Minggu, 15 Desember 2019


Diperlukan Pengolahan Komoditas untuk Tingkatkan Keuntungan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 145
Diperlukan Pengolahan Komoditas untuk Tingkatkan Keuntungan

EKSPOR BIJI PINANG – Pejabat Kementerian Pertanian RI lewat Barantan dan pemerintah daerah melepas ekspor 162 ton biji pinang ke Thailand di Pontianak, Kamis (18/7).

Bertumbuhnya ekspor biji pinang dari Kalimantan Barat (Kalbar) membuat Kementerian Pertanian RI lewat Badan Karantina Pertanian (Barantan) mendorong adanya investasi pengolahan biji pinang, baik menjadi produk setengah jadi maupun produk akhir. 

Hal tersebut dilakukan agar margin keuntungan yang didapat lebih tinggi.

"Ekspornya terus meningkat. Ada negara tujuan baru, perlu kita apresiasi. Tapi harus diolah supaya optimal," kata Kepala Barantan, Ali Jamil, saat melepas ekspor 162 ton biji pinang ke Thailand di Pontianak, Kamis (18/7).

Jamil menyebutkan bahwa dari data sistem otomasi Barantan IQFAST, beberapa komoditas di Pontianak juga merambah negara baru. Seperti komoditas aquatic plant (tanaman aquarium) dan kelapa parut kering terjadi penambahan negara tujuan seperti ke negara Maldives, Polandia, UK (United Kingdom), Singapura dan Brunei.

Ia yakin bahwa eksportasi pinang dari Kalbar akan meningkat 200 persen. Pada tahun 2018 tercatat eksportasi 3.643,21 ton, sedangkan periode Januari hingga Juni 2019 eksportasi biji pinang dari Pangkalpinang sudah mencapai 3.301,98 ton atau sebesar 90,63 persen dari target tahun lalu. Pasar biji pinang cukup luas meliputi negara India, Bangladesh, Iran, Afganistan, China dan Myanmar. 

Menurut Jamil, selama ini eksportir di Indonesia mengekspor biji pinang dalam bentuk mentah ke berbagai negara tujuan tersebut. Di negara tujuan, biji pinang asal Kalbar ada yang dikonsumsi, namun juga sebagian besar diolah kembali menjadi produk atau bahan pembuat kosmetika dengan merek luar. 

"Kalau kita lihat, ini kita rugi. Kita yang susah-susah nanam, mengeringkan dan seterusnya, tapi negara lain yang dapat nama, belum perhitungan marginnya. Makanya ayolah, bagaimana ini bisa kita olah dulu baru kita ekspor," ungkap Jamil.

Selain biji pinang, ekspor kelapa dari Kalbar juga masih banyak dalam bentuk kelapa bulat. Hal itu karena perusahaan pengolahan kelapa kering masih terbatas di Kalbar. 

Dari informasi yang ada, jumlah perusahaan baru ada dua dan kapasitasnya belum mampu menyerap seluruh kelapa bulat yang dihasilkan oleh petani. 

Menurut Jamil, Kementan lewat lima kebijakan strategisnya dalam mendorong ekspor harus  didukung bersama. Lima kebijakan tersebut meliputi mendorong pertumbuhan eksportir baru, menambah ragam komoditas ekspor termasuk mengolahnya menjadi barang setengah jadi atau produk akhir, meningkatkan frekuensi pengiriman, menambah negara mitra dagang dan meningkatkan volume ekspor. 

Secara langsung, Barantan mengambil posisi pada penambahan negara tujuan melalui kerja sama perjanjian Sanitary and Phytosanitary (SPS) dengan negara mitra. 

Sedangkan program lainnya, Barantan mendorong serta memfasilitasi kerja sama, baik dengan kementerian atau lembaga lain juga, dengan melakukan inovasi pelayanan seperti lewat Indonesia Quarantine Full Automation System iMace (IQFAST), Indonesia Map of Agricultural Commodities Export, dan electronic certificate (e-Cert). 

Untuk mendorong pertumbuhan eksportir baru, Barantan pendampingan bimbingan teknik pemenuhan persyaratan teknis ekspor dalam program Agro Gemilang, Ayo Galakkan Ekspor Produk Pertanian oleh Generasi Milenial Bangsa.

Lebin lanjut, Jamil menjelaskan bahwa ekspor via Kalbar, khususnya Pontianak pada tahun 2018, volumenya tidak kurang dari 328.124,13 ton. 

Lima komoditas unggulan ekspor dari Pontianak di antaranya kelapa bulat dan parut tujuan China, Mauritius, Argentina, Turki, Afrika Selatan, Jerman, Inggris, Rusia, Yunani dan lain-lain dengan total ekspor tidak kurang dari 65.006,09 ton. 

Lada biji tujuan Turki, India, Kanada, China, Swis dan Vietnam dengan total ekspor sebanyak 5.358,16 ton. Sementara biji pinang banyak dikirim ke India, Bangladesh, Itan, Afganistan, China dan Myanmar dengan volume total ekspor 3.643,21 ton. 

Untuk karet lempengan tujuan Amerika, India, Turki, China, Meksiko, Turki, Vietnam dan Pakistan dengan volume total ekspor 91.832,24 ton. Palm Kernel Expeller juga menjadi komoditas di pasaran Vietnam, Thailand dan Hongkong, dengan total ekspor 150.467,99 ton.

Selain lima komoditas unggulan tersebut, lanjut Jamil, pada 2018 Pontianak juga mengekspor beberapa komoditas unik yang bisa menjadi peluang baru pasar ekspor. Di antaranya tanaman aquarium (aquatiq palnt) yang diekspor ke Jepang, Korsel, Singapura, Amerika, Prancis, Inggris, Belanda, Denmark dan negara lainnya dengan total volume ekspor 363.407 batang. 

Sedangkan mengkudu diekspor ke Korsel dan Taiwan sebanyak 12,3 ton. Selain itu, ada juga ekspor daun kelapa sawit kering dengan negara tujuan Amerika, Hongkong dan Malaysia, yang telah diekspor sebanyak 22,53 ton. Sapu Lidi juga menjadi komoditas ekspor tujuan India, Pakistan dan Malaysia, dengan volume ekspor 749,19 ton. 

Nipah juga merupakan komoditas ekspor dengan tujuan India dan Pakistan, dengan total pengiriman sebanyak 225,6 ton. Dan komoditas sarang walet yang pengirimannya baru mencapai 113,65 kg pada 2018.

Selain melepas ekspor biji pinang, jamil juga melepas berbagai komoditas pertanian lainnya seperti karet tujuan China dan India sebanyak 665,58 ton, kelapa bulat tujuan China sejumlah 1.239,43 ton, 224,45 ton lada biji tujuan China serta palm kernel expeller diekspor ke Vietnam, Thailand dan Jepang dengan volume 4.320 ton. Perkiraan total nilai ekspornya adalah Rp. 36,77 Miliar.

Jamil juga mendorong agar pemerintah daerah mampu memgoptimalkan program akselerasi ekspor tersebut. Ia menyarankan agar pemerintah daerah bisa menggunakan aplikasi iMace yang sudah diberikan oleh Kementan untuk memetakan dan mengambil kebijakan yang positif terkait pengembangan komoditas ekspor di wilayahnya. 

"Investasi ini penting. Ayo yang muda-muda, kita coba garap bersama supaya kita bisa mandiri dan petani juga lebih sejahtera," pungkasnya. (suria mamansyah/bah)