Wajib Gunakan Sistem Zonasi

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 108

Wajib Gunakan Sistem Zonasi
UPACARA – Siswa-siswi SMA hormat bendera saat upacara bendera di halaman sekolah. Ist
PONTIANAK, SP - Sistem Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2019/2020 secara murni akan menggunakan sistem Zonasi penuh untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Barat, Suprianus Herman, beberapa waktu lalu.

Sistem zonasi hanya berlaku untuk SMA Negeri saja, tidak untuk tingkat SMK maupun sekolah swasta. Terdapat tiga jalur dalam sistem zonasi, yakni jalur zonasi (minimal 90 persen, termasuk siswa tidak mampu dan disabilitas), jalur prestasi (maksimal 5 persen), dan jalur perpindahan orang tua (maksimal 5 persen). 

Jalur zonasi untuk calon peserta didik yang memprioritaskan jarak tempat tinggal terdekat sekolah dalam zonasi yang ditetapkan. 

"Jumlah peserta didik diterima paling sedikit adalah sembilan puluh persen dari total jumlah keseluruhan daya tampung sekolah. Calon peserta didik dalam program penanganan keluarga tidak mampu dari Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah diterima dengan kuota 20 persen," ungkap Suprianus.

Sistem zonasi tersebut berdasarkan batas wilayah administrasi daerah yang dituangkan dalam bentuk pengelompokkan daerah (zona 1, zona 2 dan zona 3 dan zona 4) mulai dengan batas kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota dan jarak yang telah disepakati oleh dinas pendidikan provinsi. 

Khusus untuk sekolah yang berada di ibu kota kabupaten/kota bisa menggunakan jarak tempuh darat berdasarkan peta google atau leaflet (zona 4). Juga perhitungan jarak udara antara domisili (KK) calon peserta didik dengan sekolah.

"Sedangkan untuk jalur prestasi adalah jalur yang diperuntukkan bagi para calon peserta didik yang berdomisili luar zonasi yang memiliki prestasi. Jumlah peserta didik diterima paling banyak adalah 5% (lima persen) dari total jumlah keseluruhan daya tampung sekolah," jelasnya.

Dia menambahkan prestasi yang diakui dan diperhitungkan adalah prestasi dari kejuaraan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau lembaga yang diakui dan yang bekerjasama dengan pemerintah, bersifat berjenjang mulai tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi sampai dengan Nasional atau Internasional.

"Prestasi yang diakui dan diperhitungkan adalah prestasi akademik berupa nilai UN (ujian nasional) 10 besar tertinggi se-kota/kabupaten yang dibuktikan dengan piagam penghargaan oleh Dinas Pendidikan dan Kabupaten Kota/Kabupaten," tuturnya.

Sedangkan untuk Jalur Perpindahan Tugas Orang Tua atau Wali (SMA), jalur ini diperuntukkan bagi calon peserta didik yang berdomisili di luar zonasi dari sekolah dengan acuan perpindahan tugas orang tua atau wali. Jumlah peserta didik diterima paling banyak adalah 5% (lima persen) dari total jumlah keseluruhan daya tampung sekolah. 

Jika jalur perpindahan orang tua siswa tidak memenuhi kuota 5% maka kelebihan kuota akan diberikan kepada jalur berprestasi dan juga menyerahkan surat keterangan atau surat tugas orang tua dari instansi terkait .

Untuk pemilihan Sekolah Tujuan SMA untuk Jalur Zonasi, calon peserta didik dapat memilih maksimal 3 (tiga) sekolah sebagai sekolah tujuan. Sedangkan untuk Jalur Prestasi dan calon perpindahan tugas orang tua atau wali, calon peserta didik hanya dapat memilih 1 (satu) sekolah sebagai sekolah tujuan. 

"Lalu calon peserta didik hanya diizinkan mendaftar sekali, dan setelah terdaftar tidak dapat mencabut kembali pendaftarannya dan calon peserta didik hanya dapat memilih satu jalur," tuturnya.

Setelah itu seleksi penerimaannya secara berurutan berdasarkan pada jarak domisili Kartu Keluarga (KK) dengan sekolah tujuan, berdasarkan kartu KIP, PKH dan KJP, waktu pendaftaran lebih awal.

Untuk pendaftaran siswa masuk SMA tanggal pendaftaran sekolahnya akan ditentukan oleh pihak dinas pendidikan dan dilakukan secara serentak untuk tingkat SMA.

Mulai dari verifikasi berkas dan pendaftaran pada 24 sampai 26 Juni untuk SMA/SMK Negeri, pengumuman hasil akhir 28 Juni secara online, dan setelah itu melakukan daftar ulang pada 1 sampai 2 Juli. Untuk hari pertama masuk sekolah yakni pada  8 Juli 2019.

"Tahun ini murni sistem zonasi. Pokoknya tidak ada lagi titipan-titipan dan sebagainya," jelasnya.

Kata dia, sekolah yang ada di Kalbar sudah hampir 100% menerapkan sistem zonasi kecuali sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Namun secara umum sekolah wajib menerapkan sistem zonasi untuk PPDB.

"Untuk sekolah 3T di daerah agak repot kalau menerapkan sistem zonasi. Tapi secara umum wajib tahun ini menerapkan sistem zonasi.  Ada sistem yang online dan ada yang offline " terangnya.

Sebab, biasanya di daerah 3T hanya ada satu-satunya sekolah yang dilewati atau yang ada di daerah tersebut.

"Kecuali ada hal-hal khusus seperti itu secara umum di seluruh Indonesia itu menerapkan karena ini amanat dari peraturan menteri pendidikan. Kita juga membuat Pergub mudah-mudahan dalam waktu dekat ini ditandatangani oleh gubernur," ujarnya.

Pergub yang dibuat termasuk untuk bantuan kepada siswa untuk SMA dan SMK Negeri juga untuk beasiswa.

Ia mengatakan sebenarnya sistem zonasi ini sudah diterapkan dari tahun lalu namun sistem zonasinya belum murni karena masih pakai nilai.

Tujuan sistem zonasi adalah supaya nanti semua satuan pendidikan mempunyai kualitas dan mutu pendidikan yang sama. 

"Jadi, nanti tidak hanya anak-anak pintar masuk ke satu sekolah itu saja. Nanti akan menyebar di seluruh Indonesia. Itu salah satu tujuannya," terangnya.

Kemudian, pemerintah mudah memetakan sekolah yang kurang dan sekolah yang harus ditambah. Di situ peran penting kepala sekolah dan pengawas serta dinas untuk memajukan sekolah yang bersangkutan.

"Jadi, nanti semua pihak terkait akan berlomba-lomba memajukan sekolahnya masing-masing karena anak-anak pintar menyebar di seluruh sekolah," katanya.

"Harapan kita semua agar sekolah di Kalbar ini satuan pendidikan menengah ke atas mempunyai kualitas yang sama dan meningkatkan mutu pendidikan. Jadi, semuanya punya akses untuk memperoleh kualitas pendidikan yang sama dengan rakyat pedalaman maupun di perkotaan," pungkasnya. 

Infrastruktur Mendukung

Presiden Mahasiswa IKIP PGRI Pontianak, Zulfikri mengapresiasi sistem zonasi yang sudah diterapkan di Kalimantan Barat. Menurut dia sistem zonasi sangat tepat diterapkan bila melihat kondisi pendidikan di Kalbar saat ini. 

Selain itu akan mengubah paradigma masyarakat berkaitan dengan sekolah unggulan dan tidak unggulan. 

"Dengan sistem ini, maka kita sudah mengarah pada pendidikan yang tidak diskriminatif. Kan, selama ini kita terkurung pada paradigma unggulan dan tidak unggulan," jelas dia.

Hanya saja, dia memberikan catatan sistem zonasi juga harus didukung oleh infrastruktur pendidikan yang memadai. Karena selama ini pemerataan pendidikan di Kalbar salah satu masalah adalah minimnya infrastruktur. 

Kemudian sistem zonasi harus juga memperhatikan proses pembelajaran, tak boleh sampai terjadi kesenjangan antara sekolah satu dengan sekolah lain. Baik dari sisi guru maupun media pembelajaran yang akan menunjang para murid nantinya berprestasi.

"Tujuan sistem zonasikan salah satunya pemerataan pendidikan di Kalbar, otomatis itu juga harus menjadi prioritas," tutur dia. (iat/bah) 

Tantangan Sekolah Cetak Murid 

Kepala SMA N 9 Pontianak, Ibrahim mengatakan pada Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) di tahun 2019 pihaknya menerapkan sistem zonasi yang ia anggap paling tepat.

Karena dengan diterapkan sistem zonasi, semua sekolah akan mendapatkan anak-anak yang hebat dan juga akan mendapatkan anak-anak yang memang agak kurang. Namun, tantangan itu akan dihadapi sekolah untuk meningkatkan kualitas siswa.

"Rata-rata dari kemarin kan sekolah yang unggul pasti mendapatkan anak yang nilainya lebih bagus. Namun di sistem zonasi tidak ada lagi seperti itu. Jadi anak yang ada di lingkungan itu pasti terekrut di lingkungan sekolah terdekat," jelasnya.

Artinya, baik nilai anak itu rendah dan tinggi, tetap sama haknya karena tidak pakai nilai lagi tapi pakai sistem zonasi. 

"Kalau dilihat dari pengalaman yang sudah-sudah, SMAN 9 Pontianak kebetulan di Pontianak Utara dan Pontianak Timur masih dalam kategori sebagai sekolah favorit," ujarnya.

Ia memprediksikan PPDB 2019 ini bakal membeludak dan ditambah pula banyak SMPN yang dekat dengan SMA N 9, seperti SMP N 21, SMP N 14,  SMP N 28 SMP N 4 yang berada di daerah seberang (Pontianak Selatan, Tenggara).

"Bagusnya anak-anak yang mendapat nilai yang tinggi tak mungkin dia memilih sekolah di seberang. Karena zonasi tidak masuk daerah seberang. Namun seiring dengan itu kita juga akan mendapatkan anak-anak yang rendah nilainya," ujarnya.

Artinya, sekolah agak kerja keras untuk membangun anak-anak yang nilainya rendah. 

"Sistem inilah yang paling tepat, tapi mungkin kalau nanya sekolah-sekolah yang unggul mungkin agaknya miris karena sudah terbiasa ketemu dengan anak-anak hebat," terangnya.

Ia berharap semua masyarakat yang ada di Kota Pontianak , bahkan Kalbar pada umumnya mengerti tentang sistem zonasi ini, terutama kaum elit. 

"Sehingga tidak ada lagi sistem mau masuk dari jendela mana, mau masuk dari pintu mana, itu sudah tidak ada lagi.  Sekarang pokoknya dengan Permendikbud yang ada dengan Pergub yang ada dan dengan keputusan dinas yang ada, itulah yang dijalankan," jelasnya.

Ia juga berharap semua sekolah konsisten dengan keputusan dan aturan agar semuanya sama-sama nyaman. (iat/bah)