Minggu, 15 Desember 2019


Pemkot Belum Dukung Startup Lokal

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 137
Pemkot Belum Dukung Startup Lokal

Ilustrasi

PONTIANAK, SP – Kota Pontianak terus berupaya mengejar target sebagai 100 kota di Indonesia dalam kategori smart city. Satu di antara indikator itu yakni pengembangan startup sebagai bisnis layanan digital.  

Di Pontianak ,sejumlah startup kreasi warga lokal sudah bermunculan. Beberapa contohnya yakni gim Sanyaki, aplikasi Gencil, Ko-Jek, Bujang Kurir, Angkuts dan lain-lain.

Kemunculan stratup itu agaknya belum sepenuhnya didorong oleh Pemkot Pontianak melalui dinas terkait. Setidaknya hal itu diungkapkan oleh Founder Bujang Kurir, Rizky Ramadhan. 

Rizky mengungkapkan, selama ini banyak aplikasi yang telah dibuat anak-anak muda di kota ini. Sayangnya ketika akan dipersentasikan dan ditunjukkan ke pemerintah kota, justru tak dapat perhatian. 

"Percuma saat kita membuat aplikasi itu, mental oleh pemkot saat dipresentasikan. Akhirnya, kita yang membuat startup, namun kita juga mematikannya," ungkap Rizky saat kegiatan Bekraf Developer Day (BDD) Pontianak di Hotel Ibis, Sabtu (20/7). 
 
Rizky berharap Kota Pontianak bisa mendorong startup-startup di Pontianak. Dukungan yang dimaksud bukan semata dalam bentuk materi, namun kolaborasi mendukung terbangunnya Kota Pontianak menjadi smart city.

Dirinya yakin dengan hadirnya startup lokal bisa membudayakan anak-anak muda. Terlebih, kehadiran startup akan membuka peluang kerja, khususnya di Kota Pontianak.

Permodalan 

Sementara Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif, Hari Santosa mengatakan, diskominfo semestinya tak hanya menyediakan fasilitas berupa infrastruktur saja, namun permodalan juga. Sebab, modal sangat dibutuhkan bagi anak-anak muda yang punya semangat maju di bidang teknologi. 

"Saat ini startup di Kota Pontianak sudah banyak dan saat ini juga sudah pada era permodalan," ungkapnya. 

Modal itu, kata dia, tak hanya bisa didapatkan dari dana pemerintah saja, namun bisa mengandalkan para investor. Apalagi presiden Indonesia sendiri telah menyatakan untuk tidak menghalangi investor.

"Jangan alergi terhadap investor asing. Apalagi presiden juga sudah menyatakan jangan menghalangi-halangi investor. Jika kita bisa menjalankan dengan baik, maka investor akan datang dengan sendirinya," tegasnya. 

Berkaitan hal tersebut, saat ini pihaknya memiliki misi yakni dengan jumlah startup digital yang mencapai 1.900 startup di Indonesia ini, daya dukung yang akan disiapkan oleh pihaknya adalah berupa peningkatan talenta dan permodalan. 

Dengan talenta yang ada, saat ini negara Indonesia masih kalah dengan masifnya perkembangan teknologi. Pasalnya, kebanyakan anak-anak muda akan berkarya ketika sudah memiliki ijazah. Di lain itu, posisi Indonesia masih minim pendidikan yang bisa mensupport untuk bersaing. 

"Kita tidak bisa menunggu semua bersertifikat ijazah. Kita memerlukan skill (keterampilan). Saya bilang kepada CEO, tidak penting IPK. Yang saya tanya berapa kali dia gagal, berapa kali dia buat program, berapa kali bangkit. Kita perlu itu," tegasnya. 

Sebagai Ibu Kota Kalbar, pertumbuhan ekonomi Kota Pontianak mencapai angka 5,06 persen. Hingga pertengahan 2019, Kalbar sendiri ditopang empat sektor yakni pertanian, pengolahan, perdagangan dan kontruksi. Oleh sebab itu, dibutuhkan kontribusi baru untuk meningkatkan ekonomi di Kalbar. 

Kontribusi yang dimaksud adalah di bidang teknologi informasi dan komunikasi, apalagi saat ini teknologi informasi tidak hanya mempermudah dalam memperoleh informasi, namun juga memberikan dampak positif perekonomian sebagai contoh lahirnya startup-startup. 

Secara data, Kota Pontianak didominasi usia muda yang melek digital. Hal tersebut menciptakan banyak peluang di kota ini. Aplikasi dan game buatan developer lokal muncul sebagai bukti industri kreatif digital menjadi peluang bisnis yang sangat berpotensi. 

Misalnya saja game Sanyaki, aplikasi Gencil, Ko-Jek, Bujang Kurir, Angkuts yang menjadi contoh karya anak muda Kota Pontianak, yang diharapkan menjadi sumber kontribusi baru bagi peningkatan ekonomi. 

"Jadi, Bekraf mengadakan BDD ini untuk mewadahi developer local, khususnya anak muda di Kota Pontianak agar mampu mengatasi masalah dan memberikan solusi untuk masyarakat melalui teknologi dalam bentuk aplikasi dan game," ujarnya.  

Dengan mengusung tema peluang dan tantangan menghadapi era revolusi industri 4.0, kegiatan BDD itu diikuti sekitar 200 peserta, menghadirkan sejumlah pelaku, praktisi, dan ahli industri kreatif digital, di antaranya Senior Software Engineer-Gojek Indonesia, Deny Prasetyo, Product Marketing Executive Visual Product, Muhammad Noval, Data Scientist Tokopedia, Kevin Filmawan, Head of Product Service Development advosquare.com, Satria Pratama Putra Apriyanto dan Cloufd Seller IBM, Irsan Suryadi Saputra. 

Sementara untuk aplikasi dihadirkan CTO Wowbid, Norendrantoro, CEO PT Lumio Inovasi Teknologi, Andrew Kurniadi Lim, Product Engineer Go jek, Andri Suranta Ginting, dan Academy Content Writer Dicoding Indonesia, Widyarso Joko Purnomo. 

Untuk game dihadiri game engineer dikoding Indonesia, Agil Julio, CEO Arsanesia, Ihwan Adam Ardisasmita, Founder Miracle Gatra Entertainment, Orlando Nandito Nehemia dan CEO PT Digital Semantika Indonesia, Rachmad Imron. (sms/bah)