta dampak perekonomian daerah. 

Sebagai negara kepulauan, industri transportasi tidak bisa dipisahkan antara transportasi darat, udara dan laut. Sehingga dibutuhkan kajian menyeluruh terkait tarif transportasi. 

"Karena tidak hanya terkait dengan permasalahan konektivitas, transportasi terintegrasi, pemerataan pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat, kondisi perusahaan transportasi dan juga persaingan di industri transportasi," kata Toto. (cnb/det/kat/lip/bls)