Kawan atau Lawan

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 174

Kawan atau Lawan
Grafis Kursi Pilkada 2020
PONTIANAK, SP – Rivalitas di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020, Kabupaten Sambas, Ketapang, Bengkayang, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu, dan Sekadau, diyakini ‘memanas’. Meski saat ini manuver politik dan mobilisasi arah dukungan belum kentara terlihat dan mengerucut di publik. Namun, di lingkungan partai politik, secara internal, perhelatan lima tahun sekali itu mulai serius dibahas.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadwalkan, tahapan Pilkada serentak 2020 di Indonesia akan dimulai bulan September 2019. Praktis, tinggal tiga bulan lagi memasuki tahapan Pilkada serentak 2020 dimulai. Kurun waktu tiga bulan ini akan menjadi ajang lobi para calon mendapatkan sokongan dari partai politik.

Kesolidan bekas pasangan calon Pilkada serentak 2015 lalu, tak memberi jaminan mereka bergandeng tangan di Pilkada serentak 2020 nanti. Intrik dan friksi diyakini membumbui penetapan pasangan calon antar partai politik. 

Selain itu, kemunculan calon figur baru, diyakini akan memiliki pengaruh di internal partai politik dalam menetapkan pasangan calon yang diusung. Di luar kader partai, kehadiran figur baru ini menjadi pertimbangan matang partai politik untuk meraih kemenangan Pilkada 2020.  Sejumlah nama figur calon bupati di tujuh kabupaten itu, mulai menyeruak.

Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili menjawab pertanyaan Suara Pemred, peluang kembali maju bersama pasangannya saat ini, Wakil Bupati, Hairiah, tidak memberikan pernyataan lugas.

“Sambas memiliki banyak orang-orang hebat, berkualitas, berintegritas, tidak korup, akhlak mulia, jujur, amanah, taat dan soleh. Ini yang kita harapkan. Orang-orang seperti yang saya sampaikan tadilah yang selalu menjadi harapan dan doa saya untuk memimpin Sambas hingga 100 tahun ke depan, agar Sambas diberkahi Allah,” kata Atbah kepada Suara Pemred, Minggu (23/6).

Atbah masih menunggu dan melihat perkembangan menjelang Pilkada 2020. Namun, dia tak keberatan maju bila ada partai politik yang mencalonkannya.

“Lebih baik dicalonkan, kita lihat saja,” ujarnya.

Atbah masih belum mengungkapkan strategi dan manuver politik yang dilakukan menjelang Pilkada 2020. Baginya, kepemipinan adalah pelayanan, dan itu takdir dari Tuhan.

“Hablum minallah dan hablumminannas, itu yang selalu dan akan dilakukan. Pemimpin adalah pelayan, kepemimpinan adalah takdir dari Allah SWT,” pungkas Atbah. 

Pengurus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sambas, merupakan salah satu partai pendukung Atbah Romin Suhail- Hairiah di Pilkada 2015 lalu, tidak memberi garansi pasangan tersebut kembali berpasangan di Pilkada 2020. Bagi PPP, lebih mengutamakan kader partai sendiri.

Hal ini diungkapkan Wakil Ketua DPC PPP Sambas, Galih Usmawan. Menurutnya, persoalan kembali berpasangannya Atbah Romin Suhaili dan Hairiah belum bisa dipastikan.

“Soal duet kembali atau tidak pasangan Atbah-Hairiah jilid 2 tergantung partai pengusung, yang dalam hal ini minimal sembilan kursi jika menggunakan kendaraan parpol,” kata Galih.

Melihat kemungkinannya ke depan, kata Galih, partai PPP siap berlaga pada kontestasi Pilkada Kabupaten Sambas 2020 dengan mengusung kader sendiri.

“Dalam hal ini, saya tidak lagi berbicara sebagai timses Atbah-Hairiah, tapi sebagai pengurus partai. Kami punya kader sendiri, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Sambas, Hj. Hairiah,” tegas Galih.

Tekad mengusung kader sendiri, tegas Galih, menjadi prioritas partai berlambang Kabah itu. 

“Sebagai kader partai kami lebih memprioritaskan kader sendiri dalam penjaringan Pilkada Sambas 2020 nanti. Tentu ada mekanisme penjaringan internal partai dalam waktu dekat nanti. Kita tunggu saja,” ungkapnya.

Galih memprediksi, di Pilkada Sambas akan diikuti lebih dari dua pasangan calon melalui partai politik. 
“Pilkada kali ini, insyaallah akan ada kejutan. Prediksi hanya tiga pasangan calon dari unsur parpol minus jalur perseorangan. Kami menyambut baik tokoh-tokoh yang ingin ikut berkontestasi pada Pilkada September 2020,” pungkasnya.

Langkah PPP Sambas mengusung kader sendiri, juga dilakukan DPC Partai Gerindra Sekadau. Wakil Ketua DPC Gerindra Sekadau, Yodi Setiawan menegaskan, saat ini ada dua kader partai yang dinilai layak memimpin Kabupaten Sekadau lima tahun ke depan.
“Yaitu Pak Handi dan Mulyadi Alip,” sebut Yodi. 

Handi juga Ketua DPC Gerindra Kabupaten Sekadau, kata Yodi, memiliki pengalaman di politik, dan selama dua periode sebagai wakil rakyat di DPRD Sekadau.

“Pada Pileg 2019 ini, ia juga kembali terpilih. Dengan demikian, Handi tercatat sudah tiga periode duduk di DPRD Sekadau. Di usia yang masih muda, Handi termasuk salah satu politisi yang paling konsisten dan cukup diperhitungkan dalam kancah perpolitikan,” kata Yodi.

Sedangkan sosok Mulyadi Alip, sebut Yodi, figur pengusaha yang sukses dan pernah duduk di DPRD Sekadau. Kedua calon itu, diyakini Yodi, dapat maju melalui partai Gerindra. Apalagi, partai besutan  Prabowo Subianto ini, meraih suara terbanyak kedua di pemilihan legislatif.

Yodi membocorkan, pasangan calon itu sudah dibicarakan dengan sejumlah partai. Meski diakui Yodi, perhelatan masih panjang, upaya serius dilakukan Gerindra dengan menjajaki pembentukan koalisi mengusung pasangan Handi-Alip. 

“Sampai saat ini kita sudah menjalin komunikasi dengan tiga partai yaitu Nasdem, Demokrat dan PKPI. Karena tahapan masih panjang, segalanya masih mungkin,” pungkas Yodi.

Bangun Koalisi

Bupati Melawi, Panji menyatakan masih mempertimbangkan apakah kembali mencalonkan diri di Pilkada Melawi.
“Saya belum mempertimbangkan ke sana. Tentu ini akan menjadi perhatian kita semua. Baik orang politik maupun masyarakat. Tapi memang ini harus dipikirkan sekarang, karena daerah ini harus lebih baik dan ada perkembangan,” kata Panji.

Dia menyebut sukses kepemimpinan menjadi pekerjaan berat bagi semua pihak. Bagaimana sukses tak hanya sekadar menjadikan seseorang, tapi juga untuk bisa mendapatkan pemimpin yang punya motivasi, potensi, dan kualitas. Pemimpin yang dinilai baik oleh masyarakat.

“Kalau saya sekarang tak tahu persis (soal penilaian). Karena masing-masing orang tentu punya penilaian sendiri-sendiri. Sudah jadi gawai kita untuk memikirkan itu. Karena kalau melihat, Pemilu kita dipercepat. Karena dari masa jabatan kepemimpinan Melawi, termasuk dipercepat karena masuk dalam masa jabatan,” ujarnya.

Panji sendiri belum memikirkan hal ini, sebagai orang partai, ia akan mulai melakukan hitung-hitungan politis, termasuk mendengarkan masukan dari jajaran partai seperti apa aspirasinya. Pembicaraan dengan sejumlah partai lain untuk membangun koalisi kedepan juga sudah akan dilakukan.

“Termasuk dari masyarakat, serta teman-teman media. Apa keinginan masyarakat dan tipe serta pelayanan apa yang diharapkan,” ungkap Panji.

Wakil Bupati Melawi, Dadi Sunarya belum memberikan pernyataan soal apakah akan maju sebagai kandidat calon bupati atau tetap bersama dengan Panji untuk kedua kalinya.
“Nantilah tunggu saya pulang haji saja,” katanya. 

Dorongan Dadi untuk maju sebagai calon bupati sudah muncul dari internal partai. Sekretaris DPD PAN Melawi, Joni Yusman menilai Pilkada ini menjadi ajang pembuktian, dan PAN Melawi harus berani mengusung calon bupati dalam Pilkada 2020.

“Sebagai partai besar, dan juga peraih suara terbanyak kedua untuk legislatif di Kabupaten Melawi, PAN bagi saya sangat layak dan sudah seharusnya berani mengusung calon bupati. Tak sekadar mendukung kader dari luar partai,” ujar Joni.

Dia menambahkan, PAN memiliki banyak kader potensial yang memiliki kapasitas untuk maju dalam perhelatan Pilkada 2020.
“Sudah seharusnya yang diusung adalah kader terbaik dari PAN. Terlepas siapa pun nanti yang akan diusung. Sudah semestinya kader kita punya nyali untuk maju menjadi calon bupati. PAN harus berani. Jangan jadi pengecut,” pungkas Joni. (noi/eko/akh/has)

Kuda Hitam

Tiga bulan menjelang perhelatan tahap awal Pilkada serentak 2020 di tujuh kabupaten Provinsi Kalimantan Barat, sejumlah nama figur baru, ‘kuda hitam’ mulai didengungkan. Mulai dari kader partai politik, pengusaha, akademisi hingga birokrat.

Mantan Wakil Bupati Sambas, Dr. Pabali Musa M.Ag, kembali digaungkan maju di Pilkada serentak 2020. Pabali Musa kini tercatat sebagai dosen FISIP Untan, dinilai memiliki peluang besar maju di Pilkada Sambas. 

Selain Pabali Musa, nama H. Izwari Muazi ST, M.Si putra mantan pertama Sekda Sambas, seorang birokrat di Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, disebut dalam bursa figur calon bupati dan calon wakil bupati di Pilkada 2020.

Di Pilkada Bengkayang, keputusan partai Demokrat menarik dan dinanti. Ketua DPD Demokrat kalimantan Barat, Suryadman Gidot, M.Pd, yang juga Bupati Bengkayang saat ini tidak dapat lagi maju. Gidot sudah dua kali terpilih dalam Pilkada Bengkayang, 2010-2015 dan 2016-2021.

Tokoh Masyarakat Ketapang, Yudo Sudarto meyakini calon petahana, Martin Rantan kembali maju, namun dengan figur calon wakil yang lain. 

“Prediksi saya (Martin) pasti maju, dan kemungkinan besar tidak lagi berpasangan dengan wakilnya yang saat ini,” kata Yudo. 
Yudo beralasan, hubungan Martin Rantan dan Suprapto, tidak lagi harmonis.

“Bukan rahasia umum lagi, tapi kita lihatlah nanti, kan Pilkada masih lama jadi masih ada kemungkinan-kemungkinan,” ujarnya.
Sosok lain yang akan maju di Pilkada Ketapang, sebut Yudo, Yasir Anshari yang merupakan anak dari mantan Bupati Ketapang, Morkes Efendi bersama mantan Ketua DPRD Ketapang, Budi Mateus, diprediksi akan maju dari jalur perorangan.

Sejumlah partai politik di Kapuas Hulu masih mendalami sosok calon yang akan diusung di Pilkada 2020. Dua nama yang digadang akan maju, Sis dan Iman Shabirin. Mengenai namanya digadang di Pilkada Kapuas Hulu, Imam mengaku memutuskan sikap dalam waktu dekat.

Politisi PDIP, Martinus Sudarno menyatakan siap maju di Pilkada Sekadau. Anggota DPRD Kalbar ini, menyebutkan, sudah waktunya pulang ke daerah. Dia pun berharap partainya memberikan kesempatan untuk maju di Pilkada Sekadau.

“Secara pribadi saya siap, saatnya saya pulang ke daerah untuk membangun daerah. Namun kembali ke partai, kalau sudah perintah partai kita siap,” tegas putra asal Desa Parongkan, Kecamatan Sekadau Hulu ini.

Martinus menilai, di Pilkada Sekadau nanti, PDIP dapat mencalonkan sendiri karena kursi di DPRD Sekadau memenuhi kuorum.
“Kita (PDI Perjuangan) berapa kali Pilkada, Pemilu selalu menang. Dan tahun 2019 ini kita memperoleh 7 kursi, itu artinya tanpa koalisi pun kita bisa mengusung calon sendiri,” ujar Martinus. (teo/akh/sap/nar/has)