Jumat, 15 November 2019


Pemain Meriam Karbit Harap Bantuan Pengadaan Balok

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 210
Pemain Meriam Karbit Harap Bantuan Pengadaan Balok

JUARA UMUM – Kelompok Putra Ramadan di Kampung Bansir berhasil menyabet juara umum Festival Meriam Karbit 2019. Ist

PONTIANAK, SP - Festival meriam karbit yang menjadi agenda tahunan Pemerintah Kota Pontianak dalam memeriahkan Ramadan dan Idul Fitri selesai digelar. Di tengah menggelegarnya dentuman meriam karbit, tersisa berbagai harapan. 

Harapan itu datang dari Kelompok Putra Ramadan yang menjadi Juara Umum Festival Meriam Karbit 2019. Putra Ramadan berhasil mempertahankan gelar juara umum yang telah diraihnya pada 2018.


Perwakilan Putra Ramadan, Haikal berharap Pemkot Pontianak membantu pengadaan bahan baku balok dan diberikan legalitas dalam proses pengangkutannya. 

"Kita meminta kemudahan bahan baku agar mendapatkan legalitas dalam proses pengangkutannya," harapnya.

Dikatakan bahwa harga balok terbilang tinggi dan sulit didapat. Jika Pemkot membantu pendanaan, maka masalah balok yang rata-rata dikeluhkan pemain meriam karbit dapat teratasi. 

Tak hanya itu, berharap Pemerintah Kota Pontianak mengupayakan kemudahan untuk pengajuan bantuan dana ke berbagai pihak.

"Kemudian, untuk bahan baku, kita juga meminta kemudahan agar mendapatkan legalitas dalam proses pengangkutannya," harapnya.

"Kami berharap Pemerintah Kota Pontianak dapat mempermudah akses untuk mendapatkan bantuan dari perusahaan-perusahaan yang ada," ucap Haikal saat diwawancarai via telepon pada Selasa (25/6).

Pemkot Pontianak diharapkan bisa memberikan legalitas dalam pengajuan proposal bantuan dana itu. Selama ini, legalitas yang didapatkan hanya dari forum dan kedudukannya tidak kuat.

Selain itu, Haikal berharap kaum millenial Kota Pontianak melestarikan budaya agar tidak tenggelam di muka bumi.

Turun-temurun

Sementara Tokoh Pemuda Kota Pontianak, Wandy El Bansir mengatakan, permainan meriam karbit merupakan tradisi masyarakat pesisir sungai di Kota Pontianak. Salah satu titik pelestarian permainan meriam karbit berada di Kampung Bansir. Permainan meriam karbit di Kampung Bansir juga dilaksanakan secara turun-temurun.

"Hal tersebutlah yang menjadikan anak-anak muda yang tergabung di Kelompok Putra Ramadan untuk ikut berpartisipasi dalam festival meriam karbit," ucapnya.

Dalam proses pembuatannya, ia menjelaskan melewati proses yang sulit. Kelompok meriam karbit selalu terbentur pada kekuatan finansial yang masih minim. Namun, dengan semangat yang ada, keterbatasan dikalahkan. 

Diungkapkan bahwa berdirinya Kelompok Putra Ramadan merupakan hasil sumbangan dari masyarakat setempat dan pihak lainnya yang mendukung. Pada awalnya, ia tidak berpikir akan memenangkan festival meriam karbit. Namun, penghargaan yang diberikan di luar ekspektasi yang ada di benak masyarakat.

Diungkapkan, dari proses penyampaian balok, pembuatan benteng panggung dan pentas serta dekorasi, memakan biaya yang tidak sedikit. Karbit yang digunakan juga tidak sedikit, belum lagi persoalan rotan yang sangat sulit dicari di Kota Pontianak.

"Kalau seandainya semuanya dihargai dengan uang, (menghabiskan) sekitar Rp30 juta rupiah," katanya.

Dikatakan, dana pembinaan yang diberikan Pemkot Pontianak cukup membantu untuk kegiatan pada festival berikutnya. 

Wandy yang juga Wasekum DPD KNPI Provinsi Kalbar ini juga menyampaikan kedepannya Pemkot Pontianak harus bisa menganggarkan paling tidak satu balok untuk setiap titik kelompok permainan festival meriam karbit. 

Balok menjadi hal yang penting karena bahan baku utama dalam permainan meriam karbit ini sekarang harganya sangat tinggi.

"Kalau seandainya mengandalkan masyarakat untuk swadaya akan memakan biaya yang tinggi," katanya.

Dengan bantuan balok dari pemerintah, diharapkan even ini dilaksanakan setiap tahun. Bantuan tersebut tidak harus dianggarakan setahun sekali, tapi dua tahun sekali sudah sangat baik.

Selama ini, masyarakat selalu mengandalkan balok yang telah ada. Bahkan, ada kelompok yang usia baloknya hampir dua puluh tahun. Kedepannya dikhawatirkan jika tidak ada penambahan balok dan berkurangnya jumlah balok, maka jumlah meriam akan semakin berkurang.

"Kami harapkan bantuan pemerintah terkait balok, rotan dan karbit. Untuk lainnya bisa dikerjakan oleh masyarakat," harapnya.

Dia juga merespons baik kebijakan pemerintah dalam mengikutsertakan permainan meriam karbit pada pembukaan STQ Nasional ke 25 di Kota Pontianak. Langkah tersebut bisa dijadikan ajang berkomunikasi ke Pemerintah Kota Pontianak. 

"Rangkaian STQ yang melibatkan meriam karbit bisa mengangkat sejarah Kota Pontianak," ucapnya.

Dia juga merespons baik wacana pembuatan panggar meriam karbit permanen. Namun, yang menjadi persoalan adalah meriam itu tidak bisa diletakkan di panggar secara terus-menerus. Dikhawatirkan kalau musim kemarau akan menyebabkan balok meriam menjadi lapuk.

Dirinya mengatakan, untuk menjaga keawetan meriam kelompoknya, balok meriam karbit yang telah dipergunakan akan disimpan di sungai. Hal tersebut untuk meminimalisir kerusakan yang ada.

"Jika meriam karbit mau dibunyikan secara terus-menerus, kendala di bahan baku seperti rotan yang sulit didapatkan," tutupnya. (din/bah)