Senin, 16 Desember 2019


Pemprov Usulkan Pembangunan PLTN di Kalbar

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 175
Pemprov Usulkan Pembangunan PLTN di Kalbar

UJI THORIUM - BATAN Yogyakarta menguji kesiapan Thorium hasil pengolahan limbah penambangan timah sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Di Kalbar, Pemprov mengusulkan pemerintah pusat untuk membangun P

Pengembangan Energi Nuklir penting dibahas untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional dengan target energi terbarukan sebesar 23%  pada tahun 2025. 

Hal itu disampaikan Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar), Sutarmidji pada Seminar International Konwledge Sharing terkait Pengembangan Energi Nuklir di Indonesia dan untuk Mendukung Pembangunan Industri yang Berbasis IPTEK di Kalimantan Barat di Balai Petitih, Kantor Gubernur Kalbar Jalan Ayani, Rabu (26/6).

Dikatakan, Pemerintah Provinsi Kalbar terus berupaya melakukan arah kebijakan dalam pengembangan pembangkit listrik yang berbasis energi baru dan terbarukan, yang aman, andal, murah, serta ramah lingkungan dan juga bagian dari mengurangi semakin parahnya kondisi lingkungan akibat efek rumah kaca dari pembakaran bahan fosil.

Di sisi lain juga untuk mengatisipasi semakin menipisnya jumlah cadangan bahan bakar fosil. Makanya, pihaknya melakukan pengusulan kepada pemerintah pusat untuk perencanaan pembangunan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di Kalimantan Barat.

"Kalbar sampai hari ini masih ada kurang lebih 400 desa yang belum teraliri listrik dari 2031 desa di Kalbar. Kemudian, 1.400 desa juga belum merata. Nilai jual dari listrik menggunakan fosil itu mahal, kita perlu investasi yang sangat besar. Padahal di satu sisi kita memiliki bahan baku uranium sangat besar, tapi tidak dimanfaatkan, maka kita pilih PLTN untuk mengaliri listrik ke seluruh Kalbar," ungkap Sutarmidji.

Lebih lanjut, Sutarmidji mengatakan, kualitas bahan baku uranium yang dimiliki Kalbar terbaik setelah provinsi NTT. Satu sisi, pembangkit listrik dengan bahan baku fosil kedepannya bakal berkurang, bahkan akan lebih mahal serta makin berkurangnya minyak dan batubara semakin mahal. Maka dari itu, Pemprov Kalbar mengajukan perencanan pembangunan PLTN. 

“Untuk meningkatkan daya saing, salah satu beban produksi itu listrik atau tenaga penggerak harus murah dan berkelanjutan. Kita (Kalbar) punya itu. Sehingga, kenapa kita tidak mulai membicarakan tentang PLTN karena Kalbar ini sangat pontensial untuk itu. Di mana saja tempat PLTN, semuanya bisa dibangun," tuturnya.

Dirinya berharap perencanaan pembangunan PLTN bisa dibicarakan dan digali, serta disosialisasikan pembangunan PLTN tersebut. Supaya ke depan Kalbar mempunyai Power Plan dari energi nuklir dan pasti akan lebih murah.

“Kedepannya akan lebih murah. Walaupun awalnya pembangunan sedikit mahal, kedepannya pasti akan murah," ujarnya.
Untuk ketahanan energi nasional terutama listrik, lanjutnya, pemerintah tidak boleh ketergantungan terhadap negara lain. Karena dapat menyebabkan daya saing produk dalam negeri tidak bisa menembus pasar.

"Kalau listrik, kita tidak boleh ketergantungan dengan negara lain. Karena itu dapat menyebabkan daya saing produk kita tidak menembus pasar," tegasnya.

Sementara itu di tempat yang sama, Staf Ahli Bidang Relevansi dan Produktivitas Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, Agus Puji Prasetyono mengutarakan, pihak Ristekdikti saat ini sedang melakukan kajian yang mana mencakup geografis, lokasi dan keamanan serta lingkungan. Sehingga dalam pembangunan PLTN, aman.

"Nuklir itu safety (keamanan) sistemnya jauh lebih aman dari pada pembangkit lainnya," kata Agus.
Sedangkan untuk kriteria pembangunan PLTN memiliki tiga criteria. Pertama, bebas dari gempa. Kedua, dekat dengan laut dan ketiga, jauh dari kawasan penduduk, syarat dasar dalam pembangunan PLTN.

"Dari beberapa tempat yang ada di Kalbar, sangat memungkinan ada delapan titik daerah yaitu dari Kabupaten Sambas sampai ke Kabupaten Ketapang ada delapan titik potensial. Nah, kita akan pilih salah satu titik itu sesuai dengan cost and benefit. Keekonomian dan modal bisnis itu diperhitungkan juga, tinggal sedikit cost akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar," ujarnya.

Kata dia, konsep pembangunan PLTN itu yakni pemerintah membangun PLTN yang bersih, handal, stabil mulai dari Kalimantan Barat. Dirinya juga melihat potensi bahan baku uranium untuk penggerak PLTN di Kalbar terbesar di Indonesia.

Sedangkan dari segi ekonomis, PLTN sangat ekonomis dari pembakit listrik lainnya. Indonesia nantinya memiliki listrik paling murah di dunia serta membuat ketakutan negara-negara yang memiliki PLTN di dunia dalam segi bisnis kelistrikan.

"Kita jangan melihat dari bahan baku saja. Kita lihat negara Perancis yang memiliki banyak PLTN. Di sana mereka tidak memiliki bahan baku, namun bisa maju. Sedangkan di Kalbar ini potensi bahan bakunya sangat besar di Indonesia. Itu bisa kita manfaatkan. Jadi, lebih bagus kita daripada Perancis. Mereka mendunia dengan PLTN-nya dan lebih murah lagi listriknya," ungkapnya. (giat anshorrahman/bah)