Aplikasi Sistem Zonasi Bermasalah

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 82

Aplikasi Sistem Zonasi Bermasalah
DAFTAR - Sejumlah siswa dan orang tua murid mendaftar seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan komputer di SMAN 1 Jakarta, Jakarta, Senin (24/6). Di Pontianak, banyak wali murid mengeluhkan aplikasi yang bermasalah.
PONTIANAK, SP – Aplikasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi bermasalah. Sejak pendaftaran dibuka, banyak jarak antara rumah dan sekolah yang tak sesuai di lapangan.

Satu di antara wali murid, Ariansyah bercerita, keponakannya tinggal di Pal Lima, Kecamatan Pontianak Barat, dan sudah mendaftar di sekolah terdekat, SMAN 2 Pontianak, Senin (24/6). Namun ketika nomor ujiannya dicek, Selasa pagi, malah muncul di SMAN 5 Pontianak yang berada di Kecamatan Pontianak Utara. 

Dia pun berupaya mengejar ke SMAN 5 yang tidak dipilih, ke sekolah tujuan awal. Namun, nama keponakannya tak masuk, alasanya, jarak melebihi 3,5 kilometer.

"Sepertinya ada permainan program, nomor ujian muncul tapi tidak memiliki nama," ucapnya.
Dalam hitungannya, jarak antara rumah ke sekolah hanya satu kilometer. Nilai keponakannya pun lumayan, di angka 30. Sementara di lapangan, ada siswa bernilai 13 yang masuk ke sekolah terdekat. 

“Banyak orang tua lainnya juga yang mengeluhkan hal yang sama,” kata Ketua RT 01 Kelurahan Sungai Jawi, Kecamatan Pontianak Barat ini.

Sebagai ketua RT, dia telah menerima berbagai aduan serupa dari masyarakat. Terutama di jenjang SMP.
"Ada orang tua yang mengeluhkan jarak rumah yang hanya beberapa ratus meter dari sekolah tapi tidak bisa masuk sekolah terdekat," katanya.

Dia meminta pemerintah provinsi turun tangan memberikan kepastian. Percuma anak berusaha mendapat nilai tinggi, tapi tak bisa masuk di sekolah yang diinginkan.

"Kami bingung, apakah anak kami harus masuk swasta meskipun nilainya tinggi," katanya.
Sebelumnya, dalam pelaksanaan hari pertama PPDB, Senin (24/6), ditemukan kejanggalan dalam aplikasi PPDB Online. Jarak antara rumah siswa dan sekolah, tak sesuai kenyataan.

Hal serupa dirasakan Yanti (43). Dia khawatir anaknya tak lolos SMA yang diincar. Ada tiga sekolah yang dipilih, SMAN 3 Pontianak di pilihan pertama, SMAN 2 Pontianak dan SMAN 4 Pontianak berurutan di pilihan selanjutnya. Semuanya masuk zonasi Zona 1.

SMAN 4 Pontianak jadi sekolah dengan jarak terdekat. Rumahnya berada di daerah Sungai Jawi, Pontianak Kota. Dari aplikasi Google Map, jarak keduanya hanya 650 meter. Namun, di PPDB Online, tertera 2.027 meter. Itu sekolah pilihan ketiga. 

Sementara sekolah pilihan pertamanya, SMAN 3 Pontianak, dalam PPDB Online berjarak 4.918 meter, dan 2.027 meter untuk jarak ke SMAN 2 Pontianak. Dibandingkan dengan jarak di Google Map, angkanya mendekati.

“Takutnya nanti pilihan pertama tidak masuk, pilihan terakhir pun tidak,” khawatirnya. 
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji menyatakan pihaknya akan meminta kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk kembali mengkaji penerapan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

"Kita akan meminta kepada kementerian terkait untuk segara melakukan evaluasi dan mengkaji ulang penerapan sistem ini," kata Sutarmidji.

Pihaknya sendiri akan melakukan evaluasi dari sistem zonasi PPDB tahun ini. Hasil evaluasi tersebut akan disampaikan kepada pihak kementerian.

"Dulunya setiap penerimaan siswa baru, kita tidak pernah ribut-ribut, tapi tahun ini memang terkesan dipaksakan sehingga menuai banyak protes dari masyarakat," katanya.

Penerapan sistem zonasi dalam PPDB memang memiliki tujuan yang baik, namun dalam pengaplikasiannya di lapangan dirasakan belum siap, terutama untuk diterapkan di Kalbar.

"Contohnya di Kabupaten Kapuas Hulu, wilayahnya itu besarnya seperti Jawa Barat plus Banten. Namun, untuk keberadaan SMA negeri, sangat sedikit dan jaraknya sangat jauh sehingga penerapan dengan sistem zonasi ini dirasakan belum tepat," katanya.

Mantan Wali Kota Pontianak itu juga tidak sependapat jika pemerintah pusat melalui Kemendikbud ingin menghilangkan kesan sekolah favorit.

"Saya tidak sependapat untuk itu, justru sekolah favorit itu harus dipertahankan agar siswa bisa berpacu-pacu meningkatkan prestasinya agar bisa diterima di sekolah favorit, karena kalau itu tidak ada bagaimana siswa mau berkompetisi," katanya.

Justru sebagai Gubernur Kalbar, dirinya ingin membuat SMK unggulan di setiap daerah, agar di SMK tersebut bisa menampung siswa-siswa berprestasi dan ini akan memacu siswa untuk semangat belajar. (din/bls)