Jumat, 22 November 2019


Gebby Vesta Tersangka

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 27909
Gebby Vesta Tersangka

net

PONTIANAK, SP - Sidang putusan kasus dugaan pelanggaran Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dengan terdakwa May Debbyta binti Daeng Yappe alias Gebby Vesta tinggal menunggu hari. Adapun nomor Perkara: 488/Pid.Sus/2019/PN Ptk. Sidang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Klas I Pontianak, Jalan Sultan Abdurrahman Nomor 89, Selasa (6/8).  

Sebelumnya, publik Pontianak beberapa waktu yang lalu sempat dihebohkan dengan postingan DJ Gebby Vesta yang mengamuk karena merasa dihina oleh Makeup Artist, Liyan Mirzani.  

Insiden tersebut terjadi sekitar Desember 2017 pukul 20.00 WIB atau setidak-tidaknya pada tahun 2017, bertempat di Apartement Mediterania Palace Tower B 13 CH Kemayoran Jakarta Pusat.  

Kemudian hari, Gebby sempat menemui Liyan saat sedang berada di sebuah restoran yang ada di Jalan Ahmad Yani Pontianak, Selasa (5/12) malam.  

Gebby dilaporkan oleh Lian Mirzani ke Polda Kalbar, karena diduga memposting foto Liyan di akun media sosialnya yang dianggap sebagai hatespeach.
Selain menjadi perhatian warga, kasus ini juga menarik memantik seorang pengacara muda asal Kota Pontianak Ridho Fathant, SH untuk menjadi kuasa hukum korban Liyan Mirzani.

Diketahui, Gebby kerap dilaporkan ke pihak kepolisian, dikarenakan perilaku negatifnya, namun tidak sepenuhnya laporan diproses hingga persidangan. Dalam persidangan, Liyan mengklarifikasi tuduhan Gebby terhadap dirinya dihadapan Hakim.  Gebby yang mengunggah foto masa lalu dirinya dengan suami, dan (kata- kata negatif atau yang kurang baik didepan umum), sehingga membuat malu dirinya di mata keluarga dan teman-teman.   

"Saat itu. Satu persatu orang yang tidak senang dengan saya ikut mengirimkan foto- foto masa lalu saya, agar diupload Geby, tujuannya untuk menjatuhkan saya," Liyan.  

"Ditambah hujatan follower yang tidak mengerti hal yang sebenarnya terjadi. Semuanya hanya memancing emosi saya dan suami," ungkapnya.
 

Sementara itu, salah seorang saksi yang juga dihadirkan ke persidangan beberapa waktu lalu, YY mengatakan, bahwa dirinya sama sekali tidak mengenal terdakwa sama sekali. Dirinya heran, mengapa foto dirinya dengan korban Liyan Mirzani bisa sampai didapati oleh Gebby, kemudian ikut disebarkan di media sosial.
 

Menurut Saksi YY, foto dirinya bersama korban Liyan Mirzani, adalah foto yang diambil pada tahun 2017, yaitu foto semasa masih remaja, waktu masih sekolah di SLTA. Saksi merasa foto tersebut telah diedit oleh terdakwa.  

"Saya tidak tahu dari mana Gebby mendapatkan foto-foto dirinya," ungkapnya.   

Saksi lainnya, RM mangatakan bahwa, apa yang dilakukan Gebby Vesta yang telah merugikan dirinya dengan membuka aib masa lalunya waktu bersama Liyan. Menurut dirinya, bahwa Gebby Vesta telah salah arah, dengan menuduh Liyan yang menyebarkan foto Gebby ke Medsos.  

Berdasarkan pengakuan Liyan sendiri. Menurut RM itu merupakan ulah Hater yang membenci Gebby Vesta. 
 

"Akibat postingan tersebut, akhirnya Gebby merasa sakit hati dan membalas, dengan menyebar kan foto-foto make up artis Liyan Mirzani, suami dan Kawan-kawan semasa muda serta membuat status yang tidak pantas kepada Liyan. Bahkan Gebby juga menebar ancaman akan membuat malu Liyan Mirzani di muka umum," ungkapnya. 
 

"Ancaman ternyata tidak main-main, sehingga pada bulan Desember 2017 terjadilah perbuatan yang tidak menyenangkan tersebut, di Baku Saprahan Satsiun TVRI. Gebby benar-benar membuat malu Liyan," tambahnya.   

Atas perbuatan terdakwa Gebby Vesta, diancam pidana dalam Pasal 45A ayat (3) Jo Pasal 27 ayat (3) UU No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE.  (sms/rif/bob)
   

Media Sosial Bak Pisau Tajam

Penggunaan media sosial saat ini bak pisau tajam. Jika digunakan sesuai dengan kebutuhan, maka akan berujung manfaat. Jika tidak, siap-siap saja masuk dalam kurungan.

Lahirnya UU ITE adalah upaya untuk mengatur berbagai perlindungan hukum atas kegiatan yang memanfaatkan internet sebagai media, baik transaksi maupun pemanfaatan informasi. Tak hanya itu, dalam undang-undang ini juga diatur berbagai ancaman hukuman bagi kejahatan melalui internet.

Di Kalbar, khususnya di Kota Pontianak sejumlah orang telah dilaporkan ke kepolisian akibat dugaan pelanggaran undang-undang ITE. Misalnya kasus yang menjerat selebgram Gebby Vesta. Gebby dilaporkan oleh Lian Mirzani ke Polda Kalbar karena diduga memposting foto Lian di akun media sosialnya yang dianggap Lian sebagai hatespeach.


Kasus Lyan dan Gebby bukanlah satu-satunya, belum lama ini Direktorat Kriminal Khusus Polda Kalbar  juga pernah mengamankan satu orang warga Kubu Raya berinisial S alias BA lantaran menyebarkan berita bohong atau hoaks tentang Kapolri, Tito Karnavian. 

Postingan yang ia kirim pada Rabu (3/7) lalu di akun sosial media facebook itu memuat pemberitaan hoaks dari sebuah portal berita online terkait dengan kasus wanita yang masuk ke dalam Masjid Munawarah, kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (30/6) lalu. 


Atas postingan itu, S alias BA kembali membagikan pemberitaan itu dengan memberikan caption 'cobe gak babi dibawa ke rumah die ni. Kire-kire marah gak ke. Kan babi juga ciptaan Allah SWT,' tulisnya yang ditujukan kepada Kapolri. 

Karena perbuatan, S alias BA terancam dikenakan  pasal 45A ayat (1), jo Pasal 28 ayat (1) UU No.19/2016 tentang perubahan UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Di Indonesia, kasus-kasus perundungan Undang-Undang ITE telah banyak menjerat tersangka.

Misalnya saja kasus Galih Ginanjar yang dilaporkan oleh mantan istrinya Fairuz A Rafiq, karena diduga melakukan pencemaran nama baik atas ucapannya dalam sebuah akun YouTube.

Selain Galih, Fairuz juga melaporkan Rey Utami dan Pablo Benua yang diduga memiliki akun YouTube tersebut. Laporan yang dibuat Fairuz karena Galih melontarkan pernyataan bernada negatif terkait organ intim Fairuz. Dia menilai, pernyataan itu telah melecehkan Fairuz sebagai perempuan.

Atas perbuatannya, ketiganya disangkakan Pasal 27 ayat 1, Pasal 27 ayat 3, juncto Pasal 45 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Kemudian, Pasal 310 dan Pasal 311 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), dengan ancaman hukuman di atas enam tahun penjara.

Musisi tahah air Ahmad Dhani juga divonis hukuman penjara satu tahun enam bulan atas dakwaan melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) atas twitnya pada 2017 yang dinilai menyebarkan kebencian dan permusuhan. (sms/bob)