Minggu, 22 September 2019


Filosofi Panggung Tanjak dan Bola Dunia

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 225
Filosofi Panggung Tanjak dan Bola Dunia

BANGUN – Para pekerja tengah membangun panggung Tanjak di tepi Alun-alun Sungai Kapuas sebagai salah satu lokasi perhelatan STQ Nasional ke 25 di Pontianak, 27 Juli hingga 6 Juni 2019.

Panggung Tanjak dan Bola Dunia akan memeriahkan pelaksanaan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Tingkat Nasional ke-25 di Pontianak, 27 Juli hingga 6 Juni 2019. Bukan tanpa alasan keduanya dibangun. Selama ini, pelaksanaan STQ monoton, hanya menyulap lapangan atau gelanggang olahraga.

Panggung Tanjak berada di tepi Alun-alun Kapuas. Sedang panggung Bola Dunia, berdiri di Tugu Khatulistiwa. Masing-masing monumen itu memiliki filosofi sendiri.

“Itu ide Bapak Gubernur, yang ingin memberi kesan dalam bagi peserta. Kedua ada pesan, dengan dilantunkannya alquran di Pontianak,” jelas Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, Rabu (19/6).

Alun-alun Kapuas dan Tugu Khatulistiwa merupakan salah dua ikon kota. Penyelenggaraan STQ pun harus meninggalkan jejak monumental. Pemilihan mimbar berbentuk tanjak, lantaran tutup kepala ini merupakan ciri khas pakaian Melayu. Letaknya di tepian Sungai Kapuas, identitas Kota Pontianak.

“Kita buat permanen sebagai bukti pernah diadakan STQ. Setelahnya, bisa jadi ikon wisata untuk berfoto yang instagrameble. Menandakan seseorang pernah ke Pontianak,” katanya.

Selain itu, para peserta akan mendapatkan kesan berbeda. Selama ini, STQ kerap digelar di lapangan atau dalam ruangan. Namun di Pontianak, mereka akan bertilawah di tepi sungai. 

“Kalau panggung Bola Dunia di Tugu Khatulistiwa, Pontianak satu-satunya kota yang dilewati garis khatulistiwa, ada di antara dua kutub. Jadi alunan alquran nanti dilantunkan di titik 0, sesuatu yang belum pernah terjadi. Diharapkan aura positif pembacaan alquran dari titik tengah ini akan menyebar ke seluruh dunia,” jelasnya.

Pelaksanaan STQ akan dipusatkan di Alun-alun Kapuas. STQ satu tingkat di bawah MTQ. Pesertanya kurang lebih 1.500 orang. Masih memungkinkan digelar di landmark Kota Pontianak tersebut.

“Selama ini umumnya STQ di GOR, dibikin ornamen masjid atau rehal, itu biasa saja. Itu umum. Ide ini memang dari Pak Gubernur untuk menonjolkan Kota Pontianak, cerdas juga menurut saya,” sebutnya.

Tidak hanya mengenalkan kota, agenda ini turut menghidupkan perekonomian. Mulai dari penginapan, hingga kuliner. Terlebih untuk kuliner, akan ada pasar besar di area Masjid Raya Mujahidin. Sementara di Alun-alun Kapuas, berdiri stand pameran peserta. (kristiawan balasa)