Rabu, 16 Oktober 2019


Predator Seksual di Rumah Ibadah

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 26980
Predator Seksual di Rumah Ibadah

Ilustrasi

PONTIANAK, SP – Predator seksual tak peduli tempat. Di rumah ibadah yang mestinya bebas dari laku kejahatan, tak luput jadi tempat melampiaskan hasrat kejinya. 

Kejahatan seksual ini terjadi di rumah ibadah di Jalan Tanjung Raya 2, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya pada April 2019 lalu. 

Pelaku, EW (32), warga Dusun Parit Mayor, Desa Kapur, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya itu mencabuli anak di bawah umur berinisial DD (17). 

"Terlapor (EW) melakukan hubungan badan terhadap anak kandung pelapor. Atas kejadian tersebut pelapor tidak terima dan melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Pontianak Kota guna penyidikan lebih lanjut," ungkap Kasat Reskrim Polresta Pontianak, AKP Rully Robinson, baru-baru ini. 

Sejak dilaporkan pada 31 Juli 2019, polisi bergerak memburu pelaku dan berhasil menangkap pelaku di rumahnya. 

Sebelumnya, Ayah korban, AM (50) mengetahui perbuatan bejat pelaku saat anak perempuannya melaporkan kejadian tersebut kepada dirinya. Ayah korban langsung melaporkan kejahatan seksual itu kepada Polresta Pontanak Kota. 

"AM melaporkan kasus tersebut ke Polresta Pontianak kota," ujar Rully. 

Menindaklanjuti laporan itu, kata Rully, timnya langsung melakukan penyelidikan terkait keberadaan pelaku. Dari hasil penyelidikan tersebut didapati bahwa pelaku tengah berada di kediamannya. 

"Pada Rabu 31 Juli 2019, personel Jatanras langsung melakukan penggerebekan dan penangkapan terhadap yang diduga pelaku tersebut," ujar Rully. 

Dari keterangan sementara, kata Rully, terduga pelaku mengakui perbuatannya. Atas perbuatannya tersebut, terduga pelaku akan dijerat pasal tentang perkara tindak pidana perbuatan persetubuhan anak di bawah umur dalam pasal 81 dan pasal 82 Undang-Undang RI nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang - Undang RI No 23 Tahun 2002 tetang Perlindungan Anak. 

Hukum Berat

Sementara Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kalbar, Husnan meminta aparat penegak hukum menjatuhkan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Dengan hukuman berat itu, diharapkan dapat memberikan efek jera kepada setiap pelaku. 

Hal pelik lain dalam kasus kejahatan seksual terhadap anak, selain kasus hukum, yakni ada persoalan lain yang juga harus menjadi perhatian khusus. Persolan tersebut di antaranya adalah bagaimana melakukan upaya pemulihan psikologis korban. 

“Maka, karena kemalangan yang diderita korban sangat besar, tidak ada kata lain selain memberatkan hukuman kepada pelaku kejahatan seksual terhadap anak,” tegas Husnan. 

Sementara Psikolog Anak, Maria Nofaola mengatakan, secara psikis anak yang mengalami pelecehan seksual atau korban dari pencabulan akan mengalami masalah mental. 

Seperti munculnya ketakutan, kecemasan, kehilangan rasa percaya diri, perasaan bersalah atau berdosa, citra dirinya dan konsep dirinya menjadi negatif. 

Kata dia, jika hal ini tidak ditangani dengan baik, akibatnya bisa buruk bagi mental anak. 

"Bila mentalnya bermasalah, perilakunya juga akan buruk atau bermasalah," tutupnya. (sms/bah)

Perketat Pergaulan Anak 

Pergaulan anak saat ini harus diperketat oleh orangtua. Pasalnya, fenomena saat ini justru orang-orang terdekat yang paling berbahaya bagi anak-anak. 

"Ada bapak mencabuli anak kandungnya, ada paman memerkosa keponakannya hingga hamil," ungkap seorang bapak beranak tiga, Teo Rikhie. 

Fenomena semacam ini, kata dia, menunjukkan bahwa ada permasalahan sosial di lingkungan masyarakat, terutama di dalam lingkungan keluarga. Keluarga yang seharusnya menjadi pengalaman pertama untuk anak-anak belajar, justru dirusak masa depannya. 

Pergaulan yang dimaksud Teo bukan hanya perkara dengan siapa anak berkomunikasi, namun juga bagaimana lingkungan itu memberi efek terhadap keseharian anak. 

Kontrol orangtua bukan berarti membatasi ruang gerak anak, namun lebih ke pengawasan. 

Tak hanya itu, anak-anak juga penting untuk diberi edukasi terkait dengan seksual. Hal ini menjadi penting agar anak-anak menjadi paham apa dampak terhadap pergaulan yang terlalu bebas. (sms/bah)