Selasa, 17 September 2019


Ramadhan Tewas, Petugas Diduga Lalai

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 443
Ramadhan Tewas, Petugas Diduga Lalai

Ilustrasi

PONTIANAK, SP - Ramadhan (15), penyandang disabilitas tewas dianiaya dua temannya, RD dan WR, yang sama-sama penghuni Pusat Layanan Anak Terpadu (PLAT) Kota Pontianak, Jalan Ampera, tepat di belakang Polsek Kota Pontianak pada Sabtu (25/7). 

Nyawa Ramadhan tak tertolong, selain karena penganiayaan bengis RD dan WR, diduga karena petugas jaga PLAT dari Dinas Sosial Kota Pontianak itu mengabaikan pemberitahuan RD atas kondisi Ramadhan yang kritis akibat penganiayaan itu. Petugas jaga PLAT meremehkan laporan RD. Bagaimana rentetan peristiwa itu? 

Kepada Suara Pemred, RD yang didampingi Komisioner KPPAD Kalbar, Alik Rosyad dan seorang polisi Polsek Pontianak Kota, menceritakan kronologi kejadian tersebut, Sabtu (28/7) malam. 

RD bercerita pada Kamis (25/7), RD meminta Ramadhan untuk memijat badannya dengan minyak urut. Ramadhan menyanggupi permintaan RD. 

"Dan Ramadhan juga janji akan ngurut kamek (saya) besok lagi," ujar RD dengan tangan gemetar. 
 
Besoknya, Jumat (26/7) sekitar pukul 14.00 WIB, RD menagih janji tersebut. Ramadhan menolak. Penolakan itulah awal mula penganiayaan yang dilakukan RD yang berujung kematian Ramadhan. 
 
Ramadhan yang saat itu sedang di garasi PLAT, ditarik paksa RD ke arah musala (tempat salat) dekat PLAT. Ramadhan berontak. WR yang kebetulan melihat itu dan berada di dekat situ, ikut menganiaya Ramadhan. 
 
"Die (Ramadhan) lepas, keluar dari mushola. Lalu (kebetulan) petugas (petugas PLAT berinisal T) lewat. Kamek (saya) bilang (ke Ramadhan) 'tunggu kau kalau petugas (T) dah balek," ujar RD.  
 
Saat itu memang bertepatan pergantian shift antara petugas satu dengan lainnya. Melihat petugas sudah pergi, RD kembali mengejar Ramadhan dan menariknya ke kamar dalam PLAT. Di sana, ungkap RD, kepala bagian belakang Ramadhan diinjak-injak berkali-kali. 
 
"Kamek injak-injak di kepala belakang, tapi di kasur," ungkapnya. 
 
Setelah itu, Ramadhan kembali diseretnya ke arah belakang PLAT. Di tempat inilah terakhir kali penganiayaan tersebut, karena ketika menginjak kepala Ramadhan, hidung Ramadhan terbentur ke lantai hingga berdarah. 
 
"Kamek tanya 'kau ngape Dhan,' lalu kamek bawa die (Ramadhan) ke dalam kamar," ungkapnya. 
 
Petugas Abai
 
Sebetulnya, kejadian penganiayaan di musala ada jeda waktu cukup lama setelah akhirnya petugas jaga berinisial T datang. Bahkan ketika keadaan Ramadhan cukup mengkhawatirkan, RD telah melaporkan ke petugas P. Sayangnya, menurut pengakuan RD, petugas P justru abai. 
 
"Kamek bilang same petugas tu (P), 'Ramadhan tu ngape pak, bagus kite bawa die ke rumah sakit, Pak. Tapi die cume moto (foto) jak, die bilang Ramadhan pura-pura, efek sakau tu," cerita RD mengingat ucapan petugas P saat itu. 
 
Tak hanya itu, usai Magrib, RD kembali mengajak petugas P untuk membawa Ramadhan ke rumah sakit, namun permintaan RD kembali ditolak. 

"Biar jak die, pandai jak nanti petugas datang," imbuh RD menirukan ucapan petugas P. 
 
Padahal, saat itu, kata RD, keadaan Ramadhan sudah cukup mengkhawatirkan. Pernafasannya seperti sesak dan seluruh tubuhnya terasa panas. Barulah setelah sekitar pukul 20.00 WIB pada Jumat (25/7), Ramadhan dibawa ke Rumah Sakit Umum Kota Pontianak. Namun sayang, nyawa Ramadhan tak terselamatkan. Ia dinyatakannya meninggal pada Sabtu (26/7) pukul 05. 30 WIB oleh dokter. 
 
SOP Tak Jelas

Komisioner KPPAD Kalbar, Alik Rosyad mengatakan, Ramadhan adalah penyandang disabilitas. Ia dimasukkan ke PLAT karena kedapatan Satpol PP Kota Pontianak meminta-minta di jalanan. 

Meskipun begitu, status Ramadhan bukanlah anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Secara formal, Ramadhan tidak memiliki laporan kepolisian sehingga tidak tepat tinggal di PLAT. 
 
"Faktanya Ramadhan ini bukan ABH. Memang secara formal tidak ada LP (laporan polisi). Silakan (Dinsos Kota Pontianak) kalau ada penjelasan khusus (soal penempatan Ramadhan ke PLAT). Namun sebenarnya pun kurang tepat penitipannya (di PLAT)," ungkap Alik. 
 
Dari kasus Ramadhan ini, Alik menegaskan mesti jadi momentum seluruh pihak, baik KPPAD Provinsi Kalbar, Dinas Sosial Kota Pontianak, Satpol PP, Kepolisian, Bapas hingga Kejaksaan untuk melakukan evaluasi. 

“Harus ada langkah untuk menyatukan pemahaman agar kasus serupa tak terulang kembali. Terutama terkait dengan penitipan anak di PLAT,” katanya. 

Misalnya, kata dia, walaupun faktanya Ramadhan atau anak-anak ABH lain telah berulang kali masuk ke PLAT, mestinya ada SOP (Standar Operasional Prosedur)  yang mengatur seberapa lama mereka ditempatkan di PLAT. 
 
Selain itu, walaupun dua anak yakni RD dan WR disangkakan dalam pidana, kata Alik, pada dasarnya keduanya adalah korban pula. 

“Korban dari kebijakan pemerintah yang tidak ramah anak, pola pengasuhan yang kurang tepat, masyarakat yang tidak kondusif.  Dan bisa jadi situasi di PLAT itu sendiri," tegas Alik. 
 
RD mengatakan ia hanya tinggal bersama neneknya. Sementara ibunya saat ini menjadi TKI di negeri jiran. Semenjak ia ditangkap petugas karena kedapatan mencuri kucing jenis Angora dan dimasukkan ke dalam PLAT, hanya neneknya saja yang kerap menjenguknya. 
 
RD tamatan SD. Itupun hanya sampai bangku kelas dua. Suara Pemred melihat ia tergagap-gagap saat membaca ulang hasil BAPnya. 
 
Begitu juga dengan WR. Meskipun kelahiran Kota Pontianak, namun ia besar di pulau Jawa. WR kembali lagi ke Pontianak baru satu tahun belakangan. Berdasarkan cerita yang disimak Suara Pemred, WR adalah korban dari keadaan rumah tangga yang kurang kondusif. 
 
Di Pontianak, ia tinggal bersama ayahnya. Sementara ibunya, tinggal di pulau Jawa dengan saudara kandung satu-satunya. 
 
"Kamek datang ke sini (Pontianak) biar Mamak tahu macam mana keadaan kamek kalau bapak sama mamak kamek kurang akur," ujarnya. 
 
Dia dimasukkan ke dalam PLAT karena aksi membobol sebuah counter handphone yang diketahui oleh pemiliknya, saat ia memposting hasil curiannya di media sosial. 
 
"Hal ini menyedihkan dan memprihatinkan. KPPAD akan tetap memberikan pendampingan karena pada hakikatnya ketika anak menjadi pelaku, dia juga akan menjadi korban seperti yang saya sebutkan sebelumnya," pungkas Alik.

Dinsos Membantah
 
Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak, Aswin Djafar membantah mengenai status Ramadhan. Walaupun tak punya laporan kepolisian, namun dengan fenomena Ramadhan yang kerap ketangkap Satpol PP sudah bisa jadi dasar Ramadhan dimasukkan ke dalam PLAT sebagai Anak Berhadapan Hukum (ABH). 
 
"Dengan demikian kita (Dinsos Kota Pontianak) bina. Anak ini berhadapan dengan hukum, tapi tidak di ranah kepolisian, tapi di Satpol PP. Kita bina karena kan anak di bawah umur," ujarnya. 
 
Kata dia, Ramadhan sudah kerap diamankan oleh petugas Satpol PP berdasar pengakuan Ramadhan terhadap Satpol PP Pontianak bahwa ia sering mengambil handphone di dalam masjid atas suruhan orang lain. 
 
Dari hasil penjualan barang curian itu, kata Aswin, sebagian diberikan ke orang yang menyuruhnya dan sebagian lagi digunakannya untuk mengonsumsi narkoba. 

Pembinaan yang dimaksud Aswin adalah di dalam PLAT anak-anak akan dibimbing salat dan mengaji oleh seorang ustaz. Tak hanya itu, di PLAT pun sudah disiapkan tim yang masing-masing bertugas sebagai konsuler serta psikolog. 

Dia mengklaim bahwa total petugas jaga di dalam PLAT sebanyak enam orang dengan pembagian shift dua orang tiga kali shift. 
 
"Satu shift saya bagi dua-dua. Dalam satu hari tiga kali shift. Delapan jam-delapan jam," ungkapnya. 

Tongkosong
 
Keterangan Aswin terkesan tongkosong saat dibandingkan dengan keterangan RD dan WR. Aktifitas mereka setiap hari dari pagi hingga malam tak dibina seperti yang dikatakan Aswin, terutama terkait dengan bimbingan konsuler dan psikolog. 
 
RD mengatakan bahwa dari pagi hingga malam aktifitas mereka hanya menonton, tidur-tiduran dan terkadang main tenis meja yang telah disediakan. Untuk jam salat selalu rutin dilaksanakan. Sementara itu, terdapat beberapa petugas yang akan mengajak mereka bermain gitar.
 
"Tapi ada yang cuma main-main hp, baring-baring di ruang depan (PLAT)," ujarnya. 
 
"Setiap hari kamek kayak gitu. Cuma nonton, baring-baring, kadang main pingpong (teis meja)," ungkap RD kepada Suara Pemred. 

Lantaran nyawa Ramadhan terenggut, Aswin menegaskan akan memecat satu petugas yang dianggapnya lalai dalam mengawasi anak-anak ketika sudah masuk dalam shift (pergantian/pergeseran) jaga .  
 
"Kita akan pecat petugas tersebut. Satu orang," tegasnya. 
 
Sementara itu, kakak Ramadhan, Elmia tak kuasa menahan tangis saat mengetahui bahwa adiknya meninggal akibat dugaan penganiayaan. Dirinya bercerita bahwa semasa hidup, Ramadhan dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul. Walaupun memiliki keterbatasan fisik, namun banyak orang mengenal Ramadhan. 
 
"Dia (Ramadhan) baru keluar gang jak udah hilang. Banyak yang kenal dia karena dia tu mudah bergaul dengan orang lain," ungkapnya. 
 
Elmia mengakui bahwa adiknya tersebut memang tidak betah berdiam di rumah. Meskipun sudah dilarang keluar, namun Ramadhan selalu mengabaikan larangan tersebut. Ramadhan sudah terbiasa dengan dunia luar. Itu yang membuatnya betah di luar. 
 
Kata Elmia, pihak keluarga dua minggu terakhir memang tidak mendapat kabar keberadaan Ramadhan. Namun beberapa waktu lalu, ada petugas yang menyampaikan kepada pihak keluarga bahwa Ramadhan telah dititipkan ke PLAT. 
 
"Rencananya Senin (29/7) ini kami mau jenguk dia (Ramadhan) ke sana (PLAT)," kata Elmia menangis. 

Petugas Jaga Cuek
 
Kepolisian menemukan bahwa di PLAT Kota Pontianak tidak dilengkapi dengan CCTV (kamera pengawas), sehingga dalam menyelidiki kasus ini pihak kepolisian akan menyingkronkan temuan di lokasi kejadian dan alibi saksi dan pelaku terkait kasus kematian Ramadhan.
 
"Nanti nunggu perkembangan lebih lanjut. Kita akan dalami karena di dalam PLAT seharusnya ada CCTV, tapi setelah kita cek ternyata tidak ada. Sehingga antara peristiwa yang terjadi serta petunjuk dan alibi disinkronkan sehingga didapatkan kecocokan," ujar Kapolsek Pontianak Kota, Sugiono. 
 
Sebelumnya, dia menerangkan bahwa di PLAT tersebut dihuni oleh enam orang ABH, terdiri dari lima laki-laki dan satu orang perempuan. Mendapatkan informasi penganiayaan tersebut, pihaknya langsung mengambil tindakan mengamankan lima penghuni tersebut guna menggali informasi. 
 
"Ternyata dari lima itu, dua yang melakukan penganiayaan yaitu RD sama WR," ungkapnya. 
 
Saat ini, kedua pelaku telah di bawah pengawasan Polsek Pontianak Kota dan akan diproses secara prosedural sesuai petunjuk Kapolresta Pontianak kota. 
 
"Kita lengkapi administrasi penyidikan perintah kapolresta, jika sudah semuanya maka dilimpahkan ke Polresta Pontianak," tuturnya. 
 
Sugiono menjelaskan sebetulnya Ramadhan bukanlah anak yang berhadapan dengan hukum, hanya saja ia dititipkan oleh Dinas Sosial Kota Pontianak.
 
Dia mengatakan bahwa anak yang memiliki kebutuhan khusus ini dikeroyok oleh dua orang ABH berinisial RD dan WR, pelaku pencurian. Korban dianiaya hingga meninggal dunia lantaran tidak menuruti kemauan pelaku agar memijit badannya. 
 
Korban, kata Sugiono, menolak karena memiliki keterbatasan, namun kedua pelaku justru marah kemudian terjadilah penganiayaan tersebut. 
 
"Dia (korban) tidak mau akhirnya terjadilah kemarahan RD dan dibantu oleh WR. Kemudian saat itu penganiayaan pertama sudah dilerai petugas, namun terjadi lagi," ungkapnya. 
 
Pada pengeroyokan kedua, disampaikan Sugiono di luar pantauan petugas karena menganggap permasalahan antara pelaku dan korban telah selesai. 
 
"Petugas pun entah kemana, kita tidak tahu," ujarnya. 
 
Usai pengeroyokan itu, kata dia, tidak ada perawatan oleh petugas PLAT. Setelah pukul 20.00 wib barulah korban dibawa ke RSUD kota Pontianak. Sayangnya, korban dinyatakan medis meninggal dunia. 
 
Saat ini setidaknya tiga orang saksi telah diperiksa, salah satunya adalah pelapor dari dinas penitipan dari petugas yang di PLAT dan dari salah satu anak yang tinggal di PLAT. 
 
"Sesuai petunjuk Kapolresta, sesudah dilakukan sesuai prosedural administtasi penyidikan nanti baru dilimpahkan," tutupnya kemarin. 
 
Cek Penyebab Kematian

Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menegaskan, PLAT mestinya menjadi tempat anak-anak ABH lebih baik, bukan justru sebaliknya. Apalagi gedung PLAT tersebut terhitung masih baru dan kokoh. Artinya, yang menjadi permasalahan adalah di manajemen pengelolaan PLAT itu sendiri. 
 
Berangkat hal ini, pihaknya akan melakukan kajian terkait kelayakan PLAT untuk penitipan anak-anak. 

"Ini akan menjadi kajian kita. PLAT seharusnya membina anak menjadi lebih baik," ucapnya. 
 
Berdasarkan informasi sementara yang ia dapatkan, kasus ini terjadi akibat adanya keterlambatan petugas pada saat pergantian shift. Di celah itu, terjadilah perkelahian sesama anak. 
 
"Informasi dari kadis sosial adanya perkelahian pada saat pergantian shift. Kita akan melakukan pengecekan penyebab kematian korban," tutupnya. (sms/bah)