Rusdi Berfoya-Foya ke Bali

Ponticity

Editor elgiants Dibaca : 1690

Rusdi Berfoya-Foya ke Bali
RILIS – Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono menyampaikan penangkapan penipuan berkedok poin Traveloka di Mapolda Kalbar, Rabu (17/7).
PONTIANAK, SP – Kepolisian Daerah Kalimantan Barat berhasil menangkap pelaku penipuan bermodus pengumpulan poin travel online Traveloka, Rusdi Hardanto (36). Pelaku mengakali 80 warga Pontianak untuk mendapatkan identitas pribadi mereka. Hasil culasnya mencapai Rp350 juta dan dipakai foya-foya ke Bali.

Modus penipuan ini terbongkar ketika salah seorang korban ingin mengajukan pinjaman ke bank. Ternyata, namanya sudah memiliki sejumlah tagihan. Tidak hanya satu, setelah berkembang, 80 orang jadi korban.

"Ini sisa uang hasil menipu sisa Rp1.250.000, yang lain (uang) digunakannya foya-foya ke Bali," ungkap Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono saat konferensi pers di lantai dasar Polda Kalbar, Rabu (17/7) siang. 

Rusdi Hardanto ditangkap di Pontianak, Jumat (12/7) lalu. Dia memiliki dua e-KTP. Pertama beralamat di Kelurahan Meliau Hilir, Kecamatan Meliau, Sanggau. Kedua, di Jalan Budi Utomo, Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara. 

Namun, aslinya, dia bermukim di Jalan Tanjung Raya II, Kelurahan Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur. 

Kapolda menyebut kasus penipuan bermodus pengumpulan poin travel online Traveloka ini kasus yang unik. Di Kalbar, ini baru pertama kali dipakai tersangka dengan kemampuan dan pemahaman bidang teknologi, dan kerugian yang cukup besar.

Dari 80 orang korban, jika dirinci 40 orang adalah warga Komplek Yuka Pontianak Barat, 20 orang warga Sungai Rengas, dan 20 orang warga Pal VI. 

"Satu orang (korban) yang telah terdaftar di data base Traveloka akan mendapatkan limit pinjaman sebesar satu juta rupiah sampai dengan delapan juta rupiah dalam bentuk poin tiket pesawat dan kamar hotel," jelasnya. 

Pelaku menjual tiket pesawat dan kamar hotel dengan harga lebih murah dari pasar. Penjualan dilakukan langsung ke masyarakat atau lewat media sosial. Jika laku, baru nama dipesan.

"Total keuntungan yang didapatkan pelaku hingga mencapai Rp350 juta inilah digunakannya untuk foya-foya," jelas Didi.

Kejadian berawal Maret 2019 lalu. Pelaku meminjam dana secara online melalui media paylater dari Traveloka. Syarat untuk transaksi ini, cukup dengan mengirimkan data identitas diri berupa e-KTP dan foto. Melihat peluang itu, Rusdi mengumpulkan sejumlah korban dengan berjejaring. 

Data diri korban diambil dan dipakai sebagai akun paylater Traveloka. Semua menggunakan ponsel miliknya dengan dua simcard, Indosat dan Telkomsel.

Dari bulan Maret hingga Mei 2019, korban yang berhasil diidentifikasi OJK sebanyak 80 orang. Namun yang bisa didaftarkan untuk melakukan peminjaman hanya 70 orang. Angka ini kemungkinan bisa bertambah. 

Dari tangan pelaku, polisi mengamankan lima barang bukti. Di antaranya fotokopi e-KTP korban sebanyak 11 lembar, uang tunai sebesar Rp1.250.000, dua unit ponsel merek Samsung J7 dan Sony Ericson, satu buah kartu ATM BRI, serta 38 buah informasi debitur dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Kapolda mengimbau seluruh masyarakat, terutama warga Kota Pontianak yang merasa pernah memberikan identitas diri seperti halnya kasus ini, segera mengecek ke OJK terkait tagihan peminjaman, dan melapor ke polisi. 
"Ini lah yang perlu kita percepat proses penyidikan dan penyelidikan," tegasnya. 

Proses Penipuan

Dalam konferensi pers, 15 korban dihadirkan. Hampir semuanya bekerja sebagai pengemudi ojek daring. Salah satunya adalah Dewi, warga Jalan Tabrani Ahmad, Pontianak Barat. 

Tagihan Dewi di Bank Catur Nusa mencapai Rp10 juta. Rincian yang tertulis, dia telah meminjam tiga kali. Peminjaman pertama hanya Rp1 juta, meningkat jadi Rp2 juta, dan terakhir hingga Rp7 juta. Dia sendiri merasa tak pernah meminjam.

Semua berawal dari ajakan seorang anggota grup WhatsApp ojek untuk mengumpulkan poin Traveloka dengan imbalan Rp100 ribu. 
"Ade can ni seratus ribu, cuma kite diminta kumpulkan KTP, untuk poin Traveloka. Kebetulan ade kawan gak udah dapat tige ratus ribu," ungkapnya meniru ajakan tersebut.

Ternyata banyak yang tertarik. Mereka pun dikumpulkan di dua kamar yang saling terhubung di Hotel Star untuk didata. E-KTP mereka dikumpulkan sebelum akhirnya difoto sembari memegang identitas diri tersebut. Satu kamar untuk korban berkumpul, satu lagi dipakai beberapa orang mendata identitas korban.

"KTP kami dikumpulkan, setelah itu dibawa ke kamar sebelah. Kalau berhasil kami difoto sambil pegang KTP. Setelah itu dikasih duit Rp100 ribu. Kalau tidak bisa didaftarkan, tidak dikasih duit,” katanya.

Alasan pelaku, mereka yang tidak bisa diregistrasi lantaran ada ketidakcocokan antara wajah dan identitas diri di e-KTP.
Korban Bertambah

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Kalbar, Riezky F Purnomo mengatakan hingga Rabu siang, masih ada sejumlah masyarakat yang mendatangi kantornya untuk melakukan pengecekan. Dari data OJK, modus seperti ini baru ditemukan di Kalbar. 

Saat ini, baik perbankan maupun perusahaan fintech sudah memiliki kebijakan peminjaman yang sangat mempermudah masyarakat. Hanya dengan identitas diri dan swafoto, masyarakat sudah bisa melakukan transaksi pinjaman. 

"Kebijakan ini mempermudah masyarakat kecil, tapi dimanfaatkan orang-orang yang tak bertanggung jawab," katanya.
Terkait dana yang sudah dipakai oleh pelaku, OJK masih akan berkoordinasi ke pihak-pihak yang menyalurkan pinjaman. Pasalnya, jika harus dibebaskan, bukan hanya masyarakat yang dirugikan, pihak bank dan fintech pun bernasib sama.

"Inikan tertipu masyarakat, bank juga. Kami sudah berkoordinasi dengan pusat, apakah penagihan ini ditagih, atau ada pengurangan akan kami koordinasikan lagi. Juga dilihat kemampuan banknya. Karena berat juga kan," ungkapnya. 

Dia harus lebih dulu memastikan, apakah pihak bank dan fintech mampu menyerap kerugian akibat kasus ini. 
"Saya berharap tidak ditagih. Tapi kita harus lihat kemampuan banknya. Apakah bisa menyerap kerugian. Karena ketika bank memberikan fasilitas ini, bank juga sudah ada persiapan," katanya. 

Walau sejatinya, korban tidak bisa menanggung kerugian lantaran mereka ditipu. Riwayat peminjaman dari identitas mereka pun semestinya tidak lagi berlaku.

“Masyarakat semoga tidak mudah memberikan identitas pribadi kepada orang yang tak dikenal. Sebab, hal itu bisa digunakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab untuk kepentingan diri pribadi,” katanya.

Awal Kasus

Kasus ini terbongkar usai Hafiz, warga RT 01 RW 18 Jalan Komyos Sudarso, Gang Alpokat Indah 5, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat, kaget mengetahui dirinya punya tunggakan bank sebesar Rp8 juta. Padahal, dia tak pernah mengajukan pinjaman. 

Setelah diusut, dia menduga namanya digunakan oleh oknum warga setempat, yang meminta e-KTP miliknya untuk keperluan travel online. Oknum tersebut mengimingi Hafiz imbalan Rp100 ribu jika verifikasi NIK e-KTP-nya berhasil.

Ternyata, Hafiz bukan korban tunggal, puluhan warga RT 01 RW 18, Gang Alpokat Indah 5 juga mengalami peristiwa serupa. Pada Rabu (11/7) malam, mereka berbondong mendatangi rumah ketua RT setempat. 

Beberapa bulan sebelumnya, seorang warga memang mengajak yang lain mengumpulkan e-KTP dan foto diri. Data itu untuk registrasi Traveloka dengan alasan mengejar poin. Mereka diberi imbalan Rp50-100 ribu. Uang diberikan jika registrasi berhasil.

"Saya sudah cek ke OJK dan hasilnya saya punya tunggakan yang harus dibayar sebesar Rp8 juta,” ungkap Hafiz.

Pihak OJK memberikan empat lampiran kepadanya. Setiap lampiran tertulis riwayat pinjaman ke pihak Bank Sinar Mas Tanah Abang Jakarta dengan nomor rekening yang berbeda-beda.  

"Setiap lampiran ada tunggakan yang harus saya bayar uang yang tak pernah saya pinjam," katanya. 

Tak hanya itu, data diri Hafiz juga dipalsukan, di antaranya terkait profesi dan tempat bekerja. 

"Nama benar, namun pekerjaan saya ditulis sebagai guru atau dosen. Padahal saya swasta. Tempat bekerja juga ditulis Gas Stasiun Ketapang Mandiri," jelasnya. 

Warga lain bernama Kristina Teresia juga mengalami hal serupa. 

"Awalnya sempat ragu, tapi pas diajak ibu mertua, saya jadi mau," ungkapnya. 

Tak sampai di situ, dia juga diminta mengumpulkan 10 orang lain dan dibawa ke suatu rumah di Jalan Karet. Di sana mereka satu per satu didata dan diinput datanya. (sms/bls)